Dua gol Mali dicetak oleh Zoumana Ballo (22’) dan Seydou Dembele (33’). Sementara gol Indonesia dicetak Fadly Alberto Hengga (36’).
Pelatih Indonesia U-17 Nova Arianto menegaskan hasil akhir bukan tujuan utama. Menurutnya, uji coba melawan tim sekelas Mali jauh lebih penting. ”Pemain butuh uji coba ini agar terus belajar, berkembang, dan siap menghadapi Piala Dunia U-17,” kata Nova.
Ia menyebut, Mali, Tajikistan, dan Uzbekistan memiliki kualitas 1–2 level di atas Indonesia. ”Saya senang karena kami dapat banyak pelajaran. Dari situ bisa kami evaluasi untuk lebih baik lagi,” ujarnya.
Dari tiga laga, Nova melihat masih banyak hal yang perlu dibenahi. ”Dengan tekanan tinggi, kami cukup kesulitan keluar dari situasi. Tapi justru itu pengalaman berharga bagi pemain,” sebutnya.
Setelah ini, promosi-degradasi akan diterapkan dalam seleksi menuju Piala Dunia U-17. Nova akan membawa pasukan ke training center (TC) di Bulgaria pada 1–14 September.
Di Piala Kemerdekaan, ada empat pemain diaspora yang tampil: Matthew Baker, Noha Pohan, Eizar Jacob, dan Aaron Thomas. Namun tiga nama lain belum bergabung, Nicholas Mjosund, Lucas Lee, dan Michael Rajasa Hoppenbrouwers.
”Direncanakan ada tiga kali uji coba di Bulgaria. Kami harapkan pemain diaspora yang absen bisa hadir, sehingga bisa terlihat apakah komposisi tim ini sudah kuat atau belum,” tutup Nova. (*)
Editor : Eri Mardinal