Program ini diinisiasi oleh pemerintah nagari bersama kelompok sosial yang tergabung dalam Anak Nagari Panampuang. Dimulai dengan semangat bersih kampung jelang Ramadhan.
”Alhamdulillah, kegiatan ini tetap terpelihara hingga sekarang. Walaupun jadwalnya menyesuaikan kondisi, namun masyarakat memastikan goro terlaksana minimal sekali setiap bulan,” ujar Wali Nagari Panampuang, Etriwarmon.
Sejak awal pencanangan, partisipasi masyarakat cukup tinggi meski kadang pasang surut. Hal itu dianggap wajar karena setiap individu memiliki aktivitas berbeda. Namun secara umum, pemerintah nagari menilai semangat kebersamaan masyarakat tetap terjaga.
”Kami memberi apresiasi tinggi karena goro ini berhasil memelihara semangat kebersamaan demi kemajuan dan kenyamanan nagari. Saat ini, misalnya, masyarakat membersihkan jalan utama nagari di depan kantor nagari serta sejumlah jorong,” jelas Etriwarmon.
Dengan begitu, goro ini tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan solidaritas antarwarga.
Koordinator Goro Badunsanak Nagari Panampuang, Rahmat Iskandar, menegaskan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap kampung halaman, terutama masalah lingkungan.
Hingga kini, goro masih berjalan dimana menyesuaikan dengan momen seperti jelang Ramadhan, Lebaran, ataupun hari besar nasional.
Selain membersihkan jalan dan saluran air, masyarakat juga bergotong royong membuka jalan usaha tani. Semua kegiatan berlangsung murni atas swadaya masyarakat, baik yang tinggal di kampung maupun yang diperantauan. Hal ini karena dana nagari memiliki keterbatasan dalam penggunaan anggaran.
“Kami tidak ingin kegiatan terbentur regulasi yang justru merugikan pemerintah nagari. Karena itu, semua keputusan dibicarakan matang bersama pemerintahan nagari,” tegas Rahmat.
Ketua KAN Panampuang, I Dt Taan Kabasaran, menyampaikan apresiasi atas kekompakan masyarakat yang bersatu dengan pemerintah nagari. Menurutnya, goro badunsanak bukan sekadar kerja bakti, melainkan juga sarana merajut silaturahmi antarwarga.
”Melihat semangat kebersamaan ini, kami pun tidak tinggal diam. Kami hadir memberikan dukungan moril maupun materil. Suasana seramai ini terakhir terjadi di tahun 1980-an,” ungkapnya. (*)
Editor : Eri Mardinal