Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Gibran: Saya Loyal Semua Keputusan Presiden

Novitri Selvia • Senin, 14 Oktober 2024 | 09:24 WIB

Gibran Rakabuming Raka. (JAWAPOS)
Gibran Rakabuming Raka. (JAWAPOS)

PADEK.JAWAPOS.COM-Masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tinggal seminggu lagi. Pada hari-hari terakhir ini, Jokowi makin sering berdiskusi dengan Prabowo Subianto. Kemarin (13/10) keduanya kembali bertemu. Kali ini, pertemuan di kediaman Jokowi di Solo itu diikuti Wapres Terpilih Gibran Rakabuming Raka.

Prabowo dan Gibran tiba di rumah Jokowi di Jalan Kutai Utara I, Kelurahan Sumber, Banjarsari, pukul 14.15 WIB. Gibran menjemput Prabowo di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali. Pantauan Jawa Pos Radar Solo (grup Padang Ekspres), pertemuan tertutup itu berlangsung selama kurang lebih 90 menit.

Prabowo meninggalkan kediaman Jokowi pukul 15.45 WIB. Dia tidak memberikan pernyataan apa pun usai bertemu dengan Jokowi. Prabowo langsung menuju bandara dan kembali ke Jakarta.

Sebelum pertemuan itu, Gibran menyatakan bahwa dirinya telah menyerahkan susunan menteri kepada Prabowo. Namun, untuk keputusan akhir, termasuk jumlah menteri yang membantu presiden, Gibran menyerahkannya kepada Prabowo selaku pemilik hak prerogatif.

“Saya yakin beliau (Prabowo, red) sudah memilih personel-personel yang tepat. Personel-personel yang memang expertise (ahli) di bidang masing-masing,” kata Gibran usai blusukan di Pasar Tradisional Ampel dan KUD Musuk, Minggu pagi. Gibran meminta publik untuk menunggu hasil penyusunan kabinet.

Pada kesempatan itu, Gibran belum bisa memastikan berapa jumlah kementerian dalam pemerintahan baru. Dia kembali menegaskan bahwa hal tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Prabowo. “Kita tunggu saja, yang jelas saya menghormati keputusan beliau dan saya loyal kepada semua keputusan Pak Presiden terpilih,” ujarnya.

Terpisah, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno ketika dihubungi Jawa Pos tak mau banyak berkomentar tentang pertemuan Prabowo dengan Jokowi dan Gibran. “Silaturahmi kebersamaan dan keberlanjutan. Itu tema utamanya,” katanya singkat.

Jokowi dan Prabowo belakangan memang kerap bertemu. Selasa lalu, mereka makan malam di Hutan Kota Plataran. Pertemuan itu berlangsung 2,5 jam. Pada Kamis (10/10), Jokowi pun membenarkan adanya pertemuan tersebut. “Membahas banyak banget. Ada politik, ada urusan ekonomi,” ungkapnya.

Analis komunikasi politik Hendri Satrio melihat pertemuan Jokowi, Prabowo, dan Gibran sebagai bentuk kekompakan. Namun, pertemuan itu sejatinya akan lebih komplet jika Wapres Ma’ruf Amin juga dilibatkan. Itu seiring adanya Gibran dalam pertemuan tersebut.

“Pertemuan itu akan lebih komplet dan memiliki kesan serta makna yang luar biasa kalau ada Kiai Ma’ruf Amin,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin. Kehadiran Ma’ruf Amin akan semakin melegitimasi bahwa pertemuan tersebut membahas transisi pemerintahan dari Jokowi-Ma’ruf ke Prabowo-Gibran.

Karena tidak ada Ma’ruf Amin, Hensat –sapaannya— melihat pertemuan itu bukan hanya sekadar membicarakan transisi pemerintahan. Tapi juga urusan lain. Salah satunya terkait dengan rencana pertemuan Prabowo dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Menurut Hensat, jika melihat ekspresi Jokowi yang semringah setelah bertemu dengan Prabowo, ada kemungkinan wacana pertemuan Prabowo-Megawati sudah klir atau sudah direstui Jokowi. Rencananya, pertemuan Prabowo-Megawati akan dilakukan akhir pekan ini atau menjelang pelantikan.

Pengamat politik Ujang Komarudin menambahkan, pertemuan intensif antara Jokowi dan Prabowo bisa dilihat sebagai upaya Jokowi untuk menjaga dan mengamankan transisi pemerintahan. Dia menyebut langkah Jokowi itu penting dilakukan demi menjaga transisi pemerintahan berjalan mulus.

Selain itu, Ujang sepakat bahwa pertemuan Prabowo dan Jokowi membicarakan rencana Prabowo memasukkan PDIP dalam koalisinya. Menurut Ujang, langkah itu tentu perlu dibicarakan. Apalagi, di tengah isu renggangnya hubungan PDIP dengan Gibran dan Jokowi.

“Nasib Jokowi setelah tidak menjabat tentu perlu dibahas. Kemudian soal Gibran lima tahun ke depan seperti apa,” tuturnya. Di luar itu, Ujang juga melihat Jokowi terus mendorong agar orang-orang kepercayaannya di pemerintahan bisa kembali masuk dalam kabinet Prabowo-Gibran.

Ma’ruf Amin Siap

Sementara itu, di sela groundbreaking Pesantren Darul Amin dan Masjid Mambaul Khair di Kabupaten Bogor kemarin (13/10), Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyampaikan kesiapannya jelang pergantian wapres pada 20 Oktober nanti. Dia mengatakan sudah siap sejak jauh-jauh hari.

“Bahkan sudah lama saya menanti datangnya 20 Oktober,” katanya disambut tawa peserta kegiatan. Sambil bercanda, Ma’ruf bahkan berharap kalau bisa dipercepat itu lebih baik. Sayangnya waktu tidak bisa dipercepat.

Dia menjelaskan, selepas jadi Wakil Presiden, dia akan lebih fokus pada dunia pendidikan. “Mengurus pesantren,” katanya. Ma’ruf sudah memiliki pesantren di daerah Tanara, Banten. Sedangkan pesantren Darul Amin yang groundbreaking, juga punya Ma’ruf Amin.

Dia lantas menyampaikan harapannya kepada pemerintah baru, di bawah komando Prabowo-Gibran. Dia menegaskan jalannya pemerintahan baru nanti tidak dimulai dari awal. Apalagi sejak awal Prabowo mengusung semboyan keberlanjutan. (tyo/wan/lyn/rgl/atn/oni/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#pratikno #susunan menteri #jokowi #gibran #prabowo #LOYAL #Ma'ruf Amin