PADEK.JAWAPOS.COM-Semakin banyak negara di dunia yang mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Terbaru adalah pengakuan dari Perancis yang bakal disampaikan secara resmi di forum PBB.
Kondisi tersebut mendapatkan respons positif dari sejumlah kalangan di Indonesia. Di antaranya disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A Mughni.
Ditemui di sela International Conference on Human Fraternity di Jakarta (29/7), dia menyambut baik sikap Perancis mendukung atau mengakui Palestina sebagai negara berdaulat.
Dia mengatakan sikap Perancis itu menandakan bahwa negara mode itu sudah melihat bagaimana perlakuan atau aksi Israel ke warga Palestina sudah di luar nalar.
“Mereka (Perancis) menilai Israel tidak lagi punya kemanusiaan,” kata Syafiq yang membidangi urusan hubungan luar negeri di PP Muhammadiyah itu.
Menurut dia di kalangan masyarakat akar rumput, baik di Indonesia maupun dunia, dukungan kepada Palestina sudah banyak. Tetapi di tingkat kepala negara, masih belum banyak.
Dia berharap keputusan Presiden Prancis itu bisa diikuti negara-negara lain. Tujuannya semata-mata demi kemanusiaan. Syafiq bersyukur saat ini di kalangan negarawan atau kepala negara, semakin banyak yang mendukung Palestina.
Dukungan itu diharapkan bisa menjadi gerakan yang semakin kuat. Sampai akhirnya tidak ada lagi kejahatan kemanusiaan di Palestina, khususnya di Gaza. “Kecenderungan politisi itu ingin terus dilihat rakyatnya,” katanya.
Maka Syafiq mengatakan dukungan terhadap Palestina oleh masyarakat, bakal diikuti oleh para politisi atau kepala negara. Dia menegaskan yang utama dari kondisi itu adalah berakhirnya kejahatan kemanusiaan di Gaza. Terlepas dari adanya kepentingan politik.
Di dalam konferensi itu, Indonesia dengan Qatar bekerja sama membentuk Indonesian Institute for Human Fraternity. Lembaga yang mempromosikan persaudaraan umat manusia secara global.
Pembentukan Indonesian Institute for Human Fraternity itu, digagas Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Komite Tinggi Persaudaraan Manusia (HCHF) dari Qatar. Hadir dalam peresmiannya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno.
Pratikno mengatakan Institut itu juga akan menjadi pusat kajian dan pendidikan global untuk mempromosikan nilai-nilai persaudaraan kemanusiaan melalui riset, pelatihan, dan pengembangan kurikulum persaudaraan manusia sejak usia dini.
“Indonesia telah menentukan pilihan. Kami memilih dialog, bukan perpecahan; kerja sama, bukan konflik; inklusi, bukan isolasi; persaudaraan bukan fragmentasi,” ujarnya.
Dia mengatakan perlu upaya bersama untuk menggerakkan persaudaraan manusia. Termasuk juga mengatasi ketidakpastian global dan membangun peradaban dunia yang damai dan sejahtera.
Mantan Menteri Sekretaris Negara itu menyampaikan, Indonesia siap berkontribusi nyata dalam memperkuat gerakan global untuk persaudaraan manusia.
“Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, bukan sekadar semboyan, melainkan kenyataan yang kami jalani sehari-hari. Ini adalah hadiah dari Indonesia untuk dunia,” ujar Pratikno.
Dia menyampaikan nilai-nilai persaudaraan manusia di Indonesia tumbuh dalam praktik keseharian. Dari desa hingga kota, dari lembaga pendidikan hingga organisasi masyarakat.
Keberagaman bukan menjadi alasan perpecahan, melainkan sumber kekuatan untuk bersatu. Namun, ia mengingatkan bahwa persaudaraan tidak cukup diatur dalam hukum atau hanya disuarakan.
“Persaudaraan harus tumbuh dari akar rumput, diperkuat oleh tindakan nyata, dan dibangun melalui kolaborasi antara semua pihak,” jelasnya.
Kolaborasi itu menggandeng organisasi masyarakat, institusi pendidikan, perempuan, pemuda, dunia usaha, hingga pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Peresmian Institute for Human Fraternity diselenggarakan di tengah forum International Conference on Human Fraternity (ICHF). Konferensi ini merupakan langkah penting, bukan hanya dalam melembagakan nilai-nilai persaudaraan manusia.
“Tetapi juga dalam meletakkan dasar agenda kami di Indonesian Institute for Human Fraternity,” ujar Rektor UIII Prof Jamhari Makruf.
Dia mengatakan melalui pendirian institut itu, mereka ingin menerjemahkan nilai-nilai persaudaraan manusia ke dalam program dan kebijakan berkelanjutan. Kemudian mendorong kerja sama global, pembangunan yang berkeadilan dan perdamaian yang langgeng. (wan/jpg)
Editor : Novitri Selvia