Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pembelajaran Pancasila Perlu Modifikasi, 76 Napiter Berikrar Setia NKRI

Novitri Selvia • Jumat, 2 Juni 2023 | 09:39 WIB
Ahmad Tholabi Kharlie.(NET)
Ahmad Tholabi Kharlie.(NET)
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Tholabi Kharlie mendorong Pancasila menjadi nilai yang operasional diterapkan di ruang publik. Kemudian nilai luhur Pancasila harus menjadi penggerak lahirnya iklim akademik yang berintegritas, khususnya di perguruan tinggi.

“Pancasila tidak sekadar menjadi teks beku yang melangit dan tak operasional,” katanya kemarin (1/6). Sebaliknya Pancasila harus operasional dan aktif melahirkan kebaikan di ruang publik.

Di lingkungan perguruan tinggi, Pancasila tidak sekadar menjadi mata kuliah wajib. Tetapi Pancasila harus menjadi inspirasi lahirnya dunia akademik yang berintegritas. Dia mengakui saat ini integritas di lingkungan perguruan tinggi sedang jadi sorotan publik. Diantaranya dari sejumlah kasus korupsi, suap, atau sejenisnya.

Tholabi yang juga Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menuturkan mahasiswa saat ini didominasi kelompok Generasi Z (Gen Z). Untuk itu pembelajaran Pancasila harus dilakukan modifikasi supaya kompatibel dengan kebutuhan Gen Z.

Sehingga pembelajaran Pancasila di kelas bisa lebih efektif. Tholabi mengutip hasil riset Pusat Studi Kebangsaan Indonesia (PSKI) Universitas Prasetiya Mulya bahwa generasi muda memahami Pancasila di ruang kelas hanya sebesar 28,6 persen.

Merujuk angka tersebut, pemahaman Pancasila di kalangan anak muda melalui kelas sangat kecil. Artinya pembelajaran Pancasila yang berjalan saat ini belum efektif untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila. “Mata kuliah Pancasila harus dimodifikasi dalam penyampaian di ruang kelas,” katanya.

Selain itu pengajar Pancasila juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Pancasila. Jadi para guru atau dosen Pancasila, bukan mengajar dengan bekal pemahaman Pancasila yang sekadarnya atau tekstual.

Untuk diketahui survei PSKI itu dirilis awal 2023 lalu. Kepala PSKI Universitas Prasetiya Mulya Hasan Wirayuda saat itu mengatakan para mahasiswa lebih menyukai jika sistem pembelajaran Pancasila di ruang kelas lebih interaktif. Bukan cenderung indoktrinasi seperti selama ini. Mahasiswa juga menilai pemberian tugas pelajaran Pancasila berupa praktik langsung di masyarakat sangat penting.

Di bagian lain Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyebutkan bahwa Pancasila merupakan bukti dari majunya peradaban Indonesia. Pasalnya dengan Pancasila, bangsa Indonesia bisa bersatu. “Mempersatukan Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama, yang wilayahnya terdiri dari ribuan pulau, bukanlah sesuatu yang mudah,” katanya.

Dia mengatakan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila, perlu dijadikan momentum bangsa Indonesia mengulang majunya peradaban itu. Yaqut menegaskan Pancasila sudah final. Dengan penerapan nilai-nilai Pancasila, sudah cukup untuk bisa hidup damai berdampingan dan saling menghargai.

Bentuk Rasa Cinta

Terpisah, masih bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, total ada 76 narapidana teroris (napiter) yang menyatakan ikrar setia NKRI, kemarin. Mereka merupakan napiter yang mendekam di tiga lapas berbeda. Yakni, 72 napiter dari Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, 2 dari Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur dan 2 dari Lapas Kelas IIA Banceuy.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Jawa Barat R. Andika Dwi Prasetya mengatakan bahwa kembalinya 76 napiter ke nusantara adalah sebagai bentuk rasa cinta mereka kepada tanah air Indonesia dan mengakui ideologi Pancasila.

“Tanggal 1 Juni ini bukan saja hari yang bersejarah bagi Indonesia, tetapi tanggal 1 Juni ini menjadi momen bersejarah bagi mereka (napiter) yang menyatakan ikrar setia NKRI di lapas ini,” kata Andika dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Andika mengungkapkan kembalinya napiter ke pangkuan bumi pertiwi bukan sekadar momen ikrar janji belaka, tetapi bahwa mereka memastikan dan berkomitmen untuk siap berkarya demi Indonesia Maju. “Itulah janji mereka yang harus mereka tunaikan sebagai tekad dan jihadnya untuk Indonesia,” imbuhnya.

Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi Ditjenpas Erwedi Supriyatno menambahkan pembinaan napiter yang dilaksanakan adalah kolaborasi antara Ditjen Pas, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur dan Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur. Serta Lapas Narkotika Kelas IIA Banceuy dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). (wan/syn/tyo/lyn/jpg) Editor : Novitri Selvia
#Ahmad Tholabi Kharlie #pancasila #hari lahir pancasila #PSKI