Surau Rumah Gadang di Lolo Gunuangsariak, Bukik Ase, Kecamatan Kuranji, Sabtu (18/7), menghadirkan suasana yang berbeda dari hari-hari biasanya. Ruang yang lazim dipenuhi lantunan ayat suci Al Quran dan kegiatan keagamaan itu, siang itu menjelma menjadi tempat bertemunya ingatan, harapan, dan tekad masyarakat Minangkabau untuk menjaga warisan leluhur.
Laporan : Jufri Jao
Ninik mamak, bundo kanduang, serta anak kemenakan Suku Jambak duduk bersisian dalam satu majelis. Mereka tidak hanya menjadi saksi pelantikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Masyarakat Adat Minang (IMAM) Suku Jambak yang dipimpin Dewan Pembina Pusat IMAM Suku Jambak, Rosihan Anwar Dt Basa.
Lebih dari itu, mereka hadir untuk meneguhkan kembali ikrar bahwa adat tidak boleh berhenti sebagai kenangan, melainkan harus terus hidup dalam setiap sikap, perilaku, dan perjalanan zaman.
Di tengah derasnya perubahan, kegelisahan terhadap memudarnya nilai-nilai adat semakin terasa. Petuah para leluhur masih kerap dilafalkan, tetapi tidak selalu menjelma menjadi laku hidup. Padahal, bagi masyarakat Minangkabau, adat bukan sekadar tradisi yang diwariskan, melainkan pedoman yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta.
Sejak dahulu, falsafah Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, syarak mangato, adat mamakai menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau.
Dewan Penasihat Pusat IMAM Suku Jambak, Rosihan Anwar Dt Basa menegaskan, pelantikan DPP IMAM bukan sekadar membentuk kepengurusan baru. Lebih dari itu, organisasi ini dipersiapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai adat di tengah masyarakat.
“Maka untuk itulah kita berkumpul di sini, melantik pengurus DPP IMAM yang akan menjadi ujung tombak dalam mengawal Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, syarak mangato, adat mamakai,” ujarnya.
Menurut Rosihan, keberadaan DPP IMAM diharapkan mampu menghidupkan kembali adat nan diadatkan maupun adat nan sabana adat, sehingga adat tidak berhenti sebagai warisan budaya, melainkan menjadi pedoman nyata bagi anak kemenakan dalam menjalani kehidupan.
Semangat yang sama disampaikan Ketua Umum IMAM Suku Jambak, Suardi Z Dt Garang. Baginya, membangun nagari tidak cukup hanya dengan mendirikan jalan, jembatan, atau bangunan fisik. Yang jauh lebih penting ialah membangun manusia yang memahami akar budayanya.
Ia mengingatkan kembali petuah lama yang telah menjadi pegangan masyarakat Minangkabau.
Bagi Suardi, petuah itu menggambarkan harmoni peran dalam kehidupan bermasyarakat. Kampung menjadi baik karena kebijaksanaan para orang tua. Nagari berdiri tegak karena kepemimpinan penghulu. Kehidupan sosial tumbuh oleh semangat generasi muda. Sementara rumah menjadi tempat lahirnya generasi berkarakter melalui didikan Bundo Kanduang.
Karena itu, menurutnya, revitalisasi adat tidak dapat diserahkan hanya kepada lembaga adat. Pekerjaan besar itu harus dimulai dari keluarga, diperkuat oleh keteladanan ninik mamak, dan ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ninik mamak itu berhati lapang, berkepala dingin, dan beralam lebar. Bundo harus tahu jo gendeang, ereng, dan bayang. Inilah yang akan kita revitalisasi nanti,” ujarnya.
Suardi menambahkan, IMAM Suku Jambak memiliki landasan konstitusional yang mengacu pada ketentuan pemerintah mengenai pengakuan masyarakat adat serta pelestarian budaya.
Berpijak pada regulasi tersebut, organisasi berkomitmen menjadikan pelestarian adat sebagai gerakan nyata, bukan sekadar wacana.
“Fokus kami adalah melestarikan sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai budaya kepada anak kemenakan agar mereka memahami raso jo pareso dan tau nan ampek. Mereka juga diharapkan memahami makna tau ereng jo gendeang, tau jo bayang kato sampai, alun takilek alah takalam, serta malayok ikan di lawuik alah tau jantan jo batino,” tegasnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal IMAM Suku Jambak, Jayusman St Bandaro, mengatakan seluruh langkah organisasi diarahkan untuk kepentingan anak kemenakan.
“Sekecil apa pun gagasan yang kita miliki akan sangat bermanfaat bagi masa depan anak kemenakan. Semua program akan diserahkan kepada ahlinya. Yang terpenting, kita memiliki tujuan yang sama, yaitu memajukan dan membesarkan IMAM,” ujarnya.
Ketua Harian IMAM Suku Jambak, Hendra St Mudo, juga menegaskan bahwa pembinaan anak kemenakan menjadi prioritas utama organisasi. Menurutnya, tidak sedikit generasi muda yang mulai menjauh dari nilai-nilai adat sehingga perlu diarahkan kembali.
Ia menambahkan, kepengurusan IMAM kini telah terbentuk hingga tingkat DPW dan DPD Kota Padang. Dalam waktu dekat, organisasi juga akan membentuk DPD di Solok Selatan dan Pariaman. Sementara itu, sejumlah DPC telah lebih dahulu menjalankan berbagai program pembinaan.
Pelantikan DPP IMAM Suku Jambak akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni pergantian kepengurusan. Dari Surau Rumah Gadang, sebuah ikhtiar kembali dinyalakan—ikhtiar menjaga agar adat tetap hidup di tengah masyarakat yang terus berubah.
Sebab adat tidak akan lestari hanya karena sering disebut dalam petuah. Adat akan tetap hidup ketika diwariskan melalui keteladanan, dipraktikkan dalam keseharian, dan dijaga bersama sebagai penuntun langkah anak kemenakan menuju masa depan. (***)
Editor : Adriyanto Syafril