PADEK.JAWAPOS.COM - Isu kemunculan sosok yang disebut warga sebagai “pocong baladiang” belakangan meresahkan masyarakat di sejumlah kawasan di Lubukbasung, Kabupaten Agam.
Cerita itu disebut-sebut bermula dari obrolan kalangan remaja yang mengaku melihat sosok menyerupai pocong di lokasi sepi seperti jalan perkebunan, persawahan hingga kawasan minim penerangan.
Isu tersebut kemudian berkembang luas dari mulut ke mulut dan semakin ramai setelah dibahas di media sosial serta grup percakapan warga.
“Awalnya anak-anak muda yang cerita. Katanya ada yang melihat sosok putih malam-malam di pinggir jalan. Lama-lama ceritanya menyebar dan warga jadi takut,” ujar Wakapolsek Lubukbasung, Ipda Riqul Mukhtadi, Jumat (29/5).
Beredarnya cerita itu membuat sebagian masyarakat resah, terutama saat malam hari. Bahkan ada orang tua mulai membatasi anak-anak keluar rumah setelah waktu Magrib karena khawatir dengan isu yang berkembang.
Berbagai versi cerita pun bermunculan. Ada yang menyebut sosok tersebut terlihat di dekat kebun, jalan gelap hingga kawasan persawahan. Namun hingga kini belum ada bukti jelas maupun saksi pasti yang benar-benar melihat langsung kejadian tersebut.
Riqul meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap isu yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Menurutnya, fenomena seperti itu sering bermula dari candaan, cerita remaja hingga konten media sosial yang dibuat demi hiburan atau mengejar perhatian.
“Kami mengimbau masyarakat jangan langsung percaya dengan informasi yang belum jelas. Banyak konten horor di media sosial dibuat hanya untuk hiburan atau mengejar viral, lalu akhirnya menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan hingga saat ini pihak kepolisian belum menerima laporan resmi maupun menemukan bukti terkait adanya kemunculan sosok yang dimaksud warga.
“Tidak ada laporan resmi ataupun bukti nyata terkait isu tersebut. Masyarakat diminta tetap tenang dan jangan terpancing dengan cerita yang belum tentu benar,” tegasnya.
Riqul juga mengingatkan para remaja agar tidak membuat konten serupa demi sensasi di media sosial karena bisa memicu kepanikan masyarakat.
“Jangan membuat konten yang menimbulkan ketakutan masyarakat. Bisa memicu kepanikan, salah paham bahkan tindakan yang berbahaya. Gunakan media sosial secara bijak,” ujarnya.
Ia juga meminta perangkat nagari lebih responsif terhadap isu yang berkembang di tengah masyarakat agar tidak memunculkan kegaduhan di lingkungan warga.
“Kalau memang ada yang melihat langsung atau menemukan kejadian seperti itu, segera laporkan kepada pihak berwajib. Kami juga meminta perangkat nagari lebih responsif terhadap setiap kejadian di wilayah masing-masing agar tidak memunculkan kegaduhan dan ketidaknyamanan di tengah masyarakat,” katanya.
Fenomena konten horor demi mengejar viral sendiri belakangan marak terjadi di berbagai daerah. Di Boyolali misalnya, sempat viral video sosok menyerupai pocong dibonceng menggunakan sepeda motor hingga membuat warga panik.
Di Siak, Riau, warga juga sempat dihebohkan dengan foto sosok “pocong” membawa parang yang ternyata merupakan hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI).
Sementara di Sragen, Jawa Tengah, seorang pelajar berkostum pocong diamankan polisi saat melakukan siaran langsung di media sosial karena dianggap meresahkan warga.
Hingga kini, isu “pocong baladiang” di Lubuk Basung masih sebatas cerita yang berkembang di tengah masyarakat tanpa bukti pasti terkait keberadaannya. (ptr)
Editor : Adriyanto Syafril