Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Padel, Ruang Baru Bersosialisasi

Jufri Jao • Sabtu, 25 April 2026 | 10:06 WIB
Jufri Jao
Jufri Jao

Catatan : Jufri Jao - Wartawan Padang Ekspres

PADEK.JAWAPOS.COM - Riuh tawa dan bunyi pantulan bola dari dinding kaca kini mulai akrab terdengar di sejumlah sudut Kota Padang. Dalam beberapa bulan terakhir, olahraga padel mendadak naik daun. Media sosial dipenuhi unggahan orang-orang yang mencoba sensasi permainan ini. Tak sedikit figur publik turut meramaikan tren tersebut.

Sekilas, padel tampak seperti tenis. Namun, olahraga ini memiliki karakter unik karena memadukan unsur tenis dan squash. Lapangannya lebih kecil dan dikelilingi dinding kaca yang menjadi bagian permainan. Bola yang memantul di lantai dapat mengenai dinding sebelum dikembalikan, menciptakan reli panjang yang menuntut ketepatan dan strategi.

Di Sumatera Barat, padel tergolong pendatang baru. Meski demikian, geliatnya mulai terasa. Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi adalah Glasshaus Court di kawasan Parupuk Tabing. Hampir setiap hari, lapangan ini dipenuhi pemain dari berbagai kalangan, mulai dari pemula hingga komunitas yang rutin berlatih.

Bagi sebagian orang, padel bukan sekadar olahraga, melainkan juga ruang bersosialisasi. Permainan yang umumnya dimainkan secara ganda membuat interaksi antarpemain lebih intens. Suasana santai, tetapi tetap kompetitif, menjadikan padel cepat diterima, terutama di kalangan anak muda.

Selain menyenangkan, padel juga memberi manfaat fisik. Dalam satu sesi permainan, tubuh dapat membakar sekitar 600 kalori, setara satu porsi nasi padang lengkap. Gerakan berlari, melompat, dan mengayun raket secara berulang membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

Padel pertama kali diperkenalkan pada 1969 Enrique Corcuera di Meksiko. Ia memodifikasi lapangan di rumahnya dengan menambahkan dinding sebagai bagian permainan. Konsep tersebut kemudian berkembang ketika Alfonso de Hohenlohe sahabatnya membawa padel  ke Marbella, Spanyol. Dari sana, padel menyebar ke berbagai negara, termasuk Argentina yang kini menjadi salah satu pusatnya.

Secara teknis, padel dimainkan di lapangan berukuran 10 x 20 meter dengan raket padat tanpa senar. Bola yang digunakan mirip dengan bola tenis, tetapi memiliki tekanan lebih rendah sehingga lebih mudah dikontrol. Permainan ini menekankan kerja sama tim, penempatan bola, serta kemampuan membaca arah pantulan.

Dibandingkan tenis, padel relatif lebih mudah dipelajari. Hal ini membuatnya cepat diminati berbagai kalangan, termasuk pemula. Tanpa teknik yang terlalu rumit, pemain sudah dapat menikmati permainan sejak awal.

Di Indonesia, perkembangan padel masih berada pada tahap awal, tetapi menunjukkan tren positif. Fasilitas dan komunitas mulai bermunculan di sejumlah kota besar. Fenomena ini menandakan bahwa padel tidak sekadar tren sesaat, melainkan berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Dengan perpaduan aktivitas fisik, strategi, dan interaksi sosial, padel menawarkan pengalaman olahraga yang berbeda. Di tengah rutinitas yang padat, olahraga ini hadir sebagai alternatif yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menyenangkan. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#olahraga #Padel