Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Turki Kejar 131 Kontraktor Nakal, Indonesia Berangkatkan 100 Lebih Tenaga Medis

Novitri Selvia • Senin, 13 Februari 2023 | 10:36 WIB
TERBAKAR: Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto terbakar sekitar pukul 09.30 WIB kemarin. Bagian atap gedung hangus terbakar. Namun konstruksi temboknya masih kokoh berdiri.(HUMAS PEMKO SAWAHLUNTO)
TERBAKAR: Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto terbakar sekitar pukul 09.30 WIB kemarin. Bagian atap gedung hangus terbakar. Namun konstruksi temboknya masih kokoh berdiri.(HUMAS PEMKO SAWAHLUNTO)
Pemerintah Turki memburu para kontraktor. Utamanya mereka yang baru-baru ini mengerjakan gedung-gedung bertingkat di area yang dilanda gempa pada Senin (6/2). Bangunan yang mereka buat dianggap tidak sesuai dengan aturan sehingga menyebabkan parahnya kerusakan ketika gempa berkekuatan 7,8 dan 7,5 magnitudo itu mengguncang.

Pada Sabtu lalu (11/2), Kementerian Kehakiman telah menginstruksikan kantor kejaksaan di 10 provinsi yang terkena dampak gempa untuk membentuk Departemen Investigasi Kejahatan Gempa Bumi. Menurut pihak kementerian, sangat penting mengambil tindakan secepatnya untuk mengumpulkan bukti dan memberlakukan tindakan pencegahan bagi tersangka.

Wakil Presiden Turki Fuat Oktay kemarin (12/2) mengatakan, pihak berwenang telah mengidentifikasi 131 orang kontraktor, arsitek, dan insinyur yang dicurigai bertanggung jawab atas runtuhnya beberapa dari ribuan bangunan akibat gempa. Sebanyak 113 surat perintah penangkapan sudah dikeluarkan. Hingga kemarin, 14 orang sudah ditahan. Jaksa berencana melakukan 33 penahanan lagi.

“Kami akan menindaklanjutinya dengan cermat sampai proses peradilan yang diperlukan selesai, terutama untuk bangunan yang mengalami kerusakan berat dan menyebabkan kematian serta luka-luka,” ujar Oktay.

Salah satu yang ditahan adalah Mehmet Yasar Coskun, seorang kontraktor yang membangun kompleks perumahan kelas atas 12 lantai di Antakya. Bangunan itu termasuk yang runtuh saat gempa. Dia ditangkap di Bandara Istanbul saat hendak naik pesawat ke Montenegro.

Blok perumahan yang berisi 249 apartemen tersebut baru selesai satu dekade lalu. Coskun mengatakan kepada jaksa bahwa dia tidak tahu mengapa bangunan itu runtuh. “Kami memenuhi semua prosedur yang ditetapkan dalam undang-undang,” ujarnya pada kantor berita Anadolu.

Menteri Lingkungan Hidup Murat Kurum mengatakan, berdasarkan penilaian awal, ada 24.921 bangunan yang telah runtuh atau rusak berat akibat gempa. Para pemimpin oposisi telah lama menuduh pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan tidak menegakkan peraturan bangunan dan gagal memperhitungkan hasil aturan khusus yang diberlakukan setelah gempa Izmit 1999 untuk memastikan blok apartemen dan kantor lebih tahan gempa.

Penangkapan para kontraktor itu dinilai sebagai upaya Erdogan untuk mengalihkan tanggung jawab ke orang lain. Itu karena dia menuai banyak kritikan akibat respons yang dinilai lambat dalam penanganan gempa. Hingga kemarin jumlah korban jiwa akibat gempa terus melonjak tajam.

Yaitu 33.181 orang. Rinciannya sebanyak 29.605 di Turki dan 3.576 di Syria. Tim penolong juga masih melihat keajaiban dengan menemukan beberapa korban dalam kondisi hidup meski sudah 140 jam lebih tertimbun.

“Kami mengalami bencana besar yang mempengaruhi 12-15 juta orang, tetapi seandainya kami melakukan persiapan yang diperlukan, kehancurannya mungkin tidak sebesar ini,” ujar Kepala Kamar Insinyur Sipil Taner Yuzgec.

Dia menegaskan bahwa telah terjadi kekurangan dalam proses perencanaan dan konstruksi bangunan. Sebab, jika dalam bencana yang sama satu bangunan roboh tapi bangunan di sampingnya tetap berdiri, maka itu tidak bisa disebut dengan takdir.

Profesor dari Departemen Geologi Istanbul Technical University (ITU) Cenk Yaltirak di lain pihak mengungkapkan, gempa di Turki lebih mematikan dan merusak dibanding gempa dengan kekuatan serupa di negara lain. Sebab, permukiman penduduk didirikan di tempat yang salah.

Yaltirak mengatakan, ada banyak faktor di balik kehancuran tersebut. Mulai dari bangunan bertingkat tinggi hingga penyebarannya di atas tanah. Dia mengkritik pemberian izin konstruksi ke daerah yang tidak memenuhi persyaratan dan memperingatkan agar rekonstruksi tidak dilakukan dengan cara yang sama.

Itu karena kemungkinan gempa bumi dengan kekuatan yang sama berlanjut di perpanjangan patahan dengan Syria. Dia juga berpendapat bahwa populasi Istanbul harus dibatasi hingga 10 juta sebagai tindakan pencegahan terhadap kemungkinan gempa di Marmara.

Sementara itu, saat ini penduduk di area gempa mulai melakukan penjarahan. Itu utamanya terjadi di toko-toko yang masih berdiri. Rekaman video amatir menunjukkan pemilik toko yang marah mengejar seorang pria yang diduga mencuri di selatan Kota Antakya.

Para penjarah tidak hanya mengejar kebutuhan pokok, tapi juga barang-barang mahal seperti HP. “Ada toko telepon di dekat saya di mana semua telepon telah dicuri,” ujar Nizamettin Bilmez, salah satu penjaga toko.

Menurut dia, jika yang diambil hanya kebutuhan pokok, maka itu tidak masalah. Memang, selama 2 hari awal bantuan belum merata. Tapi para penjarah itu juga mengambil mesin pembuat kopi dan alat-alat eletronik lainnya. Tim keamanan Turki menangkap setidaknya 98 tersangka penjarahan Sabtu.

Menyikapi laporan penjarahan di wilayah tersebut, Presiden Erdogan berjanji bahwa pelakunya akan ditangani dengan tegas. Menurutnya, status darurat yang diterapkan di sepuluh provinsi yang terkena dampak gempa akan memungkinkan pihak berwenang untuk bertindak guna mencegah insiden lebih lanjut.

Bangun Puluhan Tenda dan Rumah Sakit

Sementara itu, bantuan terus berdatangan ke Turki. Tak terkecuali dari Indonesia, dimana pemerintah telah mengirimkan tim kemanusiaan. Setibanya di Turki, tim akan langsung menjalankan misi di Kota Antakya, Provinsi Hatay.

Hal tersebut dikonfirmasi Dubes RI untuk Turki Lalu Muhamad Iqbal, kemarin (12/2). Menurutnya, Antakya merupakan kota tua dan paling padat penduduknya di wilayah Tenggara Turki. Kota yang memiliki penduduk sekitar 1,6 juta sebelum gempa ini, mengalami kerusakan paling parah.

Karena kepadatan penduduknya, diyakini bahwa korban meninggal dan luka berat paling banyak di kota dagang dan kota pelabuhan ini. Lebih lanjut Iqbal menjelaskan, di tahap awal Misi Kemanusiaan Indonesia akan mendirikan 10 tenda komando yang akan digunakan oleh AFAD maupun Tim Indonesia di Antakya.

Kemudian, didirikan pula 25 tenda keluarga dan rumah sakit lapangan. Kebijakan ini sesuai hasil koordinasi BNPB dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan KBRI Ankara sebelumnya.

Misi kemanusiaan ini direncanakan tiba di Turki dalam tiga gelombang. Gelombang pertama, yang terdiri dari dua pesawat militer B737-500 dan Hercules C-130 telah tiba kemarin (12/2). Tim mengangkut 47 orang Tim Medium Urban SAR dari INASAR (BASARNAS) serta peralatan pendukungnya.

Tim tersebut rencananya akan ditempatkan ke wilayah paling parah terdampak gempa yakni Gaziantep, Diyarbakir, Kahramanmaras, dan Hatay, dan akan bertugas selama satu bulan untuk membantu penanganan pasca gempa.

Tim MUSAR merupakan prioritas pemerintah mengingat pentingnya pencarian dan penyelamatan korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan selama ini masih dicari pasca gempa.

Kemudian, gelombang kedua dijadwalkan tiba 14 Februari 2023. Tim yang terdiri seratur lebih personil medis kedaruratan (Emergency Medical Team), yang dikoordinasikan Kementerian Kesehatan dan terdiri dari berbagai unsur termasuk tim dari Kesehatan TNI, Polri dan Muhammadiyah.

Selain membawa tenaga medis, rombongan yang diterbangkan dengan pesawat Airbus A330-300 milik Garuda Indonesia juga membawa bantuan kemanusiaan seberat 35 ton yang dikoordinasikan BNPB, sesuai permintaan pihak Turki. Antara lain 200 genset, rumah sakit lapangan, tenda pengungsi, selimut, hingga obat-obatan.

Sementara itu, rombongan ketiga diperkirakan akan tiba pada 19 Februari 2023 menggunakan pesawat Airbus A330-300 milik maskapai Garuda Indonesia. Tim akan mengangkut kargo bantuan logistik kemanusiaan seberat 35 ton.

“Sesuai arahan pihak Turki, Adana akan menjadi titik debarkasi seluruh penerbangan Misi Bantuan Kemanusiaan dari Pemerintah Indonesia,” terang Dubes Iqbal.

Plt. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Sumarjaya menambahkan, dalam misi kemanusiaan ini, Kementerian Kesehatan mengirimkan 65 tenaga medis “Tim medis ini akan diberangkatkan Senin (hari ini), dalam satu kloter dengan pesawat khusus,” kata Sumarjaya.

Tenaga medis yang dikirim terdiri dari dokter spesialis, tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan. Dokter spesialis sendiri terdiri dari spesialis bedah, spesialis orthopedi, spesialis anestesiologi, ahli pediatri, spesialis emergensi, spesialis kandungan, dan psikiater.

Sementara untuk tenaga kesehatan ada dokter umum, perawat kamar bedah, perawat IGD, perawat ICU, psikolog, farmasi, bidan, epidemiolog, ahli gizi, dan kesehatan lingkungan. Nantinya, tim kesehatan dari Kemenkes akan bersama dengan 39 tenaga medis dari TNI, Polri dan BNPB sebagai Emergency Medical Team (EMT).

Dengan demikian total tenaga medis yang akan diberangkatkan ke Turki dan Suriah sebanyak 104 orang. Sumarjaya menekankan bahwa dalam misi kemanusiaan ini Kementerian Kesehatan mengutamakan pada penyediaan layanan kesehatan yang cepat dan tepat kepada korban terdampak gempa.

Dengan pertimbangan itu, pemerintah Indonesia akan mendirikan rumah sakit lapangan dengan layanan EMT tipe 2. Maksudnya, peralatan dan layanan kesehatan yang disediakan tergolong lengkap serta dapat melakukan tindakan operasi khusus di lapangan.

“Rumah sakit lapangan EMT tipe 2 memiliki kapasitas cukup besar. Diantaranya mampu melayani pasien rawat jalan sebanyak 100-150 orang per hari, rawat inap sepuluh pasien per hari, bedah minor sepuluh pasien per hari, bedah mayor dua pasien per hari, dan mobile mampu melayani 50 pasien per hari,” katanya.

Pada tahap awal ini Kementerian Kesehatan juga akan mengirimkan 2,5 ton logistik kesehatan. Terdiri dari logistik non medis, perangkat medis, obat-obatan, dan Bantuan Medis Habis Pakai (BMHP). (sha/oni/mia/lyn/jpg) Editor : Novitri Selvia
#Turki Fuat Oktay #recep tayyip erdogan #gempa turki #basarnas