Oleh: Firdaus Abie, Wartawan Senior Sumatera Barat
Akhirnya, langkah Timnas U-23 Indonesia, dihentikan Uzbekistan. Salah satu tim favorit juara itu, bertemu Jepang di final.
Partai Indonesia vs Uzbekistan, sangatlah melelahkan bagi kedua tim. Indonesia harus berjibaku menghadapi serangan beruntun, juara grup D tersebut.
Kendati diserang bertubi-tubi, namun pemain Timnas Indonesia masih bisa memberikan perlawanan dengan serangan balik.
Uzbekistan sangat rapi dalam bertahan dan memiliki pergerakan yang cepat saat menyerang. Tim ini langsung mem-pressing setiap pemain Indonesia yang menguasai atau akan menggulirkan bola.
Mereka sudah mengawal sejak dari barisan belakang Indonesia. Rizki Ridho dan kawan-kawan kesulitan membangun serangan dari bawah, padahal sejatinya selama ini, itulah salah satu ciri khas mereka.
Indonesia bisa memberikan kejutan. Tapi gol Muhammad Ferari dianulir wasit. Keputusannya, off side! Sang kapten, Rizki Ridho diusir keluar lapangan, setelah diberi kartu merah. Anak asuh Shin Tae Yong kalah, 0-2.
Terlepas dari gagal melanjutkan trend positif, bukan berarti selesai pula perjuangan anak muda bangsa ini. Setelah berhasil melewati target PSSI ke 8 besar, tapi Shin Tae Yong justeru menembus semifinal.
Target berikut yang dipasang Coach Shin, lolos Olimpiade di Paris, Prancis. Indonesia baru sekali tampil di Olimpiade, tepatnya di Melbourne, tahun 1956.
Kegagalan itu, belum memupus harapan. Memang dua dari empat tiket sudah ada pemiliknya. Uzbekistan dan Jepang. Sisa dua tiket lagi, akan diselesaikan dalam dua langkah berbeda.
Harapan masih ada. Indonesia akan bertemu Irak, untuk penentuan perangkat tiga. Tim di peringkat tiga, otomatis mendapatkan satu jatah. Jika gagal, maka satu peluang lagi akan diperoleh dengan cara, menang di babak play off melawan wakil Afrika, yakni Guinea.
**
Banyak hal sudah dirasakan dari Timnas Indonesia, saat ini. Tidak hanya sekadar catatan sejarah hebat yang ditorehkan. Ketika naskah ini diselesaikan, beberapa saat setelah Indonesia gagal ke final, salah satu sejarah terbesar dalam sepakbola Indonesia adalah, pertama kali Indonesia menjadi kontestan Piala Asia U-23. Target dari PSSI langsung ke delapan besar. Hasilnya, Marselino Ferdinan dkk menembus semifinal atau empat besar.
Di babak grup, selain kalah 0-2 dari tuan rumah Qatar secara kontroversial, namun Indonesia menang atas dua pelanggan Piala Asia U-23. Menang 1-0 atas Australia. Menghancurkan Jordania, 4-1. Sebuah catatan penting yang akan selalu dikenang. Setelah itu, di delapan besar, mental pemenang Rizki Ridho dkk, membuka mata dunia sepakbola. Sempat unggul atas Korea, salah satu tim favorit juara. Kemudian disamakan 2-2. Lalu, Indonesia menang secara dramatis, 11-10, melalui adu pinalti.
Hasil tersebut, sekaligus menghentikan kejayaan Korea di Olimpiade. Sejak keikutsertaan Korea di Olimpiade, tahun 1988, baru kali ini mereka gagal dan tidak bisa melenggang ke sana. Ini pertama kali mereka gagal ke Olimpiade sejak 36 tahun. Hasil buruk tersebut membuat kekisruhan di Negeri Ginseng tersebut.
Terlepas dari itu semua. Ada beberapa catatan kecil saya tentang Timnas Indonesia. Pertama, sejak Shin Tae Yong dipercaya menjadi Pelatih Kepala Timnas Indonesia, tahun 2019, banyak hal sudah dilakukannya.
Gebrakan pertamanya, sangatlah mengejutkan dan membuat orang seakan tak percaya. Ia memotong satu generasi pemain Timnas.
Mulanya, keputusan ini mendatangkan banyak serangan kepadanya. Tapi Shin Tae Yong melangkah mantap. Tetap pada rencananya. Belakangan, dalam kurun waktu lima tahun (tapi efektifnya tiga tahun karena 2020, 2021 “terganggu” oleh Covid) sudah terlihat adanya perubahan membaik dari kerangka Timnas yang ada, termasuk berkesinambungannya program yang dilakukan.
Kedua. Ia memberikan perhatian besar kepada pemain-pemain muda. Melanjutkan langkah yang sudah dilakukan coach Indra Sjafri. Sejatinya Indra Sjafri sudah memulai. Muncul pemain muda berkualitas, seperti Evan Dimas dkk. Mereka kemudian juara Piala AFF U-19.
Pada Piala U-19 AFC 2014, Indonesia memuncaki Grup G yang sekaligus kualifikasi Piala Dunia U-20 FIFA 2015. Tiga kali menang dalam tiga pertandingan. Termasuk menang atas Korea, 3-2. Capaian tersebut menjadi pelepas dahaga prestasi sepakbola Indonesia.
Dari sana, harapan agar Timnas Indonesia kembali berprestasi, terus menjadi impian bagi masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut semakin kental rasanya saat gelaran Piala Asia senior mau pun Piala Asia U-23, di Qatar.
Kerinduan terhadap prestasi tersebut, sangat terasa. Saat semifinal menghadapi Uzbekistan, hampir di setiap sudut negeri ini berlangsung nonton bareng. Pemerintah, pejabat politik, pengusaha, seakan turun ke jalan. Menggelar nonton bareng. Memberikan dukungan moral kepada anak-anak bangsa.
Di sudut-sudut lain juga begitu. Di kafe, hotel, hingga kompleks perumahan dan pemukiman warga. Semua menyaksikan perjuangan pesepakbola terbaik negerinya. Mereka menunggu lahirnya prestasi baru dari anak-anak bangsanya.
Ketiga. Shin Tae Yong bergerak cepat mengajak putra-putra berdarah Indonesia yang beredar diberbagai negara untuk pulang. Negara membutuhkan mereka. Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki darah dan garis keturunan Indonesia. Mereka mau membela negeri ini. Kemauan dan pengorbanan mereka patut diapresiasi. Termasuk dukungan dari pelatih dan klub mereka. Kendati kejuaraan ini tidak kalender resmi FIFA, namun mereka mau pulang dan klubnya memberikan izin.
Bandingkan kondisi mereka dengan apa yang pernah terjadi di negeri sendiri. Pernah ada klub yang tak mengizinkan pemainnya, atau malahan ada pemain yang "menolak" panggilan Timnas Indonesia dengan beragam alasan. Astaga!
Ke-empat. Shin Tae Yong terus membenahi sepakbola Indonesia. Dimulai dari teknik dasar, pola permainan, fisik, mental, semangat juang, sikap nasionalisme, kekompakan di luar dan dalam lapangan, disiplin dan profesionalisme.
Terlihat nyata, tim yang ditanganinya melangkah dengan penuh percaya diri. Menghadapi tim sekelas Qatar, Australia, Jordania, Korea, Uzbekistan dan lain-lain, tak lagi merasa takut. Mereka melangkah dengan kepala tegak.
Kondisi ini berbeda dengan masa lalu. Menghadapi Thailand, Vietnam dan Malaysia saja, sudah merasa takut duluan. Kena mental duluan. Tahun 1988, Indonesia dan Thailand sangat takut menghadapi Vietnam, sehingga terjadi insiden paling memalukan di Piala Tiger 1998 (sekarang Piala AFF). Kini sepertinya, tak lagi rasa takut dalam skuad Garuda Muda mau pun senior. Vietnam dibabat dengan tiga kali kekalahan beruntun. Sekali di Piala Asia, di Qatar, 19 Januari 2024. Dua kali dikualifikasi Piala Dunia.
Tim ini punya kualitas dan sedang berada di rel yang sudah benar. Rumah sudah tampak. Jalan sudah terlihat. Tinggal proses perjalanan menuju rumah tersebut.
Kelima. Program berjenjang yang kini dijalani, menjadi penyambung harapan masa depan. Timnas U-16 tahun, dinahkodai Nova Arianto, yang juga Asisten Pelatih Shin Tae Yong. Timnas U-20, dikomandoi Indra Sjafri, yang juga Dirtek PSSI. Jika progres yang dirancang berjalan sebagaimana mestinya, maka Indonesia akan punya tim hebat secara berkesinambungan pada tahun 2026 dan 2027. Saat itu, pemain U-23 dan U-21 sekarang, akan berada pada usia emasnya.
Ke-enam. Kini layar masih terkembang. Masih ada satu atau dua partai lagi, bagi Timnas Indonesia untuk mendapatkan jatah tiket ke Olimpiade. Jika berhasil menang menghadapi Irak, Kamis (2/5) malam ini, otomatis tiketnya langsung dalam genggaman. Jika kalah Irak, maka jatah tiket jika bisa menang dibabak play off menghadapi wakil Afrika, Guinea.
Begitulah. Sepakbola adalah salah satu obat untuk bahagia. Sejenak melupakan gundah gulana bangsa. (***)
Editor : Hendra Efison