Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Masyarakat Mulai Berhemat Akibat Harga Pangan Naik, Alarm Bahaya Ekonomi Jangka Panjang

Irfan R Rusli • Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:45 WIB
Aktivitas jual beli di Pasar Raya Padang, Kamis (14/5). Dari pantauan Padang Ekspres hari itu, harga cabai merah keriting naik sekitar 10–14 persen dari harga normal Rp 31 ribu–Rp 35 ribu per kilogram. (IRFAN/PADEK)
Aktivitas jual beli di Pasar Raya Padang, Kamis (14/5). Dari pantauan Padang Ekspres hari itu, harga cabai merah keriting naik sekitar 10–14 persen dari harga normal Rp 31 ribu–Rp 35 ribu per kilogram. (IRFAN/PADEK)

Harga sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Ini membuat masyarakat mulai mengubah prioritas belanja. Rumah tangga cenderung menekan konsumsi non-pokok dan hanya fokus pada kebutuhan dasar.

Satu hal yang lazim terjadi ketika inflasi bahan pangan berlangsung cukup lama dan pendapatan masyarakat tidak naik secepat kenaikan harga.

Ini mesti jadi perhatian serius dari stakeholder terkait. Karena bisa menekan pertumbuhan ekonomi (PE). Khusus di Sumbar, pada kuartal 1 2026, pertumbuhan ekonomi diklaim pemerintah Sumbar 5,02 persen. Angka yang cukup baik.

Sebagaimana pantauan Padang Ekspres, harga sejumlah bahan pangan di Kota Padang mengalami fluktuasi dalam sepekan terakhir. Kenaikan paling terasa terjadi pada komoditas cabai, beras premium, serta daging ayam yang mulai memengaruhi pola belanja masyarakat.

Di Pasar Raya Padang, harga beras masih menunjukkan variasi tergantung jenis dan kualitasnya. Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) terpantau stabil di angka Rp13.100 per kilogram. Namun, untuk beras premium seperti kuriak kusuik dijual di kisaran Rp 17 ribu hingga Rp 19 ribu per kilogram. Sementara beras indikasi geografis seperti anak daro dan cisokan Solok menyentuh harga Rp 18 ribu hingga Rp 19.500 per kilogram.

Kondisi serupa juga ditemukan di Pasar Bandar Buat. Harga beras kuriak berada di rentang Rp17 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan anak daro dan sokan Solok dijual pada kisaran Rp 17 ribu hingga Rp 19 ribu per kilogram.

Jika dibandingkan dengan harga normal sebelumnya yang berada di kisaran Rp 16 ribu–Rp 17 ribu untuk beras premium, maka kenaikannya sekitar 12 hingga 17 persen pada beberapa jenis tertentu.

Wandri Tio, pedagang beras di Pasar Bandar Buat mengatakan, harga beras dalam sepekan terakhir mengalami perubahan yang tidak menentu. Selain faktor cuaca, menurutnya, biaya distribusi juga turut memengaruhi harga jual di tingkat pedagang.

“BBM juga naik, tentu ada penyesuaian biaya angkut. Kalau biaya distribusi naik, harga barang ikut menyesuaikan,” katanya, Kamis (14/5).

Meski harga mengalami kenaikan, tidak semua konsumen memilih mengurangi pembelian kebutuhan pokok utama seperti beras. Salah seorang ibu rumah tangga yang ditemui saat berbelanja di Pasar Bandar Buat, Tri Handayani, 35, mengaku tetap membeli beras dalam jumlah normal untuk kebutuhan keluarganya.

Meski demikian, ia mengaku mulai melakukan penyesuaian pengeluaran rumah tangga pada kebutuhan lain. Tri memilih melakukan penghematan pada lauk-pauk seperti daging maupun pembelian cabai yang harganya meningkat dalam beberapa hari terakhir.

“Semoga harga bisa kembali stabil dan tidak terlalu memberatkan konsumen, apalagi kebutuhan dapur sekarang banyak yang naik,” harapnya.

Di Pasar Raya Padang, harga cabai merah keriting lokal dijual pada kisaran Rp 34 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit merah menjadi komoditas dengan kenaikan tertinggi, mencapai sekitar Rp 60 ribu per kilogram. Adapun harga cabai hijau relatif stabil di kisaran Rp 22 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Pedagang cabai di Pasar Raya Padang Yose Hendra mengaku, kenaikan harga cabai selama sepekan terakhir belum terlalu berdampak pada tingkat penjualan. “Kalau cabai ini kebutuhan utama di masakan. Rumah tangga tetap beli, apalagi rumah makan. Jadi memang tidak terlalu berpengaruh ke penjualan,” katanya.

Meski demikian, kata Yose, dampak kenaikan harga lebih terasa pada pelaku usaha kuliner. “Paling yang terasa itu pedagang rumah makan. Mereka harus menyesuaikan harga atau jumlah pembelian karena cabai tetap dibutuhkan,” jelasnya.

Dari sisi persentase, harga cabai rawit merah diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 20 persen dibanding harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp 48 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah keriting naik sekitar 10–14 persen dari harga normal Rp 31 ribu–Rp35 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga daging ayam ras mengalami kenaikan tipis. Andri, pedagang ayam di Pasar Raya Padang mengatakan, kenaikan harga ayam mulai memengaruhi daya beli masyarakat.

“Biasanya ada pelanggan yang beli satu ekor, sekarang ada yang beli setengah atau seperempat saja. Jadi memang terasa perubahan belanja konsumen,” katanya.
Hal senada juga disampaikan pedagang ayam di Pasar Bandar Buat, Risman (47). Menurutnya, meski harga naik tidak terlalu tinggi, masyarakat mulai melakukan penghematan. “Pembeli tetap ada, tapi jumlah yang dibeli berkurang. Orang sekarang lebih berhitung,” ujarnya.

Jika dibandingkan harga normal ayam yang berada di kisaran Rp 38 ribu–Rp 39 ribu per kilogram, maka harga saat ini mengalami kenaikan sekitar 7–10 persen. Kenaikan harga pangan turut dirasakan langsung oleh konsumen.

Salah seorang pembeli di lapak ayam Pasar Raya Padang, Melda Sari Kurnia, 33, mengaku mulai mengurangi pembelian ayam akibat tingginya harga sejumlah kebutuhan pokok, terutama cabai. “Biasanya saya beli satu sampai dua ekor ayam untuk stok di rumah. Tapi sekarang karena harga cabai juga mahal dan setiap masakan pasti butuh cabai, jadi saya kurangi. Kadang cuma beli satu ekor, kadang setengah saja,” katanya.

Konsumsi Rumah Tangga Tulang Punggung PE

Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Di banyak daerah di Indonesia, kontribusinya bisa lebih dari separuh aktivitas ekonomi.

Jadi, kata pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution Roni P Sasmita, ketika masyarakat mengurangi belanja, dampaknya langsung terasa ke perdagangan, UMKM, jasa, hingga pendapatan pedagang pasar.

“Kalau masyarakat terus menahan konsumsi, maka pertumbuhan ekonomi Kuartal II berpotensi melambat. Sebab ekonomi daerah sangat bergantung pada perputaran uang harian di pasar, warung, transportasi, dan sektor informal lainnya. Ketika transaksi mengecil, mesin ekonomi ikut melambat,” ucap peneliti senior tamu di Center for Integrative and Development Studies University of the Philippines itu.

Secara ekonomi, sambungnya, kondisi saat ini menunjukkan adanya “downtrading” atau penurunan kualitas dan kuantitas konsumsi. Ini tanda masyarakat mulai berhitung ketat terhadap pengeluaran.

Dia mengingatkan, dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya bila dibiarkan. Masyarakat bisa mengalami penurunan kualitas konsumsi dan gizi, tabungan menipis, serta kemampuan belanja melemah terus-menerus. Jika berlangsung lama, sektor usaha kecil dan perdagangan daerah juga ikut terkena dampak karena permintaan terus menurun

“Menurut saya kondisi saat ini belum masuk kategori krisis, tetapi sudah menjadi peringatan serius. Kalau tidak ditangani cepat, dampaknya bisa meluas ke pertumbuhan ekonomi daerah pada kuartal-kuartal berikutnya,” tuturnya.

Untuk mengatasi kondisi ini, pengamat ekonomi Syafruddin Karimi menyampaikan, pemerintah perlu bergerak pada tiga jalur sekaligus. Pasokan, harga, dan pendapatan.

Dari sisi pasokan, pemerintah harus memastikan distribusi pangan lancar, memperkuat stok, memantau daerah defisit, dan menekan biaya logistik. Dari sisi harga, operasi pasar harus tepat sasaran dan dilakukan sebelum harga melonjak terlalu tinggi. Dari sisi pendapatan, bantuan pangan, subsidi transportasi tertentu, dan dukungan UMKM perlu diarahkan kepada kelompok rentan.

“Pemerintah daerah juga perlu memakai data pasar harian untuk mendeteksi komoditas yang naik cepat. Daya beli tidak cukup dijaga melalui imbauan; ia harus dijaga melalui pasokan yang cukup dan harga yang terjangkau,” sebut akademisi dari Universitas Andalas itu. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#harga bahan pangan #konsumsi rumah tangga #Ekonomi Sumbar 2026 #inflasi pangan #Pertumbuhan Ekonomi Sumbar