Universitas Andalas (Unand) melalui Pusat Studi Bencana dan Pusat Tanggap Darurat menurunkan tim ke lokasi terdampak untuk membantu memetakan dampak bencana dan memberikan rekomendasi solusi.
Adapun tim tersebut terdiri dari Prof. Febrin Anas Ismail, Prof. Abdul Hakam, Prof. Fauzan, Prof. Bambang Istijono, Gusti Sumarsih, M.Biomed, Mohd Jamil, M. Biomed, Ns. Mahathir, dan Ns. Zafitra Patriotga serta Yenny Narny, Ph.D.
Guru Besar Fakultas Teknik Unand, Prof. Febrin Anas Ismail memperkirakan material yang disemburkan erupsi Marapi telah mencapai 300 ribu meter kubik.
Material tersebut sebagian menumpuk pada hulu sungai yang bisa menyebabkan banjir lahar dingin. Untuk itu, diharapkan kegiatan pemetaan pada sungai prioritas yang paling berbahaya dan potensi menyebabkan banjir bandang.
Menurut Febrin Anas Ismail, banjir bandang lahar dingin dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya:
- Hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu Gunung Marapi.
- Tumpukan material pohon tumbang di lembah sungai Batang Anai yang membentuk bendungan alam.
- Dampak getaran gempa vulkanik Gunung Marapi.
- Curah hujan lebih dari enam jam yang mengakibatkan runtuhnya bendungan alam.
- Kemiringan dasar sungai Batang Anai yang terjal.
- Limpasan air akibat penyumbatan pada daerah jembatan dan penyempitan alur sungai.
- Loncatan atau overtopping pada alur yang berkelok.
- Pengurangan kapasitas alur sungai akibat pengendapan material angkutan.
- Sempadan sungai yang belum diterapkan, dengan banyak bangunan berada di pinggiran sungai.
Dampak Bencana
Banjir bandang lahar dingin telah mengakibatkan:
- Hingga Sabtu (18/5/2024) total korban jiwa sebanyak 61 orang meninggal dunia, dan 14 orang masih dalam pencarian.
- Ratusan rumah rusak berat dan sedang.
- Ratusan hektare lahan pertanian rusak tertimbun lumpur dan kayu-kayuan.
Solusi yang Ditawarkan Unand
Prof. Febrin bersama tim Unand menyampaikan beberapa solusi untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa depan, antara lain:
- Pembangunan sabo-dam di hulu sungai.
- Pembangunan pengontrol kemiringan dasar sungai agar kecepatan air normal.
- Mengembalikan fungsi jalan nasional.
- Segera membuat peraturan tentang sempadan sungai Batang Anai.
- Menyusun Rencana Aksi (Renaksi).
- Melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi (rumah, sarana umum, pendidikan, sosial, dan infrastruktur ketahanan pangan).
- Penguatan masyarakat tanggap bencana.
- Merencanakan pembangunan sabo-dam dan suplai irigasi.
Siap Membantu Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Rektor Unand, Prof. Efa Yonnedi mengucapkan turut berduka cita atas terjadinya bencana ini dan mengajak semua pihak bersatu membantu korban terdampak.
"Unand siap membantu dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, termasuk pemulihan ekonomi dan pemulihan fungsi fasilitas umum," kata Efa.
Menurutnya, Tim Tanggap Darurat Unand yang diketuai Gusti Sumarsi juga telah melakukan pengobatan dengan mobil klinik ke tempat-tempat pengungsian dan mengadakan kegiatan trauma healing untuk membantu meringankan beban para korban.
Diperlukan upaya bersama dari semua pihak untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa depan dan membantu para korban untuk bangkit kembali.(*)