Meski tidak secara gambling menyebut Rusia dan Ukraina, presiden secara jelas meminta agar perang distop. ”Setop perang,” kata Jokowi. Sebab, perang itu menyengsarakan umat manusia dan membahayakan dunia.
Dalam kesempatan terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Teuku Faizasyah juga menyampaikan pernyataan serupa. Dia mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia meminta agar semua pihak tetap mengedepankan perundingan dan diplomasi untuk menghentikan konflik.
Kedua negara didorong untuk mengutamakan penyelesaian secara damai. ”Pemerintah Indonesia mengingatkan agar kedua negara menaati hukum internasional dan Piagam PBB terkait integritas terhadap wilayah teritorial di suatu negara,” katanya.
Selain itu, Indonesia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik bersenjata di wilayah Ukraina tersebut. sebab, kondisi ini tentu sangat membahayakan keselamatan rakyat dan berdampak bagi perdamaian di kawasan tersebut.
”Indonesia mengecam segala tindakan yang nyata-nyata merupakan pelanggaran wilayah teritorial dan kedaulatan suatu negara,” ungkapnya.
Diakuinya, kedua negara merupakan sahabat Indonesia. Hubungan bilateral antar masing-masing negara pun baik, apakah itu Indonesia-Ukraina maupun Indonesia-Rusia. Sehingga, naiknya eskalasi antara Ukraina dan Rusia bakal berpengaruh pada Indonesia. Misalnya, di sisi perdagangan maupun pergerakan orang.
”Apabila terjadi konflik pengaruhnya tidak hanya negara di kawasan Eropa. Tapi negara lain juga,” tuturnya.
Oleh karenanya, Presiden Jokowi dan Menlu Retno Marsudi telah berulang kali memberikan himbauan agar semua pihak menahan diri. Terutama di saat ini, di mana semua negara sedang dihadapkan tantangan akibat pandemi Covid-19 dan kontraksi ekonomi yang berlangsung.
Sehingga, seyogianya tidak ada tambahan masalah di tingkat global. Karena akan mempersulit recovery pemulihan ekonomi dunia dan upaya untuk keluar dari pandemi. ”Bisa dimaknai, konflik apabila terus mengalami eskalasi akan menimbulkan tekanan baru bagi banyak negara,” tegasnya.
Indonesia sendiri tidak berdiam diri atas isu ini. Sejak awal, Menlu Retno telah mengeluarkan statement, serta melakukan kontak pembicaraan dengan perwakilan kedua negara. Indonesia pun telah menyampaikan pandangan mengenai isu ini melalui negara sahabat.
”Indonesia tidak berhenti memberikan keyakinan pada pihak konflik bahwa jalur perdamaian adalah yang terbaik. Sehingga, harapan kita mereka menghentikan eskalasi dan kembali ke meja perundingan,” paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kemenlu Judha Nugraha memastikan, bahwa 138 WNI yang berada di Ukraina dalam kondisi aman. KBRI Kyiv telah menjalin komunikasi dengan seluruh WNI dan mereka diminta tetap tenang.
”Mayoritas mereka bertempat tinggal di Kyiv dan Odessa, beberapa lainnya tersebar di beberapa kota yang lain,” ujarnya.
Kendati demikian, lanjut dia, sesuai rencana kontijensi yang telah disusun, para WNI di Ukraina telah diminta untuk berkumpul di KBRI Kiev. Bagi WNI yang kesulitan menuju lokasi, diimbau untuk segera menghubungi nomor hotline KBRI Kyiv yang telah disediakan.
KBRI Kyiv sudah menyiapkan rencana kontijensi ini sejak awal isu ini muncul. Rencana kontijensi dibuat berdasarkan status kedaruratan di sana. Mulai dari siaga 3, 2, dan 1. Di mana, dalam masing-masing status siaga tersebut telah dilengkapi dengan langkah yang harus diambil.
Misalnya, saat ini WNI sudah diminta berkumpul di KBRI Kyiv. Kemudian, bila eskalasi terus naik, maka tidak menutup kemungkinan untuk proses evakuasi lebih lanjut. Dalam hal ini, KBRI Kiev dan Kemenlu pusat telah berkoordinasi dengan sejumlah perwakilan yang ada di negara-negara terdekat.
Seperti KBRI Warsawa di Polandia, KBRI Bratislava di Slovakia, KBRI Bukarest di Rumania, dan KBRI Moskow di Rusia. Semuanya telah menyusun rencana kontijensi untuk memberikan perlindungan pada WNI.
Sementara itu, merujuk pada akun media sosial salah satu WNI di Kyiv, Vanda Sakina Damayanti, suasana di Kiev mulai menegang usai sirine dibunyikan di kota. Kemudian, terdengar suara pesawat tempur yang lalu Lalang di atas langit Kyiv.
Masyarakat di sana pun mulai panik atas peringatan yang ada. Sebagian orang tampak mengantry untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Jalanan pun chaos, mobil sudah memadati jalanan Kyiv menuju ke perbatasan dengan harapan bisa menyebrang ke negara tetangga.
”Sekarang kita sudah di KBRI. Sementara kita ke sini dulu. Belum tahu aba-abanya seperti apa,” ujarnya. Sejumlah WNI lainnya pun tampak sudah berkumpul di KBRI Kyiv bersama dengan keluarganya.
Menurutnya, pihak KBRI masih terus rapat terkait upaya evakuasi para WNI. Tim juga tengah memastikan WNI yang berada di perbatasan Timur Ukraina untuk bisa mencapai Kyiv. ”Ada kabar ledakan sudah sampai di pinggiran Kyiv. Doaian ya kita aman di sini dan bisa segera dievakuasi,” ungkapnya.
Harga Minyak Melonjak
Setelah pasukan Kremlin menyerang, kemarin harga minyak per barel tembus USD 103 atau setara dengan Rp 1,44 juta. Itu adalah harga tertinggi selama lebih dari 7 tahun. Pada 2014, harga minyak sempat tembus di atas USD 100 (Rp 1,4 juta) per barel ketika Rusia menginvasi Ukraina dan mencaplok Krimea.
Harga minyak juga sempat naik di posisi yang sama pada 2012 ketika negara-negara Barat memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi terhadap Iran. Salah satunya, larangan ekspor minyak mentah guna menghentikan program pengayaan nuklir Iran.
Pada 2011, minyak kembali naik karena Arab Spring. Maret 2011 harga minyak per barel tembus USD 127 atau Rp 1,8 juta. Negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara adalah penghasil minyak.
Rekor tertinggi tercatat pada 2008 yang mencapai USD 147 per barel atau Rp 2,1 juta. Saat itu harga naik karena stok rendah di AS dan menguatnya permintaan di Tiongkok. Di saat bersamaan terjadi kerusuhan di anggota OPEC, yaitu Iran dan Nigeria.
Rusia adalah pengekspor minyak mentah terbesar kedua di dunia. Moskow juga merupakan pengekspor gas alam terbesar dunia. Selama ini suplai minyak dan gas alam di Eropa bergantung dari Rusia.
Kenaikan harga tersebut bakal berpengaruh pada harga bahan bakar minyak (BBM). Itu ditambah dengan permintaan minyak yang melonjak karena di berbagai negara pembatasan untuk mencegah penularan Covid-19 mulai dicabut. Artinya, mobilisasi penduduk normal kembali.
Juru Bicara RAC Inggris Simon Williams mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak global pasti membuat harga bahan bakar grosir naik. Ujungnya, harga yang dijual ke masyarakat juga melonjak. Jika minyak mencapai USD 110 (Rp 1,6 juta) per barel, harga per liter BBM di negeri Ratu Elizabeth II tersebut bisa mencapai Rp 30 ribu.
”Jika harga menjadi setinggi itu maka bakal menyebabkan kesulitan keuangan yang tak terhitung bagi banyak orang yang bergantung pada mobil mereka untuk pergi bekerja dan menjalankan hidup,” tegasnya.
Direktur Investasi di AJ Bell Russ Mould mengungkapkan bahwa lonjakan harga minyak adalah berita buruk bagi bisnis dan konsumen. Ia bakal memicu inflasi lebih lanjut. Padahal, bulan lalu biaya hidup sudah mencapai level tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Itu dipicu oleh krisis energi dan tingginya harga bahan bakar serta makanan.
Itu meningkatkan tekanan pada anggaran rumah tangga. ’’Ukraina dan Rusia adalah pemasok makanan besar dan gangguan apapun pada pasokan akan memaksa pembeli untuk mencari sumber alternatif, yang dapat mendongkrak harga,’’ ujarnya.
Situasi geopolitik yang memburuk menciptakan resiko ketidakpastian di pasar global. Harga saham anjlok. Di lain pihak harga logam mulia seperti emas kini naik. Para investor memilih menyimpan aset mereka dalam bentuk emas. Harga emas kemarin sudah naik 2 persen. (mia/sha/fal/jpg) Editor : Novitri Selvia