Petenis asal Amerika Serikat berusia 21 tahun itu membalikkan keadaan untuk menang 6-7 (5-7), 6-2, 6-4 dalam pertandingan penuh tensi selama tiga set yang menyita perhatian penonton, di Court Philippe-Chatrier.
Ini gelar Grand Slam kedua dalam karier Gauff, dan yang pertama di ajang Roland Garros, setelah sebelumnya menjuarai US Open 2023.
Pertandingan final ini merupakan duel antara dua unggulan teratas. Peristiwa langka di Roland Garros yang terakhir kali terjadi pada 2013 saat Serena Williams mengalahkan Maria Sharapova.
Dalam laga ini, kondisi angin di Paris mempengaruhi permainan kedua petenis, tercatat total 100 unforced errors dan 15 kali break serve terjadi sepanjang pertandingan.
Namun, pertandingan tetap menyuguhkan aksi luar biasa, termasuk pukulan penuh kekuatan, rally dramatis, dan kualitas permainan tingkat tinggi yang membuat penonton terpukau.
Dengan kemenangan ini, Gauff menjadi wanita Amerika pertama yang menjuarai tunggal Roland Garros sejak Serena Williams pada 2015, sekaligus yang termuda dari negaranya sejak Serena juga pada 2002.
“Saya mengalami banyak hal ketika kalah di final tiga tahun lalu, jadi kemenangan ini sangat berarti untuk saya,” ujar Gauff usai laga, mengenang kekalahannya di final Roland Garros 2022 dari Iga Swiatek.
Di sisi lain, Aryna Sabalenka (27 tahun) gagal menambah gelar Grand Slam meski untuk pertama kalinya mencapai final Prancis Terbuka.
Sebelumnya, Sabalenka telah meraih gelar Australia Terbuka pada 2023 dan 2024, serta US Open 2024.
Kemenangan ini sekaligus mempertegas status Coco Gauff sebagai bintang muda tenis wanita dunia dan penerus kejayaan petenis Amerika Serikat di panggung Grand Slam.(*)
Gauff mencerminkan jejak karier Serena Williams di usia muda:
- Memenangi US Open saat remaja.
- Memenangi WTA Finals pada usia 20 tahun.
- Menjuarai Roland Garros saat berusia 21 tahun.