Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (1/4) ini menjadi ajang silaturahmi bagi mamak, cucu kemenakan, bundo kanduang, serta seluruh anggota pasukuan.
Pucuk Pimpinan Suku Mandahiliang, Jamhur Dt Jati, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan agenda tahunan yang selalu dilaksanakan setiap Idul Fitri.
Selain menjaga kekompakan keluarga besar, kegiatan ini juga bertujuan melestarikan nilai-nilai adat di tengah pesatnya perkembangan zaman.
"Ziarah Rumah Gadang adalah puncak dari rangkaian tradisi tahunan kami. Sebelumnya, ada kegiatan takbiran dan halalbihalal menyambut Ramadan. Kami berharap keluarga besar tetap solid dan tidak mudah terpengaruh oleh perkembangan teknologi yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjadikan teknologi sebagai alat yang mempermudah kehidupan tanpa melupakan etika, tata krama, dan sopan santun.
"Jangan salahgunakan media sosial. Adat adalah tentang bagaimana kita hidup dengan beretika," tambahnya.
Acara yang berlangsung di Rumah Gadang Suku Mandahiliang ini dihadiri oleh pucuk pimpinan suku, bundo kanduang, pemuda-pemudi, serta masyarakat adat.
Tradisi ini diawali dengan makan bajamba, yakni makan bersama dengan menu khas Ranah Minang seperti rendang, gulai ayam, dendeng, dan hidangan Lebaran lainnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan arahan dari niniak mamak suku dan ditutup dengan saling bermaaf-maafan.
Sementara itu, Wali Nagari Sikabau, Abdul Razak, menyebutkan bahwa tradisi serupa juga dilakukan oleh enam suku adat lainnya di nagari tersebut, yakni Suku Malayu, Suku Patapanag Ateh, Suku Patapang Bawuah, Suku Tigo Nini, Suku Piliang, dan Suku Mandahiliang.
Ia berharap momentum ini dapat semakin mempererat tali silaturahmi masyarakat Nagari Sikabau. "Saya berharap masyarakat dapat menjadikan Ziarah Rumah Gadang sebagai sarana untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan di bulan yang penuh berkah ini," ungkapnya. (ita)
Editor : Hendra Efison