Suara knalpot motor tua terdengar memecah dingin sore di Nagari Sungai Rimbang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan berbatu yang licin selepas hujan tidak menghentikan laju kendaraan itu menuju sebuah mushala di ujung jorong.
Di boncengan belakang, dua dus buku diikat menggunakan tali karet. Sebagiannya dibungkus plastik bening agar tidak basah terkena gerimis. Sesampainya di halaman mushala, belasan anak yang sedari tadi menunggu langsung berlarian mendekat.
“Uda datang bawa buku!” teriak seorang anak sambil tersenyum lebar.
Pemuda berkacamata itu kemudian menurunkan satu per satu buku dari motornya.Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya menyimpan semangat yang sulit disembunyikan.
Namanya Abdul Rahman.
Di tengah rendahnya budaya baca dan derasnya arus digital yang mulai menjauhkan anak-anak dari buku, pemuda itu memilih jalan yang tidak banyak diminati membangun gerakan literasi dari kampungnya sendiri.
Perjalanan itu tidak mudah. Cemoohan, keraguan, hingga pandangan sebelah mata pernah menjadi bagian dari langkahnya. Namun Abdul Rahman percaya, perubahan tidak akan pernah datang jika semua orang memilih diam.
Dan semuanya dimulai dari sebuah motor tua dan setumpuk buku.
Bagi sebagian orang, perpustakaan mungkin hanya tempat meminjam buku.Namun di tangan Abdul Rahman, perpustakaan menjelma menjadi ruang belajar masyarakat, tempat budaya diwariskan, sekaligus ruang tumbuhnya harapan baru bagi generasi muda nagari.
Perjalanan itu mulai dirintis pada tahun 2023. Saat itu, ia aktif menjalankan kegiatan literasi dari sekolah tempatnya mengajar hingga ke jorong-jorong di Nagari Sungai Rimbang.
Ia datang bukan membawa janji besar, melainkan membawa buku bacaan dan semangat menumbuhkan budaya membaca dari bawah.
“Baca buku ndak akan merubah keadaan,” begitu kalimat yang pernah ia dengar dari sebagian orang.
Ada yang menganggap kegiatan literasi di kampung hanya pekerjaan sia-sia. Ada pula yang menilai semangatnya tidak akan bertahan lama. Namun Abdul Rahman memilih menjawab semua keraguan itu dengan kerja nyata.
Setiap pekan, Abdul Rahman berkeliling ke berbagai titik menggunakan sepeda motor. Ia membawa buku ke masjid, mushala, MDTA, dan sekolah-sekolah yang ada di nagari. Di mana ada anak-anak berkumpul, di situlah ia membuka lapak baca sederhana.
Kadang ia harus melewati jalan berlumpur selepas hujan. Kadang motornya mogok di tengah perjalanan. Bahkan tidak jarang buku-buku yang di bawa basah terkena gerimis.
Namun semua itu tidak pernah membuat langkahnya berhenti.
“Kadang capek juga, apalagi kalau hujan di jalan. Tapi setiap melihat anak-anak menunggu buku datang, rasa lelah itu hilang sendiri,” ujar Abdul Rahman.
Gerakan literasi keliling itu kemudian dikenal dengan nama Onda Santiang. Melalui program tersebut, Abdul Rahman bersama relawan membuka layanan baca di berbagai titik nagari. Anak-anak diajak membaca buku, mendengar dongeng, menonton film edukasi, hingga mengikuti kuis sederhana.
Saat ini, kegiatan tersebut telah menjangkau delapan jorong di Nagari Sungai Rimbang, ditambah nagari tetangga serta sekolah-sekolah di sekitar wilayah Kecamatan Suliki.
Suasana hangat sering terlihat ketika kegiatan berlangsung. Anak-anak duduk lesehan di lantai masjid atau mushala sambil memegang buku cerita bergambar. Sebagian masih terbata-bata mengeja kalimat, sementara yang lain mulai berani menceritakan kembali isi buku yang mereka baca
Bagi Abdul Rahman, pemandangan sederhana itu adalah harapan yang mulai tumbuh. “Yang penting anak-anak dekat dulu dengan buku. Kalau rasa suka itu sudah tumbuh, nanti mereka akan mencari ilmu sendiri,” katanya.
Tidak berhenti sampai di sana, Abdul Rahman juga melahirkan program Baguru Kapado Alam, sebuah kegiatan literasi berbasis alam dan budaya.
Melalui program itu, para pemustaka diajak membaca buku di ruang terbuka, makan bajamba bersama, memainkan permainan tradisional, hingga belajar memahami lingkungan sekitar.
Menurut Abdul Rahman, literasi tidak hanya soal membaca teks, tetapi juga memahami kehidupan dan menjaga hubungan dengan budaya sendiri.
Pemikiran itulah yang kemudian melahirkan Perpustakaan Alam Takambang Jadi Guru Nagari Sungai Rimbang pada tahun 2023.
Perpustakaan tersebut berlokasi di Jalan Raya Suliki–Tanjuang Bungo, tepat di samping Lapas Kelas III Suliki. Letaknya yang berada di tengah pusat nagari dan pusat kecamatan membuat perpustakaan itu mudah diakses masyarakat.
Nama perpustakaan diambil dari falsafah Minangkabau “alam takambang jadi guru”, yang mengandung makna bahwa alam dan kehidupan adalah sumber pembelajaran.
Kini, perpustakaan tersebut memiliki sekitar 1.500 koleksi buku yang sebagian di antaranya berasal dari bantuan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Berbagai koleksi itu mencakup buku cerita anak, pengetahuan umum, pendidikan, budaya, hingga literasi keagamaan yang banyak dibaca anak-anak dan masyarakat sekitar.
Dalam menjalankan aktivitasnya, perpustakaan didukung oleh empat petugas, termasuk kepala perpustakaan, serta 10 relawan yang berasal dari kalangan remaja dan pemuda nagari.
Mereka bekerja secara gotong royong menjalankan berbagai kegiatan literasi dan sosial di tengah masyarakat. Dari perpustakaan nagari itu, berbagai kegiatan sosial dan budaya mulai tumbuh.
Salah satunya adalah program Suluah Literasi Budaya, sebuah gerakan yang berupaya menghidupkan kembali nilai adat dan budaya Minangkabau di tengah generasi muda.
Melalui program tersebut, Abdul Rahman mengadakan pelatihan ba inai, alua pasambahan, hingga pembinaan adat salingka nagari dengan menghadirkan narasumber dari luar daerah.
Sebagian kegiatan dilakukan menggunakan biaya pribadi dan dukungan dari para dermawan.
“Kalau bukan kita yang menjaga budaya dan literasi di kampung, lalu siapa lagi?” ujarnya.
Perjuangan panjang itu perlahan mulai membuahkan hasil. Pada tahun 2023, Abdul Rahman dinobatkan sebagai Duta Baca Kabupaten Lima Puluh Kota periode 2023–2026 berkat konsistensinya menjalankan gerakan literasi di tengah masyarakat.
Prestasi itu kemudian disusul dengan pencapaiannya sebagai Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan tingkat Kabupaten Lima Puluh Kota dan tingkat Provinsi Sumatera Barat.
Puncaknya, pada tahun 2025, ia dipercaya mewakili Sumatera Barat pada ajang Pemilihan Pemuda Pelopor Desa Tingkat Nasional.
Bagi masyarakat Nagari Sungai Rimbang, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat menilai gerakan yang dilakukan Abdul Rahman telah membawa perubahan positif di tengah masyarakat. “Anak-anak sekarang mulai suka datang membaca. Mereka juga mulai aktif mengikuti kegiatan budaya. Itu yang paling terasa,” ujarnya.
Meski telah meraih berbagai penghargaan, Abdul Rahman tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Ia masih berkeliling membawa buku dengan sepeda motor, masih duduk bersama anak-anak di mushala dan surau, serta tetap membuka lapak baca sederhana di berbagai jorong.
“Prestasi itu bonus.Yang penting gerakan ini jangan sampai berhenti,” katanya.
Selain aktif mengembangkan gerakan literasi, Abdul Rahman juga menulis sejumlah karya berupa cerita anak, cerpen, dan puisi.Ia ingin anak-anak memiliki bacaan yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
“Anak-anak kampung juga perlu cerita tentang kampungnya sendiri,” ujarnya.
Tidak hanya itu, bersama tim pustakawan dan relawan, ia juga melahirkan inovasi baru berupa Batik Tabuah Larangan Sungai Rimbang yang terinspirasi dari identitas budaya lokal nagari. Saat ini, karya tersebut sedang dalam proses pengurusan Hak Kekayaan Intelektual.
Berbagai inovasi tersebut membawa Perpustakaan Alam Takambang Jadi Guru Nagari Sungai Rimbang mengikuti lomba perpustakaan terbaik tingkat Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Namun bagi Abdul Rahman, capaian terbesar bukanlah penghargaan ataupun lomba.
Capaian terbesar baginya adalah ketika anak-anak mulai mencintai buku dan berani bermimpi lebih tinggi.
Malam mulai turun di Nagari Sungai Rimbang.Lampu mushala menyala redup menemani anak-anak yang masih duduk membaca buku di lantai.
Di sudut ruangan, Abdul Rahman tampak merapikan kembali buku-buku yang akan dibawa pulang. Sesekali ia tersenyum melihat anak-anak berebut meminjam buku cerita. “Bang, minggu depan datang lagi, ya,” pinta seorang anak kecil sebelum pulang.
Abdul Rahman mengangguk pelan.
Mungkin apa yang dilakukannya hari ini belum mampu mengubah dunia dalam waktu singkat. Namun dari sebuah nagari kecil di Kabupaten Limapuluh Kota, ia telah membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan dengan ketulusan.
Dari motor tua dan setumpuk buku, seorang pemuda memilih menyalakan cahaya di tengah sunyi. Dan suluah itu kini terus hidup di jorong-jorong Nagari Sungai Rimbang. (*)
Kepala Perpustakaan Alam Takambang Jadi Guru Nagari Sungai Rimbang
Editor : Adriyanto Syafril