Literasi Keuangan Syariah Baru 43,07 Persen, Inklusi Hanya 13,24 Persen

Hendra Efison • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:40 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dan Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, saat mengumumkan hasil SNLIK 2026 di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dan Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, saat mengumumkan hasil SNLIK 2026 di Jakarta, Senin (10/8/2026).

JAKARTA, PADEK.JAWAPOS.COM— Literasi keuangan syariah masyarakat Indonesia pada 2026 tercatat 43,07 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan syariah hanya mencapai 13,24 persen. Angka tersebut merupakan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Hasil SNLIK 2026 diumumkan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, dan Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, di Kantor BPS, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Capaian keuangan syariah tersebut berada di bawah indeks keuangan secara keseluruhan. Indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan berada pada 93,61 persen.

Literasi Keuangan Syariah 43,07 Persen

SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan syariah sebesar 43,07 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan indeks literasi keuangan nasional yang mencapai 69,57 persen.

Literasi keuangan dalam survei tersebut diukur menggunakan sejumlah parameter, yakni pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan menggunakan parameter penggunaan (usage) terhadap produk dan layanan jasa keuangan.

Perbedaan kedua indeks terlihat cukup jelas pada sektor syariah. Tingkat literasi tercatat 43,07 persen, sedangkan tingkat inklusi hanya 13,24 persen.

Inklusi Keuangan Syariah Hanya 13,24 Persen

Indeks inklusi keuangan syariah pada 2026 tercatat 13,24 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan indeks inklusi keuangan secara keseluruhan yang mencapai 93,61 persen.

Sebagai pembanding, indeks literasi keuangan konvensional tercatat 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan konvensional mencapai 93,53 persen.

Hasil SNLIK 2026 juga mencatat indeks literasi dan inklusi keuangan tertinggi antara lain terdapat pada sektor perbankan dan Penyelenggara Program Jaminan Sosial.

Pada sektor perbankan, indeks literasi keuangan mencapai 66,46 persen dan indeks inklusi sebesar 70,64 persen.

Sementara itu, Penyelenggara Program Jaminan Sosial mencatat indeks literasi sebesar 65,13 persen dan indeks inklusi 77,13 persen.

SNLIK 2026 Libatkan 75.000 Responden

SNLIK 2026 dilaksanakan di 38 provinsi dan mencakup seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia. Survei tersebut melibatkan 75.000 responden berusia 15 sampai 79 tahun.

Pendataan lapangan berlangsung pada 26 Januari hingga 18 Februari 2026 melalui wawancara tatap muka menggunakan Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI).

Pelaksanaan survei melibatkan 3.480 petugas. Cakupannya meliputi berbagai lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan.

Di antaranya perbankan, pasar modal, perasuransian, lembaga pembiayaan, dana pensiun, pergadaian, lembaga keuangan mikro, fintech lending, penyelenggara sistem pembayaran, serta penyelenggara program jaminan sosial.

Survei juga mencakup lembaga jasa keuangan lainnya, termasuk lembaga sui generis, lembaga penjaminan, lembaga jasa keuangan bidang inovasi teknologi sektor keuangan, aset keuangan digital dan aset kripto, koperasi simpan pinjam, serta PT Pos Indonesia.

Secara keseluruhan, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia pada 2026 meningkat menjadi 69,57 persen dari 66,64 persen pada 2025. Indeks inklusi keuangan juga naik menjadi 93,61 persen dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya.

Capaian tersebut telah melampaui target RPJMN 2025–2029 untuk 2029, yakni 69,35 persen untuk literasi keuangan dan 93 persen untuk inklusi keuangan.(*)

Editor : Hendra Efison
SNLIK 2026 inklusi keuangan syariah literasi keuangan syariah keuangan syariah ojk