Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Petani Terpaksa Kuras Tabungan

Novitri Selvia • Senin, 25 Agustus 2025 | 12:11 WIB

Ilustrasi Petani Tebu (Jawapos)
Ilustrasi Petani Tebu (Jawapos)
PADEK.JAWAPOS.COM- Tidak terserapnya gula rakyat membuat para petani tebu menjerit. Di Situbondo, misalnya, para petani harus menanggung beban tambahan. Mereka terpaksa menguras uang tabungan untuk menutupi biaya produksi.

Farhan Kamil, petani tebu asal Asembagus, Situbondo, mengeluhkan pembayaran dari pabrik yang tersendat. Padahal, dia harus terus menanam dan merawat tanaman tebunya.

“Mau bagaimana lagi, saya kan tetap harus menjalankan usaha tebu meski pembayaran dari pabrik belum sempurna,” ungkapnya kepada Radar Situbondo Grup Jawa Pos (grup Padang Ekspres) kemarin (24/8).

Biaya yang dia keluarkan dipergunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari menebang hingga merawat kembali lahan tebunya.

“Mau bagaimana lagi, kenyataannya gula itu tidak laku. Mau mengadu ke siapa? Pabrik pasti sudah melakukan berbagai cara agar uang petani bisa cepat cair,” jelasnya.

Petani tebu lain yang enggan disebutkan namanya juga mengeluhkan hal serupa. Dia merasa resah karena stok gula di gudang tak kunjung laku.

“Dampak bagi petani adalah modal mandek. Biasanya uang tersebut digunakan untuk merawat tebu. Tapi, kini kami harus mengambil uang dari kantong pribadi atau pinjam ke orang,” keluhnya.

Kondisi serupa dialami petani tebu di Mojokerto. Hingga kemarin, sebanyak 7.200 ton gula petani menumpuk di gudang PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

“Sudah satu bulan ini lelang gula tebu milik petani tidak ada yang menawar,” ungkap Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Gempolkrep Mubin kemarin.

Pantauan Radar Mojokerto Grup Jawa Pos, gula petani memang menumpuk di gudang PG Gempolkrep.

“Kalau tidak laku-laku seperti ini, akhirnya operasional petani untuk melanjutkan panen dan tanam baru juga mandek,” katanya.

Padahal, pemerintah sedang menggenjot produktivitas pertanian untuk menuju swasembada gula nasional. Faktanya, petani malah dibuat buntung akibat kesulitan menjual hasil pertanian.

Dia menduga, tak kunjung lakunya gula petani dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya tingginya harga acuan pembelian (HAP) gula yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 14.500 per kilogram.

Di sisi lain, diduga ada rembesan gula rafinasi yang beredar di pasaran dengan harga lebih murah. Padahal gula hasil impor itu seharusnya hanya dijual untuk industri.

“APTRI mendorong pemerintah mencari solusi agar petani bisa semringah dan menikmati manisnya tebu. Jadi, kalau gula petani tidak laku-laku, petani akan merugi,” pungkasnya.

General Manager PT SGN PG Gempolkrep Edy Purnomo membenarkan jika gula petani sudah sebulan ini menumpuk di gudang. Stok yang menumpuk itu mencapai 7.200 ton.

“Para investor tidak berani menawar sesuai HAP Rp 14.500 per kilogram, karena di pasaran ada gula yang harganya di bawah itu,” ungkapnya. (rif/ori/fen/oni/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#Asembagus Situbondo #aptri #petani tebu #Gempolkrep Edy Purnomo #Gempolkrep Mubin #SGN Mojokerto