Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Di Sumbar hingga Provinsi Tetangga, Solar Subsidi Langka: Antre dari Subuh karena Siang sudah tak Tersedia

Syamsu Ridwan • Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:40 WIB
Sejumlah kendaraan sedang mengisi bahan bakar di SPBU di kawasan Ngalau, Kota Payakumbuh, kemarin. Khusus untuk kendaraan berbahan bakar biosolar, para pengendara harus antre sejak subuh karena siang hari kerap sudah habis. (SY RIDWAN/PADEK)
Sejumlah kendaraan sedang mengisi bahan bakar di SPBU di kawasan Ngalau, Kota Payakumbuh, kemarin. Khusus untuk kendaraan berbahan bakar biosolar, para pengendara harus antre sejak subuh karena siang hari kerap sudah habis. (SY RIDWAN/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Kelangkaan solar subsidi (biosolar) tak hanya terjadi di Pulau Jawa dalam beberapa waktu belakangan. Masyarakat di Sumatera, tak kecuali Sumatera Barat, juga merasakannya. Dari pantauan Padang Ekspres, kendaraan berbahan bakar biosolar antre berjam-jam di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Dharmasraya, Kota Padang, dan Kota Payakumbuh.

Eka salah seorang pengumudi bus antar kota antar provinsi dari Padang ke Jakarta, mengatakan, kelangkaan solar bersubsidi tak hanya terjadi di Sumbar namun di provinsi lainnya yang ia lewati. Akibatnya, banyak para sopir sangat kekurangan istirahat karena harus mencari solar. Bahkan, harus sampai menginap di SPBU untuk men­dapatkannya.

“Kalau kita baru sampai di Padang bukan istirahat yang kita utamakan, namun mencari solar. Satu bus jatahnya hanya 200 liter. Kadang bisa dapat sebanyak itu, namun ada yang hanya 100 liter. Tentu jika tidak dapat full harus cari solar lagi. Untung kalau SPBU-nya buka 24 jam, tak jarang SPBU-nya ada yang jam 9 malam sudah tutup jadi terpaksa kita tunggu sampai esok harinya” katanya kepada Padang Ekspres, kemarin

Keluhan sama juga diutarakan sopir lintas Sumater-Jawa lainnya. “Kalau bisa adakan kebijakan yang mendahulukan bus terlebih antar provinsi, karena kita membawa manusia dan menjadi salah satu sektor pergerakan masyarakat,” tutur Sofian.

Di Dharmasraya. antrian panjang kendaraan terlihat di hampir seluruh SPBU. Terutama pada jalur pengisian biosolar yang dipadati kendaraan angkutan barang, truk, dan kendaraan operasional lainnya. Kendaraan yang mengular hingga badan jalan dari pagi hingga malam hari menjadi hal yang lazim terlihat.

Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi, tetapi juga menimbulkan keluhan dari para pengemudi yang harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menunggu giliran mengisi BBM.

Beberapa pengendara mengaku harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain untuk mencari antrean yang lebih pendek, namun hampir semua lokasi mengalami kondisi yang sama. Sejumlah pe­ngemudi mengaku kecewa dengan kondisi tersebut karena waktu kerja banyak tersita akibat panjangnya antrean. Padahal, sebagian besar kendaraan yang mengantre merupakan kendaraan yang digunakan untuk menunjang aktivitas ekonomi dan distribusi barang.

Salah seorang sopir truk angkutan barang, Deni, 43, mengungkapkan, kondisi ini sangat merugikan karena mengurangi waktu operasional kendaraan yang seharusnya digunakan untuk me­ngantarkan muatan ke tujuan. ’Hampir setiap hari antreannya panjang. Kadang kami datang pagi, baru bisa mengisi setelah beberapa jam menunggu. Waktu banyak habis di SPBU, sementara pekerjaan tetap harus diselesaikan,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Rinaldi, 53, pengemudi kendaraan angkutan lain yang mengaku harus menyesuaikan jadwal perjalanan akibat antrean yang tidak kunjung berkurang. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pen­dapatan harian karena jumlah perjalanan yang bisa dilakukan menjadi lebih sedikit.

“Waktu habis untuk antre solar. Kami jadi terlambat sampai ke lokasi tujuan dan pekerjaan juga ikut tertunda,” ungkap Ridwan yang ditemui saat mengantre di salah satu SPBU di Dharmasraya.

Sementara itu salah seorang pengelola SPBU di Dharmasraya, Riko menyebut, antrean terjadi karena kebutuhan yang tinggi. Di samping itu ada keterlambatan pasokan dari Pertamina. “Pada umumnya keterlambatan itu lebih di sebabkan oleh faktor cuaca alam, termasuk  jalan macet dan lainnya,” jeasnya.

Di Kota Payakumbuh, antrean kendaraan di sejumlah SPBU ma­sih menjadi pemandangan lumrah. Bahkan tidak hanya Biosolar tapi juga pertalite. Demi mendapatkan jatah Biosolar, sebagian pengemudi mengaku harus mulai mengantre sejak pukul 03.00 WIB. Truk angkutan barang, mobil pi­kap hingga kendaraan niaga tampak mengular menunggu giliran mengisi BBM.

Salah seorang pengemudi kendaraan berbahan bakar biosolar, Arya Irfanus mengatakan, dirinya hampir setiap hari harus datang ke SPBU sejak dini hari agar tidak kehabisan solar subsidi. “Biasanya SPBU baru buka pukul 06.00 WIB,” ujar lelaki 37 tahun itu.

Menurut Arya, meski SPBU mulai beroperasi pukul 06.00 WIB, dirinya baru memperoleh giliran mengisi bahan bakar sekitar pukul 07.30 WIB hingga 08.00 WIB. Lamanya waktu menunggu bergantung pada jumlah kendaraan yang sudah lebih dahulu mengantre. “Kalau antreannya banyak, tentu makin lama. Yang penting dapat solar dulu,” katanya.

Ia menjelaskan, setiap pembelian biosolar wajib menggunakan barcode yang telah terdaftar dalam sistem. Tanpa barcode tersebut, petugas SPBU tidak akan melayani pengisian bahan bakar bersubsidi.

Arya mengaku sengaja datang sejak dini hari karena khawatir kuota biosolar habis sebelum dirinya mendapatkan giliran. “Kalau datang agak siang biasanya sudah habis. Setahu saya, siang sampai malam biosolar sering sudah tidak tersedia,” ungkapnya.

Sementara itu, pengguna kendaraan roda empat berbahan ba­kar pertalite, Edwardi, 47, menilai antrean pengisian pertalite tidak sepanjang antrean biosolar, meski pada waktu tertentu tetap terjadi penumpukan kendaraan.

“Kalau isi Pertalite di SPBU Parik Rantang biasanya antreannya tidak terlalu panjang. Paling lama sekitar 30 menit dengan sekitar 19 mobil di depan,” katanya.

Menurut Edwardi, ketersediaan pertalite memang tidak selalu sama setiap hari. Namun secara umum, BBM bersubsidi tersebut masih dapat diperoleh ma­sya­rakat. “Kadang stoknya tidak menentu, tetapi rata-rata masih selalu ada,” ujarnya.

Keluhan juga datang dari pengendara sepeda motor, Dody Sa­putra, 31. Warga Kota Payakumbuh itu mengaku kini beralih menggunakan Pertalite setelah harga Pertamax dinilai terlalu tinggi.

“Dulu saya selalu isi Pertamax. Sekarang sudah beralih ke Pertalite karena Pertamax sudah mahal,” katanya. Namun, perpindahan ke pertalite membuatnya harus meng­hadapi antrean yang lebih panjang. “Kalau isi Pertalite hampir tidak pernah antreannya pen­dek, selalu mengular. Itu yang membuat saya kadang malas me­ngisi Pertalite,” pungkasnya. (yud/ita/rid)

 

 

Editor : Adriyanto Syafril
#biosolar #bbm subsidi #solar langka #Nan Padek