KELANGKAAN rinuak yang hampir rutin terjadi di Danau Maninjau terus menjadi ancaman bagi pelaku usaha kuliner khas daerah. Ketika ikan endemik itu menghilang dari tangkapan nelayan selama berbulan-bulan, produksi rakik, dendeng hingga berbagai olahan rinuak ikut tersendat. Untuk mengurangi dampak siklus tersebut, Pemerintah Kabupaten Agam mengandalkan bantuan freezer, pembinaan usaha hingga perluasan akses pemasaran bagi pelaku UMKM.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Agam Doni Afdison mengatakan populasi rinuak sepenuhnya bergantung pada kondisi alam sehingga sulit dikendalikan manusia.
“Rinuak ini berbeda dengan ikan budidaya. Kemunculannya sangat bergantung pada kondisi alam, jadi kita tidak bisa mengaturnya,” ujarnya.
Menurut Doni, salah satu solusi yang selama ini dilakukan pemerintah daerah untuk membantu pelaku usaha menghadapi siklus kelangkaan adalah menyediakan freezer atau lemari pendingin bagi kelompok pengelola dan pemasar hasil perikanan.
Saat musim tangkapan melimpah, stok rinuak dapat disimpan dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan produksi ketika masa langka tiba. Dengan penyimpanan yang baik, rinuak dapat bertahan hingga enam bulan bahkan satu tahun.
“Jadi saat rinuak melimpah bisa stok banyak-banyak di freezer. Ketika masuk masa langka, stok masih tersedia sehingga usaha tetap berjalan,” katanya.
Menurutnya, siklus kelangkaan rinuak umumnya berlangsung sekitar enam bulan sebelum kembali muncul. Saat ini, berdasarkan laporan penyuluh perikanan di lapangan, rinuak mulai kembali terlihat di perairan Danau Maninjau dan sebagian sudah diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional kawasan salingka danau, meski jumlahnya masih terbatas.
Doni menyebutkan, pada tahun lalu pemerintah daerah menyalurkan delapan unit freezer kepada masyarakat di kawasan Maninjau, Lubukbasung dan wilayah pesisir Tanjung Mutiara. Program serupa juga pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
Namun tahun ini bantuan freezer belum dapat dilanjutkan karena keterbatasan anggaran. Sebagian besar anggaran daerah difokuskan untuk penanganan dan pemulihan pascabencana.
“Kalau anggaran tersedia tentu kami ingin menambah bantuan freezer setiap tahun. Jumlah bantuan yang ada sekarang memang masih jauh dari kebutuhan,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap melakukan pendampingan melalui penyuluh perikanan di lapangan. Hanya saja, pelaksanaan pelatihan formal masih terbatas akibat efisiensi anggaran.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Agam Khasman Zaini mengatakan, penguatan pelaku usaha ekonomi kreatif juga menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata daerah. Menurutnya, urusan pengemasan produk, promosi dan pembinaan UMKM secara umum memang lebih banyak ditangani Dinas Koperasi dan UKM. Namun pihaknya turut memperkuat sektor ekonomi kreatif melalui berbagai program pendampingan.
Salah satunya melalui fasilitasi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi pelaku usaha agar produk dan karya yang dihasilkan memiliki perlindungan hukum.
“Kami membantu pelaku ekonomi kreatif melindungi produk dan karya mereka melalui program perlindungan hak kekayaan intelektual,” katanya.
Selain itu, Dinas Pariwisata juga rutin menggelar pelatihan bagi pelaku usaha kuliner khas daerah seperti pengolah rinuak, bada, pensi hingga Nasi Kapau. Tahun ini, target pelatihan telah mencapai sekitar 100 peserta.
Tak hanya pembinaan, pemasaran produk ekonomi kreatif juga dibantu melalui kerja sama dengan asosiasi homestay di Kabupaten Agam. Produk-produk UMKM lokal dapat dipajang di homestay sebagai etalase promosi bagi wisatawan yang berkunjung.
“Kalau ada wisatawan yang tertarik, kami hubungkan langsung dengan pelaku usahanya. Ini menjadi salah satu cara memperluas akses pasar bagi produk ekonomi kreatif lokal,” ujarnya.
Dengan siklus kelangkaan rinuak yang terus berulang, pemerintah berharap kombinasi penyimpanan stok melalui freezer, peningkatan kapasitas usaha serta perluasan pemasaran dapat membantu pelaku UMKM tetap bertahan hingga populasi rinuak kembali normal dan roda ekonomi masyarakat sekitar Danau Maninjau terus bergerak. (ptr)
Editor : Adriyanto Syafril