Dalam hasil pemeriksaan, Kemenhub mengungkapkan bahwa salah satu faktor penyebab kecelakaan tragis ini adalah kondisi truk yang tidak terawat dengan baik.
Kecelakaan tersebut melibatkan bus Hino bernopol S 7607 UW yang membawa rombongan SMP IT Darul Qur’an Mulia Putri, Bogor, dan truk wing box bernopol S 9126 UU yang mengangkut pakan ternak.
Hasil ramp check yang dilakukan Kemenhub menunjukkan bahwa kondisi bus tersebut dalam keadaan baik-baik saja, sementara truk yang terlibat dalam insiden itu justru menunjukkan berbagai masalah mekanis.
Tim Penguji Penyelia dari Ikatan Penguji Kendaraan Bermotor Indonesia (IPKBI) Kemenhub menemukan sejumlah masalah serius pada truk wing box yang mengangkut 11,2 ton pakan ternak tersebut.
Penguji Penyelia IPKBI, Umar Faruq, menjelaskan bahwa truk tersebut mengalami masalah pada sistem pendinginan radiator yang menyebabkan truk mengalami overheat.
"Air radiator pada truk sudah habis, dan dua selang yang menghubungkan reservoir radiator terlepas. Akibatnya, air panas langsung terbuang keluar dan radiator menjadi kering. Ini membuat kendaraan lebih rentan terhadap overheat," ujar Umar Faruq, dilansir Jawa Pos Radar Malang, Selasa sore (24/12/2024).
Lebih lanjut, temuan lain menunjukkan adanya kebocoran pada sistem pengereman truk. Minyak rem pada kendaraan tersebut tercampur dengan air, dan reservoir tangki minyak rem juga kosong. Temuan ini mengindikasikan kurangnya perawatan pada kendaraan, meskipun rem tangan truk masih berfungsi dengan baik.
Umar juga menambahkan bahwa meskipun truk tersebut mengangkut muatan yang sesuai dengan kapasitas maksimal, yakni 11,2 ton, kondisi jalan yang menanjak dan kurangnya perawatan kendaraan menyebabkan truk melaju mundur.
"Truk berhenti karena overheat, kemudian sopir turun untuk mengganjal ban belakang dengan batu. Namun, ganjalan tersebut tidak cukup kuat, sehingga truk mulai bergerak mundur," jelasnya.
Tabrakan maut yang terjadi di Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, terjadi saat bus yang melaju dari arah belakang tidak dapat menghindari truk yang mundur. Benturan keras pun tak terelakkan, yang menyebabkan empat orang meninggal dunia dan 43 lainnya mengalami luka-luka. Korban yang meninggal antara lain sopir bus (US), kernet bus (ABR), istri guru pendamping (IM), dan pendamping dari Kampung Inggris Pare (TSM).
Kemenhub juga mengonfirmasi bahwa baik truk maupun bus sudah menjalani uji KIR, dengan uji KIR truk berlaku hingga Februari 2025 dan bus hingga Januari 2025. Namun, perawatan yang kurang pada truk diduga menjadi penyebab utama kecelakaan ini.
Insiden ini menjadi peringatan akan pentingnya pemeliharaan kendaraan secara rutin, baik untuk kendaraan pribadi maupun kendaraan angkutan umum, guna mencegah terjadinya kecelakaan serupa di masa depan. Kemenhub berjanji akan terus mengusut lebih lanjut dan memberikan tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kelalaian ini. (jpg)
Editor : Hendra Efison