Dikutip dari wikipedia Pada masa pendudukan Jepang, peneliti di Lembaga Eijkman ditangkap oleh militer Jepang atas tuduhan pencemaran vaksin tetanus. Meski tuduhan tersebut tidak pernah terbukti, Achmad Mochtar menyerahkan diri pada tentara Jepang dan kemudian dieksekusi mati demi menyelamatkan hidup para peneliti di lembaga yang dipimpinnya. Achmad Mochtar dipancung pada tanggal 3 Juli 1945. Kisah hidup yang luar biasa, dalam sebuah sebuah catatan harian tentara Jepang menyebutkan bahwa jenazah Achmad Mochtar dihancurkan dengan mesin gilas uap dan dibuang ke liang kuburan massa
Keberadaan jasadnya yang dikuburkan massal beserta beberapa orang lainnya baru diketahui terletak di Ereveld, Ancol pada tahun 2010, setelah berselang 65 tahun kemudian
Mengingat jasa Achmad Mochtar, Pemprov Sumbar meresmikan monumen dan sekaligus peluncuran buku biografi Prof Dr Achmad Mochtar. Buku tersebut diberi judul Pahlawan Kemanusiaan Indonesia: Biografi Prof Dr Achmad Mochtar, Ilmuwan Kelas Dunia Korban Kejahatan Perang Jepang, Senin, (28/12).
Peresmian dilakukan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno di Auditorium Kantor Gubernur Sumbar dan dihadiri Wakil Bupati Padang Pariaman Mardison Mahyuddin, para rektor dan akademisi Sumbar, Keluarga Alm Prof. Dr Ahmad Mochtar, pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Sumbar, Ketua LKAAM Sumbar, Ketua Bundo Kanduang Sumbar, Forkompinda Sumbar, perangkat daerah Kabupaten Pasaman, Tim Pembuat Buku Biografi dan Tim Pembuat Monumen Prof Dr Ahmad Mochtar, serta tamu undangan lainnya.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengungkap, dengan peresmian monumen dan peluncuran buku biografi Prof Dr Achmad Mochtar ini dapat memperjelas data sejarah Prof Dr Achmad Mochtar selaku orang Minang asal Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumbar.
“Semoga dengan adanya peresmian monumen dan peluncuran buku biografi ini membuat generasi muda kita tidak gagal paham terhadap Prof Dr Achmad Mochtar. Selain itu, Prof Dr Achmad Mochtar menjadi penyemangat bagi generasi muda khususnya masyarakat Bonjol, Pasaman karena ada kampungnya, saudaranya, kerabatnya, yang menjadi orang hebat dan memotivasi kita agar menjadi orang hebat juga,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, Dra. Hj. Gemala Ranti, M.Si., dalam laporannya menjelaskan, buku sejarah tentang Prof Dr Achmad Mochtar berjudul Pahlawan Kemanusiaan Indonesia: Biografi Prof Dr Achmad Mochtar, Ilmuwan Kelas Dunia Korban Kejahatan Perang Jepang ini dibuat secara maraton dengan waktu yang cukup singkat oleh tim penulis dan peneliti yang diketuai oleh Hasril Chaniago.
“Dengan terbitnya buku ini, kami berharap akan menambah kazanah sumber sejarah tentang orang hebat asal Sumbar. Buku ini juga diharapkan mampu meluruskan kembali beberapa fakta yang simpang siur tentang kehidupan almarhum,” katanya.
Gemala mengucapkan terima kasih kepada ahli waris terutama Prof Dr Siti Chairani Proehoeman yang telah banyak membantu tim penulis terkait sumber dan data-data sejarah tentang Prof Dr Achmad Mochtar yang belum banyak terungkap selama ini. (*) Editor : Tandri Eka Putra