Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pesawat Latih Jatuh: Pilot Insiden Bawean Meninggal, Sempat Berputar-putar dan Memercikkan Api Kabupaten Bogor

Novitri Selvia • Senin, 4 Agustus 2025 | 11:23 WIB
EVAKUASI: Pertugas memeriksa bagian pesawat dan mengevakuasi korban pesawat latih yang jatuh di Kawasan TPU Astana, Desa, Ciampea, Kabupaten Bogor, Minggu (3/8). (JAWAPOS)
EVAKUASI: Pertugas memeriksa bagian pesawat dan mengevakuasi korban pesawat latih yang jatuh di Kawasan TPU Astana, Desa, Ciampea, Kabupaten Bogor, Minggu (3/8). (JAWAPOS)

PADEK.JAWAPOS.COM-Sebelas menit setelah lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja, Kabupaten Bogor, pesawat latih sipil milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) itu tiba-tiba hilang kontak.

Pesawat tersebut kemudian jatuh di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Astana di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, di kabupaten yang sama. FASI merupakan induk olahraga dirgantara nasional yang berada di bawah binaan TNI Angkatan Udara (AU).

“Penerbangan itu dalam rangka misi latihan profisiensi penerbangan olahraga dirgantara sebagai bagian dari pembinaan dan pemeliharaan kemampuan,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana dalam keterangan resminya kemarin (3/8), seperti dikutip dari Radar Bogor.

Jatuhnya pesawat tersebut mengakibatkan meninggalnya Marsekal Madya TNI Fajar Adriyanto yang memiloti pesawat itu setibanya di rumah sakit.

Fajar termasuk satu dari empat awak F-16 yang diperintahkan mengidentifikasi jet tempur asing yang melakukan pergerakan tanpa izin di barat laut Pulau Bawean pada 3 Juli 2003.

Adapun kopilot pesawat latih itu, Roni, mengalami luka berat. Sebelumnya, di Instagram sempat beredar video yang memperlihatkan pesawat latih yang sama berputar-putar selama beberapa waktu. 

“Udah ngeluarin api juga,” kata pemilik akun Instagram @langstars18_ melalui Direct Message kepada Radar Bogor.

Namun, pemilik akun tersebut mengaku tidak tahu bagaimana awalnya pesawat itu berputar-putar sambil mengeluarkan percikan api. Sedangkan Nyoman menegaskan, pesawat latih itu laik terbang dan mengantongi surat izin terbang.

Tentang penyebab, belum ada keterangan dari TNI AU. “Jenazah Marsma TNI Fajar saat ini berada di RSAU Lanud Atang Sendjaja untuk prosesi selanjutnya, sementara lokasi jatuhnya pesawat telah diamankan dengan garis pengaman oleh aparat,” tuturnya.

F-16 versus F/A-18

Fajar adalah lulusan AAU 1992 dan penerbang tempur F-16 dengan call sign “Red Wolf”. Dalam kariernya, ia pernah mengemban berbagai jabatan strategis antara lain Komandan Skadron Udara 3, Danlanud Manuhua, Kadispenau, Kapuspotdirga, Aspotdirga Kaskoopsudnas dan terakhir Kapoksahli Kodiklatau.

Pada 3 Juli 2003, setelah diketahui ada pergerakan sejumlah pesawat tanpa izin di barat laut Bawean, 66 mil laut dari Surabaya, empat F-16 diperintahkan terbang dari Pangkalan Udara Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur.

Mereka diminta untuk mengidentifikasi sambil menghindari konfrontasi dengan tidak melakukan penguncian radar.
Mengutip Indonesia Defense, dari hasil identifikasi diketahui bahwa dua jet tempur itu adalah F/A-18 milik TNI Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).

Dua F/A-18 itu sempat melakukan penguncian elektronik, namun dua F-16 berhasil menghindar. Satu unit F-16 yang berusaha dikunci melakukan perlawanan dalam “perang elektronika” tersebut dengan mengaktifkan penangkal elektronik.

Meskipun sebenarnya bisa menembak kedua F/A-18 itu, satu unit F-16 yang berusaha dikunci tersebut tidak melakukannya karena memang diperintahkan untuk menghindari konfrontasi.

Pesawat-pesawat tempur itu berasal dari USS Carl Vinson yang sedang melintas dari barat ke timur dan tengah berada di perairan Pulau Bawean.

Pemerintah Indonesia kemudian resmi memprotes tindakan AS tersebut. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta berdalih bahwa konvoi itu telah meminta izin kepada pemerintah Indonesia dan telah memberitahu otoritas di Indonesia mengenai latihan yang mereka lakukan.

Namun, Jakarta membantahnya. Harian terkenal yang berbasis di Los Angeles, AS, LA Times, menurunkan laporan tentang insiden ini pada edisi 5 Juli 2003 dengan tajuk “Indonesian, U.S.

Jets Face Off Near Java”. Koran terkemuka Australia, Sydney Morning Herald, juga mempublikasikan berita terkait peristiwa yang sama pada edisi 11 Juli 2003 berjudul “Indonesia Protest US Jet Incursion”.

TNI AU menyatakan duka cita mendalam atas insiden tersebut. “Semangat, keteladanan, dan pengabdian beliau (Fajar) akan senantiasa menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga langit Indonesia,” kata Nyoman. (rp2/ttg/jpg)

 

Editor : Novitri Selvia
#pesawat latih jatuh #Ciampea Bogor #Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana #pulau bawean #FASI #Marsekal Madya TNI Fajar Adriyanto