Ia menekankan pentingnya Perum Bulog untuk mengoptimalkan penyerapan gabah hasil panen serta peran vital pemerintah daerah dalam mendukung swasembada pangan.
"Kami meminta pemerintah daerah untuk menjaga agar lahan pertanian tetap terjaga fungsinya dan tidak beralih menjadi lahan non-pertanian," ujar Zulhas dalam keterangan persnya, menambahkan bahwa lahan baku sawah (LBS) yang tercatat pada 2019 mencapai 7.463.948 hektare.
"Perubahan alih fungsi lahan harus dicegah, terutama pada sawah yang memiliki irigasi baik yang sudah dibangun dengan susah payah. Kita minta betul masyarakat juga turut mengawasinya," tegas Menko Pangan.
Selain itu, kebijakan pemerintah yang menekankan penghentian impor beras turut mempengaruhi pasar beras dunia. Kepala Badan Pangan Nasional (NFA) Arief Prasetyo Adi mengungkapkan bahwa keputusan Indonesia untuk menghentikan impor beras menjadi faktor penurunan harga beras global.
"Setelah pengumuman kebijakan kita, harga beras internasional turun drastis dari USD 640 per ton menjadi sekitar USD 400-an per ton pada awal 2025," ujar Arief dalam Rakor Bidang Pangan Provinsi Banten di Pendopo Gubernur, Serang, Banten, Jumat (10/1/2025) lalu.
Data dari NFA menunjukkan penurunan harga beras yang signifikan pada beberapa negara penghasil beras utama, seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Myanmar. Pada Januari 2024, harga beras di pasar internasional berkisar antara USD 622 hingga 655 per metrik ton. Namun, setelah kebijakan penghentian impor, harga beras dunia turun ke rentang USD 430 hingga 490 per metrik ton pada Januari 2025.
Penurunan harga beras ini juga tercermin dalam Indeks Harga Beras Dunia (FARPI) yang mengalami penurunan 1,2 persen pada Desember 2024 dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, secara tahunan, indeks FARPI di 2024 tercatat lebih tinggi 0,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mengindikasikan bahwa harga beras global masih cenderung stabil.
Bagi Indonesia, penurunan harga beras dunia membawa dampak positif bagi petani lokal. Indeks Nilai Tukar Petani Pangan (NTPP) menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, dengan NTPP di Februari 2024 mencapai angka tertinggi dalam lima tahun terakhir, yaitu 120,30. Bahkan di bulan Desember 2024, NTPP tetap stabil di angka 108,90, menggambarkan kesejahteraan petani yang semakin baik.
Selain itu, tingkat inflasi Indonesia juga tercatat dalam angka yang sangat rendah, yakni 1,54 persen pada 2024, yang merupakan angka terendah sejak 1958. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), stabilitas harga pangan menjadi salah satu faktor utama yang mendukung rendahnya inflasi pada tahun tersebut.
Dengan adanya dukungan dari pemerintah dalam menjaga harga pangan stabil dan kesejahteraan petani terjamin, Arief menegaskan pentingnya upaya penyerapan beras oleh Bulog untuk memastikan gabah hasil panen terserap dengan baik. "Panen gabah petani harus terserap sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto," ujarnya.
Secara keseluruhan, kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada impor dan memfokuskan pada penguatan sektor pertanian dalam negeri dipandang akan berdampak positif dalam memastikan kestabilan stok pangan, menjaga kesejahteraan petani, serta mendukung swasembada pangan nasional. (*)
Editor : Hendra Efison