Tiga hakim memberikan skor yang jelas memihak Paul: 80-72 dan dua lainnya 79-73. Statistik menunjukkan dominasi Paul, yang mendaratkan 78 pukulan dari 278 percobaan dibandingkan hanya 18 dari 97 milik Tyson.
Usia Tyson yang kini 58 tahun tampak menjadi faktor utama di ring.
Walau sempat mendominasi awal ronde dengan mencoba pukulan knockout, stamina dan mobilitas Paul terbukti terlalu tangguh untuk mantan juara dunia itu.
Momen paling berkesan dalam pertarungan ini mungkin adalah pelukan penuh rasa hormat antara keduanya setelah bel terakhir berbunyi.
Dominasi Paul di Ring
Strategi Paul yang mengandalkan gerakan kaki lincah dan jab konstan berhasil membatasi Tyson.
Beberapa kali Tyson berupaya mendekati Paul untuk melancarkan pukulan jarak dekat, tetapi ketahanan fisiknya tak lagi memadai untuk bersaing dengan petinju muda dalam kondisi prima.
Paul juga menunjukkan kewaspadaan dengan menjaga jarak.
“Saya tahu satu pukulan dari Tyson bisa menyelesaikan pertarungan, jadi saya berhati-hati,” ujar Paul usai duel tinju bersejarah ini.
Pada ronde ketiga, sebuah pukulan keras dari Paul menggoyahkan Tyson, namun legenda tinju tersebut tetap bertahan tanpa pernah terjatuh hingga ronde terakhir.
Tyson Akhiri Karir di Ring?
Mike Tyson menyatakan kepuasannya meski harus menerima kekalahan. “Saya sangat senang. Dia petinju hebat dan sangat siap,” kata legenda tinju yang bisa dipanggil Iron Mike ini.
Ketika ditanya apakah ini akhir karirnya di ring, Tyson menjawab tegas, “Saya rasa tidak.”
Ia juga menepis spekulasi bahwa cedera lututnya memengaruhi performa, dengan mengatakan, “Itu bukan alasan. Jika saya merasa tak mampu, saya tak akan berada di sini.”
Bagi Mike Tyson, pertarungan ini memang menegaskan dedikasinya untuk tetap kompetitif di usia yang tidak muda lagi.
Namun, sejumlah pengamat percaya bahwa inilah waktunya bagi Tyson untuk fokus pada peran di luar ring.
Dalam usia 58 tahun, Tyson telah membuktikan keberaniannya, tetapi ritme cepat pertarungan modern tampaknya bukan lagi wilayah yang ideal baginya.
Dengan kemenangan ini, Jake Paul semakin memperkokoh posisinya di dunia tinju sebagai salah satu bintang terbesar di era modern.
Jake Paul merasa bangga atas kemenangannya melawan ikon tinju.
“Ini persis seperti yang saya bayangkan. Dia adalah salah satu yang terhebat sepanjang masa, ikon, dan legenda,” kata Paul seperti dilansir dari Al Jazeera.
Mengenai keputusan untuk tidak memaksakan kemenangan knockout, ia menambahkan, “Saya takut dia akan menyakiti saya. Saya hanya berusaha menyakitinya.”
Rencana Pertarungan Berikutnya
Ketika ditanya siapa lawan berikutnya, Paul menjawab penuh percaya diri, “Siapa saja yang saya mau. Semua orang ada di daftar saya.”
Namun, ia tidak langsung mengonfirmasi rumor pertarungan melawan petinju Meksiko, Canelo Alvarez.
“Canelo butuh saya, jadi saya tidak akan memanggilnya. Dia yang butuh uang,” kata Paul.(*)
Editor : Heri Sugiarto