"Pemerintah harus segera merancang peta jalan pembelian produksi Gabah Kering Panen (GKP) petani di masa panen raya. Dengan begitu, semuanya bisa terserap optimal dan petani tidak dirugikan," ujar Alex dalam pernyataan tertulis, Kamis (17/3/2025).
Pernyataan Alex ini merespons kendala pengeringan gabah yang dialami Perum Bulog Kantor Cabang (Kancab) Kediri. Bulog mengalami kesulitan dalam mengolah hasil panen petani di wilayah Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Kabupaten Nganjuk.
Baca Juga: Diduga Ditendang Teman, Murid SD di Kota Pariaman Meninggal: Keluarga Menuntut Keadilan
Saat ini, produksi GKP di Kancab Kediri mencapai 450 ton per hari. Berdasarkan data Dinas Pertanian, jumlah produksi gabah selama puncak panen pada Maret hingga April 2025 diperkirakan mencapai 5.600 ton per hari.
"Panen raya ini akan terjadi di seluruh wilayah yang menjadi kewenangan Bulog dalam menyerap gabah petani. Kasus di Kediri ini harus jadi pembelajaran agar tak terulang di tempat lain," kata Alex.
Alex juga menyoroti peringatan dari BMKG mengenai fenomena La Nina Lemah yang diperkirakan terjadi hingga Maret atau April 2025. Fenomena ini akan meningkatkan curah hujan hingga 20-40 persen, yang berisiko mengganggu proses panen dan pengeringan gabah.
"Ancaman La Nina ini bisa jadi bom waktu bagi petani. Jika panen ditunda, risiko gagal panen makin besar," ujar Alex.
Oleh karena itu, ia meminta kementerian dan lembaga terkait segera menyusun mekanisme teknis pembelian GKP agar Bulog dapat mengolahnya menjadi beras lebih cepat.
"Hari ini, petani sangat bergairah dengan adanya kewajiban Bulog membeli gabah petani dengan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kg," ungkap Alex.
Baca Juga: PT Semen Padang Rayakan HUT ke-115 dengan Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Panti Asuhan
"Namun, jangan sampai kegembiraan itu berubah menjadi bencana. Meminta petani menunda panen di tengah ancaman La Nina adalah keputusan yang tidak elok," tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), proyeksi produksi beras pada kuartal I 2025 menunjukkan surplus.
- Januari: 1,31 juta ton beras
- Februari: 2,08 juta ton beras
- Maret: 5,20 juta ton beras
Baca Juga: Kunjungi Bungus Teluk Kabung, Fadly Amran Tingkatkan Infrastruktur Wisata Sungai Pisang Padang
Dengan tren panen raya yang akan berlanjut di April dan Mei 2025, total produksi beras selama tiga bulan pertama diperkirakan mencapai 8,59 juta ton, melampaui estimasi kebutuhan konsumsi sebesar 7,77 juta ton. Ini berarti ada surplus 820 ribu ton untuk kuartal pertama 2025.
"Surplus ini tentu pencapaian positif dalam memenuhi target swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto," tutup Alex.(*)
Editor : Hendra Efison