PADEK.JAWAPOS.COM - Kekhawatiran meluas dengan mencuatnya kasus dugaan kekerasan terhadap anak yang terjadi di sebuah daycare atau tempat penitipan anak (TPA) di Kota Yogyakarta, baru-baru ini. Bahkan sampai ke Sumbar. Tak hanya dari orang tua tapi juga pengelola.
MENGETAHUI kabar tersebut Andini, 34, bahkan sempat terpikir untuk menarik anaknya dari TPA. Namun kemudian mengurungkan niat setelah melihat komitmen pengelola. Sebab, daycare tempat anaknya dititipkan cukup responsif terhadap isu yang berkembang.
“Mereka langsung kasih penjelasan. Bahkan memperketat aturan. Itu membuat kami lebih tenang,” ujarnya kepada Padang Ekspres, beberapa hari lalu. Ia menitipkan anaknya di TPA Ar Raudhah, Balai Gadang, Kecamatan Kototangah, Padang.
Cindy, warga Bulakan Balai Kandi, Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh juga merasakan hal sama. “Perasaan pasti kaget, sedih, dan khawatir. Itu membuat saya lebih hati-hati dan sering memantau kondisi anak,” katanya.
Tuntutan pekerjaan sebagai aparatur sipil negara (ASN) membuat dia memilih menitipkan anak di salah satu daycare di kota tersebut. Tapi, ia sangat selektif dengan melihat reputasi, rekomendasi, fasilitas, dan tenaga pengasuhnya.
Sejauh ini, ia menilai daycare tempat anaknya dititipkan cukup responsif terhadap isu yang berkembang. Pengelola disebut telah meningkatkan pengawasan serta komunikasi dengan orang tua, termasuk memberikan laporan harian terkait kondisi anak. Hal tersebut yang membuat dia mengurungkan niat menarik anaknya.
Ia menilai keamanan daycare sangat bergantung pada sistem pengawasan yang diterapkan. Serta, transparansi dari pihak daycare. Keberadaan CCTV menjadi hal krusial untuk memberikan rasa aman bagi orang tua. Selain itu, audit eksternal juga dinilai perlu untuk memastikan standar keamanan benar-benar terpenuhi.
“Semua pihak punya tanggung jawab, tapi pengelola daycare yang paling utama. Mereka harus memastikan tenaga pengasuh terlatih, ada pengawasan ketat, dan terbuka kepada orang tua,” tegasnya.
Suci Amelia di Padangpanjang, juga sangat terkejut mendengar viralnya kasus kekerasan di daycare tersebut. Namun tidak sampai menimbulkan kekhawatiran karena tempat anak-anaknya dititipkan sangat terbuka terhadap orang tua. Hal itu juga yang membuat para orangtua masih mempercayakan anak ke TPA tersebut.
Bahkan Suci mengantarkan dua anaknya TPA Cahaya Bangsa. Tapi bukan dalam konteks menitipkan. Namun, untuk membangun karakter dan kepercayaan, serta pengembangan diri sang anak.
Kepercayaannya tumbuh tak begitu saja. Ia mengawalinya dengan mencoba satu hingga empat hari. Sebelumnya lebih dulu mencari tahu TPA yang terbaik, dan mengenalkan si anak ke lingkungan tempat belajar sambil bermain dengan teman-teman seusianya.
“Sejauh ini kami sangat nyaman dan percaya terhadap daycare Cahaya Bangsa, karena sangat transparan. Setiap hari kami orang tua selalu mendapatkan informasi melalui foto dan video tentang kegiatan anak. Bahkan ketika berkunjung ke sana, Kita juga bisa menyaksikan bagai mana anak-anak tidur dan pulangnya, mereka sudah wangi karena dimandikan,” katanya.
Suci setuju jika setiap daycare menerapkan teknologi komunikasi yang terkoneksi langsung secara real time kepada orangtua anak. Hal ini untuk menjamin kenyamanan kedua belah pihak. Terkhusus orang tua.
Eva, 35, juga tidak menampik telah timbul kekhawatiran dari mencuatnya kasus ini. Namun karena anaknya terjaga dengan baik, ia justru lebih tenang menitipkan anak di daycare Zam-zam, Kota Pariaman. Karena memang, pemiliknya seorang guru yang juga memiliki PAUD di lokasi daycare itu.
Apalagi, selama ini ia melihat putrinya justru samgat terawat dengan baik. Saat pulang anaknya juga sangat bahagia dan tumbuh kembang anaknya sempurna.
Langsung Evaluasi
Keprihatinan juga mencuat dari para pengelola. Bahkan ada yang langsung melakukan evaluasi internal begitu isu kekerasan itu mencuat. Meski tidak berdampak signifikan terhadap jumlah anak, beberapa orang tua sempat menanyakan kembali sistem keamanan yang diterapkan.
“Kepercayaan orang tua itu segalanya. Kalau itu hilang, daycare tidak akan berjalan. Jadi kami sangat terbuka, orang tua boleh melihat langsung aktivitas anak,” kata Rayanah, pengelola Daycare dan TPA Ar Raudhah, Balaigadang, Kecamatan Kototangah, Kota Padang.
Menurutnya, kunci utama mencegah kekerasan adalah sistem yang jelas dan pengawasan yang konsisten. “Sejak awal kami punya SOP ketat. Pengasuh tidak boleh bekerja sendiri tanpa pengawasan. Semua aktivitas anak terpantau, dan komunikasi dengan orang tua itu wajib setiap hari,” ujarnya.
Dalam proses perekrutan, Rayanah memastikan calon pengasuh memiliki latar belakang yang sesuai dan memahami dasar pengasuhan anak. Selain itu, pelatihan terkait pengendalian emosi dan pengasuhan tanpa kekerasan menjadi kewajiban.
Daycare ini juga dilengkapi CCTV, meski akses diberikan secara terbatas dengan pertimbangan privasi. “Yang jelas tidak ada blind spot dalam pengawasan,” tekannya.
Sementara itu, pendekatan lebih komprehensif diterapkan di Daycare dan Preschool Rumah Insan Mulia di Kota Padang yang dikelola Resma Safitri. Lulusan S2 Psikologi ini menekankan, pengelolaan daycare tidak hanya soal menjaga anak, tetapi juga memahami tumbuh kembang dan kondisi psikologis mereka.
“Kasus-kasus yang terjadi itu menjadi pengingat bahwa daycare harus dikelola secara profesional. Kami langsung memperkuat SOP dan meningkatkan komunikasi dengan orang tua,” tutur dia.
Terpisah, Lendra, Kepala Sekolah TPA Al Fath mengaku, langsung mengadakan rapat internal dengan guru- guru, guna memastikan hal tersebut jangan sampai terjadi di TPA yang berada di Kelurahan Tanahpaklambiak, Kota Padangpanjang itu. “Hingga saat ini tidak ada orangtua yang menarik anaknya dari TPA,” ujarnya.
TPA Al Fath juga menerapkan SOP Sekolah Ramah Anak. Jika ada dugaan atau laporan kekerasan, akan diproses cepat secara berjenjang.
Dalam proses rekruitmen pendidik atau guru, diawali pemeriksaan latar background calon pengasuh melalui media sosialnya hingga orang- orang terdekatnya.
Dilanjutkan memberikan pelatihan dasar, pelatihan lanjutan dan pelatihan mahir, yang difasilitasi Dinas Pendidikan Kota Padangpanjang.
Lendra mengakui saat ini daycare yang dikelolanya belum dilengkapi CCTV, namun pengawasan sangat baik dan informasi terhadap orangtua anak terus disampaikan melalui aplikasi WhatsApp berupa foto dan video. Sehingga para orangtua tidak ada yang merasa resah, dengan munculnya peristiwa kekerasan terhadap anak tersebut.
“Namun kami memiliki forum rutin dengan orangtua minimal satu kali dalam satu semester dan ada laporan berkala sesuai perkembangan usianya. Kemudian selaku kepsek, saya melakukan supervisi dua kali tiap semester dan Penilaian Kinerja Guru (PKG) sekali setahun yang nilainya dilaporkan ke Dinas Pendidikan,” terang Lendra.
Di balik itu, Al Fath sangat memperhatikan kesejahteraan pengasuh, dengan memberikan gaji yang layak, makan siang dan fasilitas wifi. Memerhatikan kondisi psikis pengasuh dengan mengamati gestur pengasuh, juga dilakukan guna mencegah potensi layanan tidak baik terhadap anak. (cr7/rid/wrd/nia)
Editor : Adriyanto Syafril