Rupiah Diprediksi Tetap Lemah 5 Tahun ke Depan, Didik Soroti Masalah Struktural

Hendra Efison • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:46 WIB
Didik J. Rachbini
Didik J. Rachbini

PADEK.JAWAPOS.COM— Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) dinilai belum cukup untuk memperkuat nilai tukar rupiah dalam lima tahun mendatang. Ekonom Senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai tekanan terhadap rupiah bersumber dari persoalan struktural ekonomi Indonesia.

Didik mengatakan, persoalan tersebut mencakup sektor moneter, sektor riil, ekonomi domestik, hingga sektor luar negeri. Karena itu, perubahan kepemimpinan di BI tidak serta-merta mampu mengubah fundamental yang selama ini menekan rupiah.

“Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah,” ujar Didik dalam pandangannya terkait pergantian kepemimpinan BI, Minggu (30/8/2026).

Menurutnya, Indonesia memang memiliki pasar domestik dan populasi yang besar. Namun, besarnya pasar dalam negeri tidak otomatis membuat nilai tukar rupiah menjadi kuat.

“Pasar domestik yang besar tidak menjamin ekonomi menjadi kuat setidaknya dilihat dari nilai tukar mata uangnya,” katanya.

Kebijakan BI Dinilai Tidak Cukup

Didik menilai BI masih akan menghadapi pilihan sulit dalam menggunakan instrumen suku bunga. Ketika rupiah tertekan, kenaikan suku bunga dapat menarik modal asing, tetapi sekaligus meningkatkan biaya pembiayaan dunia usaha, kredit pemilikan rumah (KPR), dan investasi domestik.

Sebaliknya, penurunan suku bunga yang terlalu cepat dapat mendorong investor beralih ke aset dalam dolar AS.

Karena itu, menurut Didik, kebijakan yang hanya mengandalkan instrumen suku bunga tidak cukup untuk memperkuat rupiah.

“Kebijakan konservatif yang sederhana hanya dengan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat,” tegasnya.

Tekanan terhadap rupiah, lanjut Didik, juga berkaitan dengan kepastian hukum, korupsi, biaya transaksi, serta daya saing sektor luar negeri yang belum kuat.

Kondisi tersebut membuat rupiah rentan melemah bahkan tanpa harus menunggu terjadinya krisis.

Indonesia Perlu Perkuat Sumber Devisa

Didik menilai Indonesia perlu mengubah orientasi ekonomi dari inward looking menjadi lebih outward looking.

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi domestik yang masih bergantung pada bahan baku dan barang modal impor dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar.

“Praktek seperti ini bisa menguntungkan tetapi tidak memberi efek positif memperkuat nilai tukar rupiah. Bahkan bisa negatif menjadikan nilai tukar melemah karena dalam proses produksinya rakus impor,” katanya.

Karena itu, ia mendorong peningkatan ekspor, investasi asing, pariwisata, dan kegiatan ekonomi lain yang menghasilkan devisa.

“Untuk menjadikan nilai tukar stabil dan kuat, maka orientasi kebijakan harus diubah menjadi berorientasi keluar (outward looking),” tegas Didik.

Ia juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang disebut sekitar US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026.

Menurutnya, angka tersebut masih terlalu kecil sebagai penyangga eksternal bagi negara sebesar Indonesia.

Didik akhirnya menegaskan, penguatan rupiah membutuhkan pembenahan yang lebih luas dan tidak dapat dibebankan hanya kepada BI.

“BI lima tahun diperkirakan menghadapi kesulitan dan tidak akan bisa memperbaiki nilai tukar rupiah yang lebih stabil dan lebih kuat,” pungkasnya.(*)

Editor : Hendra Efison
pergantian kepemimpinan BI Didik J. Rachbini ekonomi indonesia rupiah bank indonesia