Ketegangan jelang pertandingan di Stadion Olimpiade Lluis Companys tersebut, dipicu oleh dugaan serangan melalui media sosial X oleh anggota dewan Barcelona terhadap Vinicius Junior.
Seperti dilansir Athletic, tweet di X yang kontroversial dan akhirnya dihapus itu diduga berasal dari akun anggota dewan Barcelona, Mikel Camps, yang mengomentari penampilan penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, selama kemenangan Madrid di Liga Champions atas Braga.
Dalam tweet tersebut, Camps menyebut Vinicius sebagai "badut" dan mengkritik langkah-langkahnya di lapangan.
Xavi menyatakan ketidaksetujuannya terhadap tweet tersebut. Selain itu, dia menyatakan bahwa laporan tentang keputusan Presiden Real Madrid, Florentino Perez, untuk tidak menghadiri El Clasico setelah insiden ini tidak memengaruhi pandangannya.
"Jika dia menghapus tweet itu… Saya akan tetap melakukannya," tegas Xavi. Namun, Xavi menegaskan bahwa dia ingin melihat El Clasico diselenggarakan dengan penuh hormat dan tanpa ketegangan.
Meskipun situasinya memanas, Xavi menolak untuk berspekulasi tentang kehadiran Florentino Perez. "Saya tidak suka melihat wasit ditekan. Saya ingin sekali menyaksikan Clasico dengan rasa hormat terbesar di antara klub-klub, bahkan ketika kami saling mengagumi. Bukan keadaan saat ini," katanya.
Sementara itu, Real Madrid menolak memberikan komentar terkait keputusan Perez.
Wakil Presiden Barcelona, Rafael Yuste, juga mengecam tweet Mikel Camps dan memastikan bahwa perilaku semacam ini tidak akan terulang.
"Bahkan jika itu sebuah kesalahan, itu adalah komentar yang buruk," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Spanyol Movistar.
"Itu adalah kesalahan besar. Jika Vinicius mendengarkan saya, saya dapat mengatakan kepadanya bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi," tandasnya.
Vinicius Junior telah menjadi korban pelecehan rasial dalam beberapa insiden selama dua musim terakhir.
La Liga telah mengambil tindakan dalam 10 kasus terpisah, dan Vinicius Junior mengungkapkan bahwa jumlah insiden semacam ini terus meningkat menjadi 19 kasus.
Ketegangan antara Barcelona dan Real Madrid telah meningkat sepanjang tahun ini, terutama sehubungan dengan kasus dugaan pembayaran kepada wakil presiden komite wasit sepak bola Spanyol, Jose Maria Enriquez Negreira, yang diajukan oleh Barcelona.
Meskipun Barcelona membantah melakukan kesalahan, kasus ini tetap menjadi sumber ketegangan.(atl) Editor : Admin Padek