Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa episenter gempa terletak di darat pada koordinat 6.62 Lintang Selatan dan 106.8 Bujur Timur, dengan kedalaman hiposenter 5 kilometer.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengungkap fakta bahwa gempa ini merupakan gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.
Bukti bahwa Gempa Bogor adalah gempa tektonik tampak pada bentuk gelombang gempa hasil catatan sensor seismik DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko) dgn karakteristik gelombang S (Shear) yg kuat dgn komponen frekuensi tinggi.
Jalur Sesar Citarik, Mekanisme Geser Mengiri
Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber oleh BMKG, kata Daryono, gempa Bogor memiliki mekanisme geser (strike-slip).
Lokasi episenter diketahui berada di sepanjang jalur Sesar Citarik, yang berdasarkan kajian Sidarto (2008), memiliki mekanisme geser mengiri (sinistral strike-slip).
"Pembangkit Gempa Bogor diduga kuat adalah Sesar Citarik dengan mekanisme geser mengiri (sinistral strike-slip) sesuai dengan hasil analisis menanisme sumber gempa oleh BMKG," ungkapnya.
Guncangan gempa dirasakan di beberapa wilayah, terutama di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Depok, dengan tingkat intensitas III–IV MMI.
Getaran tersebut menyebabkan kerusakan ringan pada sejumlah bangunan rumah warga, terutama di wilayah Kota Bogor.
"Tidak perlu bermagnitudo besar untuk menjadi gempa merusak," tegas Daryono dalam unggahan media sosialnya.
Selain gempa M4,1 yang terjadi semalam, wilayah di sekitar jalur Sesar Citarik juga diketahui pernah mengalami beberapa gempa dangkal signifikan pada masa lalu.
"Di sekitar jalur sesar ini pernah mengalami gempa dangkal pada tahun 1968, 1971, dan 1975 sebanyak dua kali, 1990, dan 1995," ungkap Daryono.
Fenomena suara gemuruh dan dentuman yang menyertai gempa turut dirasakan oleh warga.
BMKG menjelaskan bahwa hal tersebut adalah wajar karena gempa ini menghasilkan getaran frekuensi tinggi yang terjadi dekat permukaan bumi.
"Suara dentuman merupakan bukti bahwa gempa ini memiliki hiposenter sangat dangkal, dan lazim terjadi pada gempa-gempa serupa yang disertai suara ledakan atau dentuman kuat," katanya.
Hingga pukul 06.00 WIB, 11 April 2025, BMKG telah memantau terjadinya empat kali gempa susulan (aftershock) sebagai bagian dari aktivitas seismik lanjutan dari gempa utama.(*)
Editor : Heri Sugiarto