PADEK.CO-Ketua RT 06 RW 04 Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Malkan secara tegas membantah bahwa permasalahan sapi kurban milik Dewi Perssik terjadi akibat adanya preferensi politik yang berbeda.
Malkan mengaku masalah ini tidak ada kaitannya dengan masalah politik sama sekali.
"Saya tidak pernah bawa-bawa politik. Boleh dilihat dari masjid ini, khatib pun walaupun Pak Anies ada di lingkungan saya, saya tidak perkenankan khatib bicara politik. Bisa ditanya sama jamaah," kata Malkan saat ditemui di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (29/6/2023).
Keinginan untuk tidak membawa permasalahan agama dengan politik disebut Malkan juga sejalan dengan bakal capres Anies Baswedan yang merupakan jamaah masjid di wilayahnya.
"Saya pernah tanya sama Pak Anies, karena dia salat di sini terus, bapak mau jadi khatib di sini? Saya nggak mau mencampuri, itu kata beliau. Dalam bahasa sederhananya, beliau tidak menginginkan masjid jadi ajang politik," katanya lebih lanjut.
Usai pertemuan klarifikasi bersama Dewi Perssik di Masjid Babul Khoirot, Malkan menceritakan awal mula terjadinya permasalahan soal sapi kurban milik Depe.
"Kemarin saya datang ke masjid. Menurut informasi dari ustad Qurtubi, Depe mau motong hewan kurbannya di sini. Saya bilang ya silakan. Selang sekitar 15 menit, datang sapinya. Satu ekor sapi, satu ekor kambing," terangnya di hadapan awak media.
Beberapa jam kemudian Ketua RT mendapatkan kabar dari pihak Dewi Perssik bahwa sapinya akan dipotong di tempat lain. Mendengar hal tersebut, dia pun mempersilakannya.
"Saya bilang silakan diambil tapi sapinya diangkat sendiri. Saya diminta tolong untuk bantu, saya tidak mau. Tiba-tiba datang lagi kedua kalinya, minta tolong mau dikasih uang rokok katanya. Saya bilang, 'jangankan uang rokok dikasih Rp 100 ribu, Rp 200 ribu, Rp 1 juta, Rp 2 juta, Rp 100 juta pun saya tolak buat ngangkat sapi'. Karena bukan kapasitas saya naikin sapi," tuturnya.
Malkan menduga inilah titik permasalahannya dengan Dewi Perssik. Depe marah lantaran dirinya menolak untuk membantu mengangkat atau memindahkan sapi.
"Yang jadi masalah mungkin karena kita nggak bantu. Tiba-tiba malamnya dia live Instagram sapinya ditolak. Ditolak kok sampai 4 jam di sini," tutur Malkan.
Selain memang bukan kapasitasnya untuk mengangkat sapi yang diperkirakan mencapai berat 1,5 ton beratnya, Malkan mengaku ada tindakan kurang pantas dalam hal ini. Pasalnya, Dewi Perssik mengambil sapi yang sudah diserahkan meskipun dagingnya dijanjikan akan diberikan untuk warga di sekitar.
"Sapi sudah diserahin ke ente, tiba-tiba saja diambil, preseden buruk donk. Ada apa nih kok nggak percaya," katanya.
Sementara itu, Dewi Perssik membenarkan bahwa pihaknya memang akan mengambil sapi untuk dipotong di tempat berbeda. Pertimbangan itu diambilnya setelah mempertimbangkan biaya pemotongan.
"Karena kan ngomongin masalah duit, ya sudah pak tenang saja nanti dipotongkan saja. Kita utarakan seperti itu," papar Dewi Perssik.
Saat melakukan live di Instagram pada Selasa (27/6/2023) malam lalu, Dewi Perssik memang mengakui kalau dirinya akan meminta bantuan relawan Ganjar untuk membantu pemotongan hewan kurbannya. Hal itu dilakukannya setelah mempertimbangkan masalah biaya pemotongan.
Atas pernyataan Dewi Perssik tersebut, netizen lantas menduga masalah ini ada kaitannya dengan politik. Penolakan RT atas hewan kurban Depe, dalam spekulasi netizen, akibat adanya preferensi politik berbeda antara Dewi Perssik dan RT tempat tinggalnya.
Akan tetapi tudingan itu secara tegas dibantah oleh Malkan ataupun Dewi Perssik. Keduanya mengaku urusan sapi kurban tidak ada kaitannya dengan politik.
"Kalau ada yang tersinggung terkait pernyataan Dewi Perssik soal politik, itu urusan lain. Dan itu bukan perkara saya," tandas Malkan.
Dipotong di Pejagalan
Sapi kurban milik penyanyi dangdut Dewi Perssik akhirnya dipotong di Pejagalan. "Dipotong di pejagalan Mas," ujar Dewi Perssik kepada JawaPos.com, Kamis (29/6/2023).
Depe mengatakan, sekalipun dipotong di Pejagalan, dia memastikan daging sapi kurbannya itu akan tetap dibagikannya untuk warga sekitar rumahnya di daerah Lebak Bulus Jakarta Selatan.
"Semuanya memang untuk warga Mas dari awal, bukan untuk siapa-siapa. Ini RT-nya yang salah paham karena dari awal kita komunikasinya dengan pak ustad," tutur pemilik nama asli Dewi Murya Agung.(jpg)