Itu setelah klub asal Jerman tersebut menang tipis atas Paris Saint-Germain (PSG) di Estadio da Luz, Lisbon, Portugal. Kemenangan Die Roten berkat gol tunggal Kingsley Coman pada menit ke-59.
Dengan kemenangan itu, Bayern kini sudah memiliki enam Si Kuping Lebar –julukan gelar Liga Champions- di lemari trofi mereka. Ini menyamai pencapaian klub asal Inggris, Liverpool, yang meraih gelar keenam mereka musim lalu.
Tidak hanya itu Die Roten juga menyamai pencapaian FC Barcelona. Yakni treble winners untuk kedua kalinya dalam sejarah klub. Sebelumnya, FC Hollywood –julukan lain Bayern- meraihnya di musim 2012-2013. Sedangkan Barca merengkuhnya pada musim 2008-2009 dan 2014-2015.
Namun yang juga tak kalah hebat dari perjalanan Bayern Muenchen musim ini adalah rekor kemenangan mereka. Dalam 11 pertandingan Liga Champions, jangankan kalah, Robert Lewandowski dan kawan-kawan tak sekali pun dapat diimbangi tim-tim lawan. Dalam sejarah Liga Champions, hanya mereka yang mampu melakukan hal tersebut sejauh ini.
Sapu bersih kemenangan juga dilakoni tim asuhan Hans-Dieter Flick tersebut di pentas DFB Pokal. Yakni dalam enam pertandingan. Sementara, di Bundelisga, FC Hollywood cuma menderita empat kekalahan, empat imbang, dan selebihnya menang pada 26 laga.
“Kami bekerja keras untuk itu dan kami pantas mendapatkannya. Itu mimpi bagi kami semua,” ungkap kiper sekaligus kapten Bayern Muenchen, Manuel Neuer, dalam laman resmi klub. “Rasanya luar biasa. Kami melakukan lari yang sensasional. Kami juga pantas mendapatkan perasaan ini. Kami memiliki semangat tim, para pemain siap untuk bekerja keras,” imbuh penyerang Bayern, Thomas Müller.
Namun, menut Müller yang telah empat kali melakoni final Liga Champions sepanjang karirnya, keberhasilan timnya kali ini tak lepas perfoma gemilang Neuer di bawah mistar. Ya, paling tidak dia mampu mementah dua peluang PSG dari Kylian Mbappe dan Neymar Jr.
“Hari ini kami juga memanfaatkan keberuntungan kami dan memiliki Manuel Neuer di antara mistar. Itu bukan permainan terbaik kami, tetapi kami bertahan di sana dan sekarang kami berada di atas,” ungkap pemain bernomor punggung 25 tersebut.
Tak hanya bagi klub, secara pribadi musim ini juga menjadi musim yang sensasional bagi sang pelatih. Dengan treble winners tersebut, Hans-Dieter Flick pun menyejajarkan diri dengan Sir Alex Ferguson (1999 dengan Manchester United), Pep Guardiola (2009 dengan FC Barcelona), José Mourinho (2010 dengan Inter Milan), Jupp Heynckes (2013 dengan FC Bayern) dan Luis Enrique (2015 dengan FC Barcelona). Hebatnya, itu dilakukan Flick hanya dalam sekitar 10 bulan dia mengarsiteki Bayern.
“Saya bangga dengan tim ini. Perkembangan selama sepuluh bulan terakhir sangat sensasional. Kami harus merayakannya dengan baik. Kami telah mendapatkannya. Terima kasih banyak untuk seluruh tim. Ada begitu banyak orang yang telah membantu, itu milik mereka semua,” ucapnya.
Di sisi lain Flick menilai, PSG merupakan tim yang memiliki banyak kualitas di lini depan. “Tapi kami bertahan dengan berani dari depan. Saya pikir kami pantas menang terutama karena babak kedua. Kami memiliki pemain yang bertekad untuk menang dan itulah yang Anda butuhkan sebagai pelatih,” katanya.
Namun, tentunya yang ironis dari laga ini adalah gol semata wayang yang dicetak Kingsley Coman. Pasalnya, pemain bernomor punggung 29 itu adalah produk dari akademi PSG. Dia menimba ilmu sejak tahun 2004 hingga 2013 di skuat junior Les Parisiens –julukan PSG. Setelah naik tinggkat ke level senior pada musim 2013-2014, dia pindah ke Juventus, sebelum kemudian memperkuat Bayern sejak tahun 2015.
Dalam laman klub dia mengakui, kecintaannya pada Kota Paris karena dia berasal dari kota yang menjadi markasnya PSG tersebut. Namun, dalam laga final tersebut, Coman berusaha menekan perasaan tersebut. Serta, memberi kemampuannya 100 persen untuk Bayern.
“Saya sangat, sangat bahagia. Tentu saja. Itu adalah malam yang luar biasa, tidak hanya untuk klub, tapi untuk semua fans. Saya ingin bermain bagus dan sangat ingin menang. Dan saya harus menjadi profesional,” tukasnya. (cip) Editor : Novitri Selvia