PADEK.JAWAPOS.COM-Kementerian Agama (Kemenag) terus melakukan berbagai upaya untuk menyesuaikan dengan perubahan sistem layanan haji di Saudi.
Salah satu yang mendesak adalah sistem layanan haji yang menggunakan delapan syarikah (perusahaan). Padahal, sebelumnya Saudi hanya menunjuk satu syarikah.
Salah satu dampak langsung di lapangan adalah banyaknya jamaah yang terpisah dari rombongan, termasuk pasangan suami istri, mahram, hingga lansia dan pendampingnya.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Kementerian Agama Hilman Latief menegaskan, kondisi itu bukan karena kelalaian, melainkan akibat dinamika teknis di awal pemberangkatan.
Salah satu penyebab utama adalah keterlambatan penerbitan visa bagi sebagian jemaah yang telah dijadwalkan berangkat. Padahal, kursi pesawat yang tersedia harus tetap terisi.
“Konsekuensinya, kursi kosong diisi oleh jamaah dari kloter lain yang visanya sudah siap. Ini terjadi selama beberapa hari,” ujar Hilman di Mekkah.
Dia mengakui bahwa sistem layanan berbasis syarikah yang mulai diterapkan penuh tahun ini memang menantang. Pada 2024, jamaah Indonesia hanya dilayani oleh satu syarikah.
“Dengan delapan syarikah ini, koordinasi jadi lebih kompleks. Satu kloter bisa terpecah ke beberapa syarikah yang berbeda. Di sinilah muncul kasus suami dan istri atau lansia dengan pendampingnya yang terpisah,” terangnya.
Meski begitu, Hilman memastikan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai solusi. Salah satu langkah utama adalah program reunifikasi, yakni upaya menggabungkan kembali jamaah yang terpisah.
Data permintaan penggabungan yang masuk sudah dikoordinasikan dengan pihak syarikah dan Kementerian Haji Arab Saudi.
“Kami sudah siapkan langkah-langkah teknis untuk reunifikasi, khususnya bagi suami istri, mahram, atau lansia dengan pendamping. Kami akan terus bekerja sama dengan otoritas Saudi agar proses ini berjalan mulus dan secepat mungkin,” jelasnya.
Hilman mengungkapkan, saat ini pemerintah tengah mempercepat distribusi kartu Nusuk. Kartu itu menjadi identitas resmi jemaah untuk masuk Kota Makkah dan mengikuti puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, serta Mina (Armuzna).
Dia mengakui masih ada jemaah yang belum menerima kartu Nusuk. Namun, pemerintah dan syarikah telah sepakat untuk mengakselerasi proses penyaluran.
“Kartu Nusuk menjadi prasyarat penting bagi mobilitas jemaah. Kami terus mendorong syarikah agar mempercepat distribusi ini agar semua jemaah siap sebelum puncak haji,” kata Hilman.
Dalam menghadapi tantangan ini, Hilman juga menekankan pentingnya sinergi semua pihak. Petugas haji, kloter, syarikah, bahkan jamaah sendiri diharapkan bekerja sama.
Dia juga mendorong masyarakat dan keluarga jemaah di Indonesia untuk tetap tenang dan percaya bahwa seluruh proses dikawal penuh oleh pemerintah.
“Kami tidak menutup mata atas kekurangan. Tapi percayalah, tidak ada satu jemaah pun yang kami abaikan,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis Hanafi mengakui bahwa transisi ke sistem delapan syarikah tidak mudah. Diperlukan adaptasi dari semua pihak.
Meski koordinasi menjadi lebih kompleks dibanding sistem sebelumnya, dia menegaskan bahwa petugas terus bergerak cepat untuk menjamin kenyamanan jemaah.
“Kami tidak tinggal diam. Semua masalah sedang kita tangani satu per satu. Kalaupun ada jemaah yang sempat terpisah, kami pastikan akan ada penggabungan kembali sesegera mungkin,” kata Muchlis.
CJH Menuju Mekkah
Proses pemberangkatan calon jamaah haji (CJH) dari Madinah ke Mekkah terus dilakukan secara bertahap.
Kepala Sektor 5 Daker Madinah Sunaryo menyampaikan, hingga kemarin (19/5) sudah 27 kloter dari total 45 kloter di wilayahnya telah diberangkatkan ke Makkah. Termasuk di dalamnya jamaah yang sempat terpisah sektor atau kloter.
“Sampai dengan 19 Mei ini kami sektor 5 sudah mendorong 27 kloter dari 45 kloter yang tiba di sektor 5 Madinah,” ungkap
Sunaryo di Hotel Almehrab Taiba. Salah satu kloter yang ditangani adalah SOC (Solo) 36. Ada 100 jemaah yang berada di sektor 5 dan sisanya di sektor 1.
Seluruh jamaah diberangkatkan ke Makkah dengan pengaturan manifes ketat dan koordinasi yang matang, termasuk penandaan koper, presensi per rombongan, dan pembagian bus sesuai kelompok.
“Kami buatkan data per syarikah, per rombongan, dan per bus. Ini memudahkan proses pendorongan dan menghindari keterpisahan jemaah,” jelas Sunaryo.
Dia juga memastikan bahwa seluruh jemaah telah menerima kartu Nusuk dan tidak ada yang tertinggal tanpa koordinasi. “Kalau data yang kami punya, untuk yang SOC 36 ini tidak ada yang terpisah. Aman,” tegasnya.
Dengan berbagai langkah perbaikan yang terus dilakukan, pemerintah berharap pelaksanaan haji tahun ini tetap berjalan aman dan lancar. Terutama menjelang fase puncak ibadah yang akan digelar di Arafah kurang dari tiga pekan ke depan.
Pada bagian lain, petugas haji daerah kerja (daker) Madinah hari ini kembali memberangkatkan jamaah yang terpisah dari rombongan menuju Mekkah. Kepala Daker Madinah M Lutfi Makki mengatakan, ada 162 jemaah yang diberangkatkan hari ini menuju Makkah.
“Sebanyak 114 jamaah kami berangkatkan dengan tujuh mobil coaster. Sisanya (48 orang, red) naik satu bus,” katanya.
Makki menjelaskan, saat ini masih ada 179 jemaah yang terpisah dari rombongan dan belum diberangkatkan ke Mekkah. Untuk memudahkan layanan, mereka ditempatkan pada hotel khusus yang sekaligus menjadi Sekretariat Sektor Khusus Daker Madinah.
“Kondisi kesehatan jemaah rata-rata dalam keadaan baik dan sehat,” tandas Makki. (*/oni/jpg)
Editor : Novitri Selvia