Akan tetapi, ELC belum menjamin pertandingan berjalan lebih adil. Khususnya saat ELC mati seperti saat petenis Rusia Anastasia Pavlyuchenkova menghadapi petenis tuan rumah Sonay Kartal di babak 16 besar pada Minggu (6/7) malam.
Pavlyuchenkova merasa dirugikan saat pukulan backhand Kartal dalam kedudukan 4-4 pada set pertama yang memantul keluar justru dianggap masuk. Tidak ada panggilan ELC yang terdengar saat itu. Wasit Nico Helwerth sempat menghentikan pertandingan beberapa saat. Setelah jeda cukup panjang, dia mengumumkan bahwa ELC dalam kondisi mati.
Akan tetapi, wasit tidak lantas memberikan poin untuk Pavlyuchenkova. Sesuai aturan, poin diulang. Beruntung, meski sempat dirugikan, Pavlyuchenkova masih mampu memenangi pertandingan dengan 7-6 (3), 6-4.
Terkait insiden ELC mati, Pavlyuchenkova menilai wasit seharusnya tegas menyatakan bola keluar daripada memutuskan untuk mengulang poin. ”Dia mungkin takut mengambil keputusan besar seperti itu,” kata petenis kelahiran Samara 34 tahun lalu itu.
”Kalau tidak, aku pikir sebaiknya kami bermain tanpa mereka, dan kemudian semuanya akan jadi otomatis,” sambungnya.
Seiring lolos ke perempat final, Pavlyuchenkova menyamai prestasi terbaiknya di Wimbledon. Dia pernah menembus delapan besar pada 2016. Pavlyuchenkova sudah ditunggu unggulan ke-13, petenis Amerika Serikat berdarah Rusia, Amanda Anisimova. (*)
Editor : Eri Mardinal