Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peristiwa langka ini dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia jika kondisi cuaca cerah. Namun akan lebih jelas menggunakan teleskop.
"Dari wilayah barat Indonesia, semua fase gerhana dapat diamati. Di Papua bagian timur, Bulan akan terbenam sebelum gerhana berakhir," tulis BMKG di laman media sosialnya.
Durasi totalitas, yakni saat Bulan tampak merah penuh, berlangsung sekitar 1 jam 22 menit. Sementara keseluruhan proses gerhana dari awal hingga akhir mencapai 5 jam 26 menit 39 detik.
Fenomena Blood Moon
Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada sejajar dalam satu garis lurus, sehingga Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.
Pada puncak gerhana, Bulan akan tampak kemerahan akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi. Cahaya matahari dengan panjang gelombang pendek seperti biru tersebar lebih banyak, sedangkan cahaya merah dengan panjang gelombang lebih panjang dapat mencapai permukaan Bulan. Fenomena ini dikenal sebagai Blood Moon.
Jadwal Fase Gerhana Bulan Total (WIB)
BMKG merilis jadwal lengkap fase Gerhana Bulan Total 7–8 September 2025:
- P1 (Penumbra mulai): 22.26.56 WIB, Minggu malam
- U1 (Sebagian mulai): 23.26.44 WIB, Minggu malam
- U2 (Total mulai): 00.30.17 WIB, Senin dini hari
- Puncak (MID): 01.11.45 WIB, Senin dini hari
- U3 (Total berakhir): 01.53.13 WIB, Senin dini hari
- U4 (Sebagian berakhir): 02.56.46 WIB, Senin dini hari
- P4 (Penumbra berakhir): 03.56.34 WIB, Senin dini hari.
BMKG juga menyediakan siaran langsung pengamatan Gerhana Bulan Total melalui laman resmi: https://gerhana.bmkg.go.id/livestream.
Baca Juga: Portugal Bantai Armenia 5-0, Gol Ronaldo di Menit 21 Didedikasikan untuk Jota
Menurut NASA, istilah blood moon digunakan untuk menggambarkan warna merah Bulan saat gerhana bulan total. Dalam kondisi ini, Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya Matahari tidak langsung mengenai Bulan.
Satu-satunya cahaya yang mencapai permukaan Bulan adalah cahaya dari tepi atmosfer Bumi. Molekul udara di atmosfer menyebarkan sebagian besar cahaya biru, sementara cahaya merah diteruskan dan dipantulkan ke Bulan, membuatnya tampak merah di langit malam.
BMKG mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan momen langka ini sebagai sarana edukasi astronomi dan melakukan pengamatan dengan memperhatikan keselamatan di ruang terbuka.(*)
Editor : Heri Sugiarto