PADEK.JAWAPOS.COM -- Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola kerja industri media massa. Di tengah derasnya arus informasi, media dituntut mampu beradaptasi melalui penyajian berita secara multiplatform tanpa mengabaikan prinsip dasar jurnalistik, yakni akurasi dan verifikasi informasi.
Hal tersebut disampaikan Pemimpin Redaksi Padang Ekspres, Tandri Eka Putra, saat menjadi narasumber dalam Program KABA PADEK Sore, Senin (15/6) yang dipandu host Febi Tri Lianti. Dalam kesempatan itu, Tandri membahas tantangan dan strategi media dalam menghadapi transformasi digital.
Menurut Tandri, jika dahulu media massa hanya mengandalkan koran cetak dengan ruang publikasi yang terbatas, kini perusahaan pers harus hadir melalui berbagai platform, mulai dari media cetak, portal berita daring, media sosial, hingga konten audio visual.
“Dulu medium kita terbatas. Sekarang media berkembang sangat pesat. Satu media bisa hadir di semua platform. Ini merupakan konsekuensi dari perkembangan zaman yang harus diikuti oleh perusahaan pers,” ujarnya.
Meski demikian, Tandri menegaskan bahwa media arus utama tetap terikat oleh Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Oleh karena itu, setiap informasi yang dipublikasikan harus melalui proses verifikasi yang ketat.
Ia menilai tantangan terbesar dalam sistem pemberitaan multiplatform adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan penyampaian informasi dengan kualitas jurnalistik.
“Ada wartawan yang harus melaporkan peristiwa secara langsung. Di situ perlu pengaturan yang baik, mulai dari kecepatan pelaporan, tujuan penyebaran informasi, hingga siapa yang bertanggung jawab terhadap isi berita tersebut,” jelasnya.
Tandri mengakui bahwa kehadiran media digital telah membuat masyarakat lebih cepat memperoleh informasi. Selain itu, audiens kini dapat memberikan respons secara langsung terhadap berita yang disajikan.
Dalam menjalankan sistem multiplatform, Padang Ekspres tetap menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga standar kerja jurnalistik. Menurut Tandri, profesi wartawan saat ini telah berkembang menjadi lebih kompleks. Seorang jurnalis tidak hanya dituntut mampu menulis berita, tetapi juga dapat menjadi presenter, pembuat konten multimedia, hingga memahami dasar-dasar desain visual.
Meski demikian, reporter tetap menjadi ujung tombak dalam proses pengumpulan informasi di lapangan. Setiap informasi yang diperoleh harus dipastikan kebenarannya sebelum dipublikasikan kepada masyarakat.
“Tidak bisa seenaknya melaporkan suatu peristiwa. Jika ada informasi yang diragukan, media harus melakukan pengecekan ulang. Reporter memang dituntut serba bisa, tetapi tetap berada di bawah kendali redaktur,” tegasnya.
Untuk menjaga kualitas pemberitaan, Padang Ekspres menerapkan sistem penyuntingan berlapis. Setiap naskah yang masuk diperiksa oleh redaktur guna memastikan kelengkapan unsur 5W+1H, keseimbangan informasi, kesesuaian data, serta penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah jurnalistik.
Ia menambahkan, redaktur memiliki peran penting sebagai pengendali mutu pemberitaan. Jika ditemukan kekeliruan dalam informasi yang telah dipublikasikan, media wajib melakukan koreksi sesuai mekanisme yang berlaku.
Selain mengandalkan wartawan tetap, Padang Ekspres juga membuka ruang partisipasi bagi masyarakat dalam penyampaian informasi melalui berbagai program kontributor.
“Kami memiliki kontributor bebas, kontributor segmentasi seperti guru dan nagari, serta informasi dari netizen. Siapa pun dapat mengirimkan informasi atau tulisan yang nantinya akan kami kembangkan menjadi berita,” ujarnya.
Masyarakat juga dapat menyampaikan keluhan atau laporan melalui program Lapor Padek dengan menghubungi nomor 0811666438.
Sebagai upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, Padang Ekspres turut memberikan pelatihan jurnalistik kepada seluruh karyawan dari berbagai divisi. Langkah ini dilakukan agar informasi awal terkait suatu peristiwa dapat segera diperoleh sebelum reporter tiba di lokasi kejadian.
Terkait eksistensi media cetak di era digital, Tandri menilai koran masih memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Menurutnya, media cetak tetap dibutuhkan karena mampu menyajikan informasi yang lebih mendalam, terkurasi, dan memiliki tingkat kredibilitas tinggi.
“Media cetak harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bukan berarti meninggalkan koran, tetapi memperkuat semua platform yang dimiliki. Koran tetap hadir dengan laporan yang lebih lengkap dan mendalam, sementara media digital mengutamakan kecepatan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, strategi yang diterapkan media cetak saat ini adalah melakukan konvergensi media dengan mengintegrasikan berbagai platform dalam satu ekosistem pemberitaan. Strategi tersebut memungkinkan informasi menjangkau berbagai segmen pembaca sesuai dengan kebiasaan konsumsi media masing-masing.
Selain itu, inovasi konten yang informatif, edukatif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mempertahankan relevansi media sekaligus menjaga kepercayaan publik. (sel)
Editor : Adriyanto Syafril