PADEK.JAWAPOS.COM -- Video viral yang memperlihatkan dugaan aksi perundungan oleh sejumlah anak kampung (akamsi) terhadap seorang pengunjung di kawasan Pantai Padang menjadi perhatian publik.
Dalam video yang beredar di media sosial, pengunjung tersebut diduga menjadi sasaran ejekan dengan sebutan “boti”.
Peristiwa tersebut memicu beragam tanggapan dari masyarakat karena dinilai berpotensi mencoreng citra pariwisata Kota Padang. Selain itu, kejadian tersebut kembali mengangkat persoalan mengenai pentingnya budaya hospitality atau keramahan masyarakat terhadap wisatawan di destinasi wisata.
Pengamat Pariwisata Sumatera Barat, Sari Lenggogeni, mengatakan bahwa terlepas dari bagaimana kronologi lengkap kejadian tersebut, persoalan yang muncul tetap berkaitan dengan sikap masyarakat dalam menyambut dan memperlakukan wisatawan.
“Kalau melihat video yang beredar, terlepas dari bagaimana kronologi awalnya, persoalan yang muncul tetap berkaitan dengan hospitality. Ini merupakan isu klasik yang sudah lama menjadi pekerjaan rumah pariwisata Sumatera Barat,” ujarnya, Rabu (22/7).
Menurut Sari, persoalan keramahan terhadap wisatawan bukan merupakan isu baru di Sumatera Barat. Selama bertahun-tahun, berbagai persoalan yang muncul di sejumlah destinasi wisata masih berkaitan dengan perilaku sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung.
Padahal, lanjutnya, masyarakat Minangkabau dikenal memiliki budaya menghormati tamu. Namun dalam praktiknya, masih terdapat sebagian oknum yang melakukan tindakan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pengalaman wisatawan.
Ia menilai berbagai faktor sosial turut memengaruhi perilaku masyarakat sehingga terkadang muncul tindakan yang menimbulkan kesan kurang ramah terhadap wisatawan.
Menurut Sari, pengalaman negatif yang dialami wisatawan dapat berdampak pada citra destinasi dan mengurangi keinginan mereka untuk kembali berkunjung.
“Ketika wisatawan merasa tidak nyaman, maka peluang repeat visit akan menurun. Mereka bisa saja memilih tidak datang lagi karena pengalaman buruk yang dirasakan selama berada di destinasi wisata,” katanya.
Sari menjelaskan bahwa keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur maupun fasilitas pendukung, tetapi juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan perilaku masyarakat di sekitar destinasi.
Karena itu, ia mendorong pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan pembinaan kepada masyarakat, khususnya kelompok pemuda yang berinteraksi langsung dengan wisatawan.
Menurutnya, pelatihan mengenai pelayanan wisata (hospitality) perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memahami pentingnya menciptakan pengalaman positif bagi setiap pengunjung.
Selain itu, Sari juga mengusulkan penguatan peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) maupun komunitas pemuda pariwisata di setiap destinasi wisata.
Ia mencontohkan sejumlah daerah tujuan wisata seperti Bali dan Yogyakarta yang telah memiliki kelompok masyarakat yang aktif menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus mengingatkan pihak-pihak yang berpotensi mengganggu citra destinasi.
Menurut Sari, keberadaan tata kelola yang jelas serta keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga kawasan wisata menjadi salah satu solusi untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Camat Padang Barat Sampaikan Permohonan Maaf
Menanggapi viralnya video tersebut, Camat Padang Barat, Dico Riva Utama, menyampaikan permohonan maaf kepada pengunjung maupun wisatawan yang merasa terganggu akibat kejadian tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kecamatan Padang Barat, kami sangat menyayangkan dan memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh pengunjung atau wisatawan kita pada Minggu sore kemarin,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pantai Padang merupakan salah satu ikon pariwisata Kota Padang sehingga keamanan dan kenyamanan setiap pengunjung harus menjadi perhatian bersama.
Dico menjelaskan, setelah video tersebut menjadi perhatian publik, pihak kecamatan segera berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan, RT, RW, serta tokoh masyarakat melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).
“Sejak video tersebut terpantau, kami sudah menginstruksikan pihak kelurahan bersama RT/RW dan tokoh masyarakat untuk turun langsung mengidentifikasi kelompok pemuda tersebut,” katanya.
Menurut Dico, langkah yang ditempuh lebih mengedepankan pendekatan pembinaan dan edukasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Ia menegaskan masyarakat, termasuk para pemuda di sekitar Pantai Padang, tetap diperbolehkan memanfaatkan ruang publik untuk berbagai kegiatan positif seperti berolahraga maupun aktivitas sosial. Namun, kegiatan tersebut tidak boleh mengganggu kenyamanan pengunjung.
“Kita tegaskan kepada adik-adik kita di lingkungan sekitar, silakan berolahraga dan memanfaatkan ruang publik, namun harus tahu batas dan ruang. Jangan sampai aktivitas kita mengintimidasi atau merampas kenyamanan orang lain yang sedang berkunjung,” tegasnya.
Ke depan, Pemerintah Kecamatan Padang Barat akan memperkuat pengawasan di kawasan Pantai Padang melalui kolaborasi dengan pemerintah kelurahan, aparat keamanan, serta unsur masyarakat.
Selain itu, masyarakat dan wisatawan juga diimbau untuk segera melaporkan apabila menemukan tindakan yang mengganggu keamanan maupun ketertiban di kawasan wisata.
“Jika mendapati situasi yang tidak menyenangkan, merasa terancam, atau melihat gangguan ketertiban umum di kawasan wisata, silakan segera memanfaatkan kanal pengaduan resmi seperti layanan darurat Padang Sigap 112,” pungkas Dico. (yud)
Editor : Adriyanto Syafril