Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

BI Pangkas Suku Bunga Acuan, Pertimbangannya Rupiah Menguat dan Inflasi Rendah

Novitri Selvia • Kamis, 19 September 2024 | 09:19 WIB

Gubernur BI Perry Warjiyo. (Jawapos)
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Jawapos)

PADEK.JAWAPOS.COM-Bank Indonesia (BI) memangkas 25 basis poin (bps) suku bunga acuan menjadi 6 persen. Keputusan tersebut diambil usai rapat dewan gubernur, kemarin (18/9).

Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran juga terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Terakhir kali, bank sentral menurunkan BI rate pada 18 Februari 2021.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan sejumlah pertimbangan dalam memangkas BI-rate. Menurut dia, arah penurunan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) alias Fed funds rate (FFR) mulai terlihat.

Sejalan dengan inflasi Amerika Serikat (AS) yang mulai mendekati sasaran jangka menengah sebesar 2 persen di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran. Hasil rapat dewan gubernur memperkirakan bahwa FFR akan turun tiga kali tahun ini dan tahun depan adalah empat kali.

“Perkiraan kami dengan data dan asesmen terbaru kemungkinan turunnya adalah September, November, dan Desember tahun ini. Masing-masing 25 basis poin,” kata Perry.

Meski tidak menutup kemungkinan, FFR bisa turun 50 bps pada September. Hanya saja probabilitasnya kecil. Hal itu sejalan yield US Treasury tenor 2 tahun menurun lebih besar. Sehingga, menjadi lebih rendah dari yield US Treasury 10 tahun.

“Karena US Treasury 2 tahun ini oleh investor asing digunakan untuk menentukan mau beli SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) atau tidak,” imbuhnya.

Berbagai perkembangan tersebut mendorong semakin meredanya ketidakpastian pasar keuangan global. Di saat bersamaan, aliran masuk modal asing ke negara berkembang ikut terkerek. Termasuk, Indonesia.

BI mencatat investasi portofolio arus masuk bersih (net inflows) sebesar USD 10,1 miliar pada kuartal III 2024. Sementara itu, indeks mata uang dolar AS (USD) terhadap mata uang negara utama (DXY) juga melemah.

Nilai tukar Rupiah stabil bahkan cenderung menguat. Hingga Selasa (17/9) , nilai tukar mata uang Garuda berada pada level Rp 15.330 per USD atau menguat 0,78 persen dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2024. Sedangkan, secara year-to-date (YtD), terapresiasi sebesar 0,4 persen.

“Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI (surat berharga valuta asing Bank Indonesia), dan SUVBI (sukuk valuta asing Bank Indonesia) guna memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran masuk modal asing dan mendukung penguatan nilai tukar rupiah,” beber alumnus Iowa State University itu.

Dia mengatakan, kepemilikan asing dalam SRBI mencapai Rp 246,08 triliun. Implementasi primary dealer (PD) sejak Mei 2024 semakin meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar.

Sehingga, memperkuat efektivitas instrumen moneter dalam stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi. Pertimbangan selanjutnya, kata Perry, inflasi tetap rendah. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) tercatat 2,12 persen year-on-year (YoY) pada Agustus 2024. Dengan inflasi inti sebesar 2,02 persen YoY.

“Kami sudah menakar probabilitas-probabilitas itu sehingga tidak perlu menunggu. The time is right. Oleh karena itu, waktu sekarang tepat untuk menurunkan suku bunga. Inflasi kami perkirakan tetap terkendali 2,5 plus-minus 1 persen,” ujarnya.

Berkontribusi Cost of Fund Bank Berkurang

Terpisah, Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menyampaikan, langkah bank sentral dalam menurunkan BI-rate dari 6,25 persen menjadi 6,00 persen merupakan kebijakan pre-emptive dan ahead the curve dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan nasional.

Kebijakan ini menjadi upaya otoritas moneter untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi global, khususnya FFR serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

“Adapun, penurunan suku bunga ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan biaya dana (cost of fund) di sektor perbankan, yang pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi efisiensi operasional serta pertumbuhan kredit,” terang Ali.

Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menuturkan, keputusan BI memangkas suku bunga acuannya sejalan dengan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Sehigga memungkinkan para pembuat kebijakan mengambil keputusan yang lebih akomodatif.

“Kehati-hatian dalam mengelola fiskal, inflasi turun, rupiah apresiasi, dimulainya kembali arus masuk USD dan kebijakan The Fed yang mulai longgar. Hal ini sudah menguat pandangan kami bahwa poros dovish akan segera terjadi,” jelasnya.

Cadangan devisa juga meningkat sebesar USD 4,8 miliar ke rekor tertinggi USD 150,2 miliar. Itu seiring masuknya portofolio asing ke dalam pasar domestik termasuk SRBI.

Dengan demikian, dapat mendukung BI untuk mempertahankan nilai tukar Rupiah di tengah-tengah peristiwa risk-off yang tidak terduga. (han/dio)

Editor : Novitri Selvia
#bi #BI Pangkas Suku Bunga Acuan #perry warjiyo #inflasi rendah