Penegasan itu disampaikan Dr Aqua menanggapi seorang peserta yaitu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Semarang Bunyamin saat Sharing Komunikasi dan Motivasi di ruang Loka Kridha Lantai VIII, Kompleks Balaikota Gedung Mr. Moch. Ichsan Jalan Pemuda no 148 Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa (11/1/2022).
Kegiatan yang dibuka Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang akrab dipanggil Hendi itu, bertajuk "Komunikasi Hebat, Kinerja Pemkot Semarang Kuat". Kegiatan ini kerja sama Pemerintah Kota Semarang dengan Harian Tribun Jateng.
Acara Sharing Komunikasi dan Motivasi di jajaran Pemerintah Kota Semarang ini dihadiri sekitar 300 orang. Mulai dari Wali Kota, Wakil Wali Kota Hevearita Gunaryanti Rahayu, Sekretaris Daerah Iswar Aminudin, semua asisten, kepala dinas, camat, lurah, dan pegawai garda depan yang bertugas di bagian pelayanan serta Pemimpin Redaksi Harian Tribun Jateng Erwin Ardian.
Kegiatan itu sesi pertama dari banyak sesi yang direncanakan Hendi. Prioritas berikutnya adalah para pegawai yang bertugas di bidang kesehatan baik yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) maupun di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Selain itu para guru yang jumlahnya mencapai ribuan.
Dr Aqua melanjutkan, walaupun Bunyamin merasa sudah berusaha merangkul semua bawahan dan selalu tampil sebagai atasan yang baik dengan memberikan berbagai keteladan, pasti masih ada jajarannya yang responsnya tidak seperti yang diharapkan.
"Ini seperti yang barusan disampaikan Pak Bunyamin. Beliau merasa sudah berusaha mendekati semua bawahannya, namun tidak seluruhnya merespons sesuai harapannya," lanjut Dr Aqua.
Menyikapi itu, kata pria yang telah mendalami komunikasi selama puluhan tahun secara komprehensif tersebut, tidak usah membuat kepikiran, apalagi jadi pusing.
"Hidup ini seperti kisah sufi Lukmannul Hakim bersama anak dan keledainya. Saat ketiganya berjalan bersama ada saja yang berkomentar negatif. Ada yang mengatakan mereka bodoh karena keledainya tidak ditunggangi. Padahal hewan itu biasanya dinaiki manusia," tukasnya.
Mendengar itu, lanjut Aqua, keduanya sepakat menunggangi keledai tersebut. Mereka diejek oleh orang yang melihatnya, karena dianggap menyiksa keledai.
Lukman pun turun dari keledai. Ia membiarkan anaknya tetap duduk di atas keledai. Toh, tetap saja ia “di-bully” orang. Si anak dituding tak tahu diri, lantaran berada di atas keledai, sementara sang ayah yang telah berumur dibiarkan berjalan.
Sebaliknya saat Lukman gantian naik keledai, sementara anaknya jalan, ada yang berkomentar negatif. Mereka beranggapan ayahnya tidak sayang sama anaknya karena membiarkannya jalan.
“Setiap melakukan aktivitas selalu saja ada orang yang melihatnya dari sudut pandang negatif. Nah, itu yang harus kita hadapi dan jalani dalam kehidupan ini. Sebaiknya tidak usah pusing dengan hal tersebut. Ambil yang baiknya saja dan konsisten melakukannya,” tegas Dr Aqua.
Belajar pada Senior
Menjawab pertanyaan peserta yang lain yaitu Dewi Sadtyaji yang menjabat Kepala Bidang Pengembangan Pegawai Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan Pemerintah Kota Semarang, Dr Aqua menegaskan semua pegawai yang usianya lebih muda harus selalu menghormati senior yang lebih tua dari sisi usia. Meskipun jadi bawahannya. Dengan begitu komunikasinya akan lancar.
"Hal tersebut harus juga dilakukan para pegawai yang memiliki bawahan yang usianya lebih tua dari dirinya. Anggap saja anak buah tersebut sebagai kakak atau orang tuanya. Semua tergantung usianya," pesan doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu.
Mereka yang senior, lanjut Dr Aqua pengalamannya pasti banyak sekali dibandingkan usianya lebih muda. Meski mungkin secara jabatan lebih rendah dibandingkan pegawai yang junior.
Untuk itu, tambah bapak dua anak itu agar jangan pernah ragu belajar pada mereka. Belajarlah sebanyak-banyaknya terutama dari pengalaman mereka.
"Melakukan semua itu banyak sekali manfaatnya. Selain mendapatkan tambahan pengetahuan dan wawasan, juga membuat hubungannya makin akrab. Sehingga memudahkan dan memperlancar pekerjaan," papar Dr Aqua.
Kemudian Dr Aqua menceritakan pengalamannya sekitar 17 tahun (1988-2005) bekerja di sembilan perusahaan yang berbeda-beda. Tempatnya di Jawa Timur, Daerah Khusus Ibu kota Jakarta, dan Jawa Barat.
Ketika itu teman sekantornya ada yang usianya lebih tua. Bahkan jumlahnya banyak. Sebagian di antara mereka menjadi bawahannya.
"Selama bekerja sama mereka, saya menjadikan sebagai teman. Tidak menganggap mereka bawahan. Sikap hormat selalu saya tunjukkan sehingga komunikasinya lancar sekali," jelas penulis buku "super best seller" Trilogi The Power of Silaturahim itu.
Pengalaman Dr Aqua selama 17 tahun jadi pegawai, ketika menghormati mereka yang usianya lebih tua, mendapat balasan serupa. Bahkan lebih dari itu.
Terasa sekali kinerja mereka meningkat. Apalagi selalu diberi apresiasi secara profesional dan proporsional. Mereka bekerjanya makin bersemangat.
Banyak Rezeki
Di awal pemaparannya pria yang memiliki jejaring luas ini mengajak semua yang hadir selalu bersyukur karena Tuhan telah banyak memberi rezeki kepada mereka. Nilainya melebihi materi berapa pun.
Rasa syukur yang pertama karena semuanya diberi kesehatan. Meski sampai sekarang masih pandemi Covid-19.
"Meski begitu tetap harus selalu waspada, mawas diri, dan hati-hati. Laksanakan protokol kesehatan secara ketat dan taati selurub pesan pemerintah pusat terkait Covid-19," tuturnya.
Sedangkan kepada yang pernah terpapar Covid-19 dan sembuh, lanjut pria yang hobi silaturahim ini, harus lebih banyak bersyukur. Itu menunjukkan bahwa Tuhan sayang kepadanya dan memberikan kesempatan berbuat baik kepada sesama.
Dr Aqua kemudian menceritakan seorang teman akrabnya, pengusaha sukses di Semarang yang pada Juli 2021 lalu terpapar Covid-19 dan meninggal.
"Teman saya itu uangnya bisa buat membeli rumah sakit. Namun saat terpapar Covid-19, untuk mendapatkan satu tempat tidur di rumah sakit di Semarang, tidak dapat. Semuanya penuh. Keluarganya sudah berusaha sejak dari pagi sampai sore, tidak berhasil," ungkapnya.
Waktu itu, lanjut Pembina Asosiasi Pengusaha Oleh-Oleh (ASPOO) Jateng ini, kondisi serupa terjadi di berbagai kota di Indonesia. Tidak hanya di Semarang saja.
Atas bantuan Bupati Kendal Dico Mahtado Ganinduto akhirnya bisa dirawat di ruang ICU RSUD dr H Soewondo Kendal. Di sana mendapatkan perawatan intensif.
Setelah dirawat sekitar dua minggu di ruang ICU RSUD dr H Soewondo Kendal, hasil tes swabnya negatif. Keluarganya sangat bersyukur dan bahagia sekali atas hal tersebut.
Namun teman Dr Aqua itu ada penyakit bawaan (komorbit) yaitu di paru-parunya. Untuk penyembuhannya membutuhkan ventilator non invasive Di RSUD dr H Soewondo Kendal alatnya tidak ada.
Untuk itu harus dibawa ke salah satu rumah sakit besar di Semarang. Tapi kondisinya masih sama dengan dua minggu sebelumnya yaitu semua rumah sakit penuh termasuk Rumah Sakit Kariadi, Rumah Sakit Telogorejo, atau Rumah Sakit St Elizabeth.
Akhirnya teman Dr Aqua itu menghembuskan nafas terakhir di RSUD dr H Soewondo Kendal. Seluruh keluarganya sangat berduka.
"Saya merasa kehilangan sekali. Beliau semasa hidupnya sangat baik pada semua orang termasuk kepada saya. Setiap ke Semarang meski sebentar, saya sempatkan mampir ke rumahnya," tutur Dr Aqua.
Meski teman akrabnya itu sudah meninggal, namun Dr Aqua sampai sekarang masih terus komunikasi dan silaturahim ke keluarganya. Selalu memberi motivasi pada istri dan anak-anaknya untuk meneruskan berbagai kebaikan yang telah dilakukan suami dan bapak mereka.
Rasa syukur berikutnya ucap pria yang senang berteman ini, bekerja di Pemerintah Kota Semarang. Merupakan institusi yang sangat kredibel di dunia. Tidak hanya di Jawa Tengah dan Indonesia.
Jika ketemu dengan masyarakat internasional, begitu memperkenalkan diri sebagai pegawai Pemerintah Kota Semarang, mereka pasti hormat dan sangat menghargai.
Kenapa? Karena di semua negara ada pegawai pemerintah. Biasanya orang pilihan yang masuknya menjadi pegawai melalui secara yang ketat.
"Para pegawai pemerintah identik dengan orang-orang yang pintar. Apalagi beberapa tahun terakhir ini di Indonesia seleksi jadi aparatur sipil negara makin ketat," ungkap Aqua.
Penghargaan yang diperoleh dari banyak orang karena bekerja di Pemerintah Kota Semarang, kata penulis buku "super best seller" yang berjudul "The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi" ini, tidak dapat digantikan dengan materi berapapun.
Selanjutnya yang perlu disyukuri, papar Dr Aqua, bekerja di Pemerintah Kota Semarang yang sejak dipimpin Hendi prestasinya banyak sekali. Setiap tahun menerima berbagai penghargaan tidak hanya setingkat Jawa Tengah dan Indonesia, tetapi juga dunia.
Semua penghargaan itu menimbulkan banyak rasa kagum, baik dari masyarakat Indonesia maupun dunia. Mereka ingin datang ke Semarang untuk dapat merasakan langsung suasana yang sangat menyenangkan di Kota Semarang.
"Melihat kemajuan Kota Semarang selama dipimpin Pak Hendi dan semua prestasi yang diraih, membuat saya ingin jadi warga Semarang. Rasanya senang tinggal di kota ini," kata Dr Aqua yang disambut dengan tepuk tangan seluruh yang hadir.
Seluruh kesuksesan itu, ungkap Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat Bidang Komunikasi Publik ini, adalah hasil dari kerja keras dan kerjasama semua pegawai yang dipimpin Hendi. Untuk itu agar makin dikuatkan kolaborasinya sehingga emakin banyak penghargaan yang diterima.
"Saya optimistis ke depan kinerja Pemerintah Kota Semarang lebih meningkat lagi bahkan melesat. Itu karena selama memimpin Kota Semarang, Mas Hendi selalu menunjukkan keteladanan dan prestasinya luar biasa," ujar Aqua.
Menurut motivator ulung itu, Hendi adalah role model, tidak hanya bagi jajarannya tetapi juga warga Semarang. Selama memimpin pria rendah hati tersebut telah menunjukkan prestasinya yang gemilang.
Dr Aqua merasa terhormat mendapat undangan untuk melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi dari Hendi. Kesempatan tersebut sekaligus dioptimalkannya untuk banyak belajar pada Hendi dan jajarannya.(rel/idr) Editor : padek