Djokovic menang dengan skor 7-6 (3), 7-6 (2), dan menjadikannya pemain kelima dalam sejarah tenis yang menyelesaikan 'Golden Slam' dengan memenangkan semua: empat gelar Grand Slam ditambah medali emas.
Prestasi petenis Serbia ini membuatnya sejajar dengan Steffi Graf, Andre Agassi, Rafael Nadal, dan Serena Williams.
Setelah memenangkan emas Olimpiade untuk pertama kalinya, Djokovic menggambarkan betapa sulitnya pertandingan tersebut.
"Kami hampir bermain tiga jam untuk dua set. Pertarungan luar biasa, perlawanan luar biasa," katanya kepada Eurosport.
"Ketika pukulan terakhir melewati dirinya, itu adalah momen pertama saya berpikir saya bisa memenangkan pertandingan. Saya percaya saya bisa menang, tetapi untuk benar-benar menang..."
"(Alcaraz) terus datang kembali, dia terus meminta saya untuk bermain tenis terbaik saya. Mungkin adil untuk mengakhiri kedua set dengan tiebreak," pungkasnya.
Djokovic menunjukkan keharuan yang berbeda dari 24 gelar Grand Slam yang pernah dimenangkannya.
Semakin bahagia Djokovic, semakin terlihat bagaimana petenis Spanyol Alcaraz merasa terpukul.
Alcaraz tidak mampu memanfaatkan hingga delapan break point di set pertama, dan tampil lebih buruk dari petenis Serbia itu di momen-momen penting pertandingan.
Setelah menang, Djokovic menangis di bangkunya, kemudian naik ke tribun untuk memeluk erat keluarganya. Kemudian dia kembali ke lapangan untuk menerima medali emas.
Penonton di Court Philippe Chatrier berdiri memberikan penghormatan untuk Carlos Alcaraz yang meraih medali perak.
Saat bersiap untuk berbicara kepada Eurosport, air mata tidak dapat dibendung petenis berusia 21 tahun itu.
Alcaraz telah meraih banyak kemenangan dalam karir tenis dan ingin terus melakukannya.
Namun, ia kali ini menyaksikan Djokovic menunggu hingga usia 38 tahun untuk meraih medali emas.
Kekalahan dalam final Grand Slam tentu berat, tetapi kalah dalam pertandingan emas Olimpiade sangat menyakitkan.(*)
Editor : Heri Sugiarto