Bendera Olimpiade pun sudah diserahkan kepada Wali Kota Los Angeles Karen Bass sebagai penyelenggara Olimpiade 2028.
Di balik kemeriahan kompetisi olahraga terbesar ini, terdapat nama Yusuf Dikec, atlet menembak Turki yang telah mencuri perhatian dunia dengan pose santainya yang viral di Olimpiade Paris 2024.
Dikec yang meraih medali perak di nomor campuran pistol udara 10 meter bersama Sevval Ilayda Tarhan, menjadi salah satu wajah paling dikenal dari ajang Olimpiade tahun ini berkat gaya kompetisinya yang khas.
Gaya santai Dikec, dengan satu tangan di saku dan mengenakan kacamata standar, telah menjadi sensasi media sosial dan menginspirasi banyak atlet lain.
Di Stade de France, pose ini bahkan diadopsi sebagai gaya perayaan oleh atlet-atlet dari berbagai negara, termasuk Armand Duplantis dari Swedia, Nina Kennedy dari Australia, dan tim estafet putri Inggris.
Meskipun penampilannya yang sederhana dan kurangnya peralatan profesional menjadi pusat perhatian, kualitas menembaknya patut diacungi jempol.
Dikec meraih medali perak di Paris, menjadi medali kedua Turki di Olimpiade dan medali pertama mereka dalam cabang menembak.
Perjalanan Olimpiade Yusuf Dikec
Paris 2024 bukanlah pengalaman pertama Dikec di Olimpiade. Atlet berusia 51 tahun ini memulai debutnya di Olimpiade Beijing 2008 dan kembali pada London 2012 dengan hasil terbaik sebelumnya di posisi ke-13 pada nomor pistol bebas 50 meter putra.
Dikec juga berkompetisi di Olimpiade Rio 2016 dan Tokyo 2020, namun belum pernah meraih medali atau finis di sepuluh besar.
Di Olimpiade kelimanya di Paris, Dikec mencatat sejarah sebagai atlet Olimpiade tertua Turki dengan meraih medali perak.
Sebelumnya, Dikec telah menjadi juara nasional beberapa kali dan juara Eropa tujuh kali.
Medali perak di Paris 2024 adalah medali Olimpiade pertamanya dan yang pertama bagi Turki dalam cabang menembak.
Di luar Olimpiade, Dikec memiliki dua gelar Kejuaraan Dunia dari tahun 2014 di nomor pistol pusat 25 meter dan pistol standar 25 meter.
Gaya Unik dan Harapan Masa Depan
Setelah kembali ke Turki dengan sambutan pahlawan, Dikec berbagi pandangannya mengenai gaya uniknya yang membawanya meraih medali Olimpiade pertama.
Dalam wawancaranya dengan Haberturk, Dikec mengungkapkan, "Saat itu, semua orang mengatakan saya terlihat sangat tenang, tetapi sebenarnya ada badai di dalam diri saya," ungkapnya.
Menurut Dikec, posenya saat menembak mewakili semangat Olimpiade dengan sangat baik: fair play, kesederhanaan, kejelasan, dan kealamian.
"Itulah sebabnya mengapa ini mendapat perhatian begitu banyak. Saya tidak pernah membutuhkan peralatan itu. Saya adalah penembak alami," tandasnya.
Dengan pencapaian yang mengesankan, Dikec sudah mempersiapkan diri untuk Olimpiade berikutnya.
"Karena itu saya tidak menggunakan banyak aksesori. Teknik menembak saya adalah salah satu teknik langka di dunia. Saya menembak dengan kedua mata terbuka. Bahkan wasit pun terkejut dengan ini. Saya dan pasangan saya akan meraih emas di Los Angeles 2028," jelasnya.
Di platform X (sebelumnya Twitter), Dikec mengajak Elon Musk membahas soal masa depan olahraga dan teknologi bersama CEO Tesla Elon Musk di negaranya.
"Hai Elon, menurut Anda robot masa depan bisa memenangkan medali di Olimpiade dengan tangan di saku? Bagaimana kalau membahas hal ini di Istanbul, ibu kota budaya yang menyatukan benua? @elonmusk," katanya.(*)
Editor : Heri Sugiarto