Sementara Republik Demokratik Kongo yang menyingkirkan juara 7 kali Mesir via adu penalti 8-7 kemarin (29/1) memang pernah dua kali juara. Tetapi, sudah lama (1968 dan 1974) atau ketika masih bernama Kongo-Kinshasa.
Les Leopards –sebutan Kongo– tampil impresif sejak fase grup, termasuk menahan seri 1-1 salah satu favorit juara Maroko. “Semakin kami diragukan, semakin kami termotivasi (membuat kejutan, red),” kata Cedric Bakambu, striker Kongo asal Galatasaray, di laman resmi turnamen.
Sementara itu, Guinea dan Angola siap menorehkan sejarah dengan melaju sejauh mungkin dalam ajang yang dihelat di Pantai Gading tersebut.
“Tahapan yang bermakna besar bagi kami (dengan lolos ke perempat final, red). Aku yakin sejarah baru tercipta bagi kami,” ungkap pelatih Guinea Kaba Diawara kepada Eurosport. Prestasi terbaik Guinea adalah runner-up edisi 1976.
Sementara itu, capaian terjauh Angola adalah perempat final (edisi 2008 dan 2010). Artinya, capaian saat ini sudah menyamai. Hanya, Angola sudah ditunggu Nigeria dalam perempat final.
Untuk memotivasi tim asuhan Pedro Goncalves tersebut, salah satu bank di Angola menjanjikan bonus Rp 93 juta per pemain seandainya lolos ke semifinal.
Perusahaan trading Angola Sodiam EP juga menyiapkan USD 250 ribu (Rp 3,9 miliar). Sementara perusahaan telekomunikasi menghadiahkan iPhone 15 kepada seluruh awak Angola. (ren/c19/dns/jpg) Editor : Novitri Selvia