Hospitality masih jadi PR Pariwisata, Kasus Dugaan Perundungan Wisatawan di Pantai Padang

Suyudi Adri Pratama • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 08:05 WIB
Ilustrasi AI.
Ilustrasi AI.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Video viral yang memperlihatkan duga­an aksi perundungan oleh sejumlah anak kampung (akamsi) terhadap seorang pengunjung di kawasan Pantai Padang menjadi perha­tian publik.

Dalam video yang beredar di media sosial, pengunjung tersebut diduga menjadi sasaran ejekan dengan sebutan “boti”.

Peristiwa tersebut me­mi­cu beragam tanggapan dari masyarakat karena dinilai berpotensi mencoreng citra pariwisata Kota Padang. Selain itu, kejadian tersebut kembal­i mengangkat persoalan me­ngenai pentingnya bu­daya hospitality atau keramahan masyarakat terhadap wisa­tawan di destinasi wisata.

Pengamat Pariwisata Su­matera Barat, Sari Lenggo­geni­, mengatakan bahwa terlepas dari bagaimana kronologi lengkap kejadian ter­sebut, persoalan yang muncul tetap berkaitan dengan sikap masyarakat dalam me­nyam­but dan memperlakukan wisatawan.

“Kalau melihat video yang beredar, terlepas dari bagaimana kronologi awal­nya­, persoalan yang muncul tetap berkaitan dengan hospitality. Ini merupakan isu klasik yang sudah lama menjadi pekerjaan rumah pariwisata Sumatera Barat,” ujar­nya, Rabu (22/7).

Menurut Sari, persoalan keramahan terhadap wisata­wan bukan merupakan isu baru di Sumatera Barat. Selama bertahun-tahun, berbagai persoalan yang muncul di sejumlah destinasi wisata masih berkaitan dengan perilaku sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung.

Padahal, lanjutnya, ma­syar­akat Minangkabau dikenal memiliki budaya menghormati tamu. Namun da­lam praktiknya, masih terdapat sebagian oknum yang me­lakukan tindakan tanpa mempertimbangkan dam­paknya terhadap pengalaman wisatawan.

Ia menilai berbagai faktor sosial turut memengaruhi perilaku masyarakat sehingga terkadang muncul tindakan yang menimbulkan kesan kurang ramah terhadap wisatawan.

Menurut Sari, pengalaman negatif yang dialami wisatawan dapat berdampak pada citra destinasi dan me­ngu­rangi keinginan mereka untuk kembali berkunjung.

“Ketika wisatawan merasa tidak nyaman, maka pe­lua­ng repeat visit akan menurun. Mereka bisa saja memilih tidak datang lagi karena pengalaman buruk yang di­ra­sakan selama berada di destinasi wisata,” katanya.

Sari menjelaskan bahwa keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur maupun fasilitas pendukung, tetapi juga diten­tu­kan oleh kualitas sumber daya manusia dan perilaku masya­rakat di sekitar destinasi.

Karena itu, ia mendorong pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan pembinaan kepada masyarakat, khususnya kelompok pemuda yang berinteraksi langsung dengan wisatawan.

Menurutnya, pelatihan mengenai pelayanan wisata (hospitality) perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memahami pe­n­tingnya menciptakan pengalaman positif bagi setiap pengunjung.

Selain itu, Sari juga mengusulkan penguatan peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) maupun komunitas pemuda pariwisata di setiap destinasi wisata.

Ia mencontohkan sejumlah daerah tujuan wisata se­perti Bali dan Yogyakarta yang telah memiliki kelompok ma­sya­rakat yang aktif menjaga kenyamanan wisa­tawan seka­ligus mengingatkan pihak-pihak yang berpotensi mengga­nggu citra destinasi.

Menurut Sari, kebe­ra­da­an tata kelola yang jelas serta keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga kawasan wi­sata menjadi salah satu solusi­ untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Camat Padang Barat Sam­paikan Permohonan Maaf 

Menanggapi viralnya vi­deo tersebut, Camat Padang Barat, Dico Riva Utama, me­nyam­paikan permohonan maaf kepada pengunjung maupun wi­satawan yang merasa terganggu akibat kejadian tersebut.

“Atas nama Pemerintah Kecamatan Padang Barat, kami sangat menyayangkan dan memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh pengunjung atau wisatawan kita pada Minggu sore kemarin,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Pantai Padang merupakan salah satu ikon pariwisata Kota Padang sehingga ke­amanan dan kenyamanan setiap pengunjung harus menjadi perhatian bersama.

Dico menjelaskan, setelah video tersebut menjadi perhatian publik, pihak kecamatan segera berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan, RT, RW, serta tokoh ma­syarakat melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).

“Sejak video tersebut terpantau, kami sudah menginstruksikan pihak kelurahan bersama RT/RW dan tokoh ma­syarakat untuk turun langsu­ng mengidentifikasi kelompok pemuda tersebut,” katanya.

Menurut Dico, langkah yang ditempuh lebih m­e­ngede­pan­kan pendekatan pembinaan dan edukasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Ia menegaskan ma­sya­rakat, termasuk para pemuda di sekitar Pantai Padang, tetap diperbolehkan me­ma­n­­faat­kan ruang publik untuk berbagai kegiatan po­sitif seperti berolahraga maupun aktivitas sosial. Namun, kegiatan tersebut tidak boleh mengganggu kenyamanan pengunjung.

“Kita tegaskan kepada adik-adik kita di lingkungan sekitar, silakan berolahraga dan memanfaatkan ruang publik, namun harus tahu batas dan ruang. Jangan sampai aktivitas kita mengintimidasi atau merampas kenyamanan orang lain yang sedang berkunjung,” tegasnya.

Ke depan, Pemerintah Kecamatan Padang Barat akan memperkuat pengawasan di kawasan Pantai Padang melalui kolaborasi dengan pemerintah kelurahan, aparat keamanan, serta unsur masyarakat.

Selain itu, masyarakat dan wisatawan juga diimbau untuk segera melaporkan apabila menemukan tindakan yang mengganggu keamanan maupun ketertiban di kawasan wisata.

“Jika mendapati situasi yang tidak menyenangkan, merasa terancam, atau melihat gangguan ketertiban umum di kawasan wisata, silakan segera memanfaatkan kanal pengaduan resmi seperti layanan darurat Padang Sigap 112,” pungkas Dico. (yud)

 

Editor : Adriyanto Syafril
perundungan pengunjung hospitality pariwisata pariwisata sumatera barat video viral Pantai Padang pantai padang