Keputusan ini dikeluarkan setelah Athletics Integrity Unit (AIU) menolak klaimnya bahwa hasil uji doping positif terjadi karena mengonsumsi obat milik pembantunya setelah mengalami rasa panas dan detak jantung cepat.
Chepgetich mencatat waktu 2 jam 9 menit 56 detik di Maraton Chicago 2024, memecahkan rekor dunia sebelumnya hampir dua menit.
Meskipun prestasinya memukau, beberapa pihak dalam dunia atletik mempertanyakan hasil tersebut. Rekor dunia tetap sah karena uji doping positif terjadi setelah Maraton Chicago, meski ia tidak bisa bertanding lagi hingga 2028.
AIU menyatakan bahwa pelari berusia 31 tahun ini seharusnya tidak menjalankan London Marathon 2025 setelah uji urin pada Maret 2025 menunjukkan kandungan hidroklorotiazid (HCTZ) 3.800 ng/mL, jauh di atas batas legal 20 ng/mL. Diuretik seperti HCTZ dapat disalahgunakan untuk menutupi keberadaan zat terlarang lain.
Dalam wawancara awal dengan AIU pada April, Chepgetich tidak dapat menjelaskan hasil uji positifnya. Pada Juli, AIU menemukan bukti dari telepon selulernya yang menunjukkan kecurigaan wajar bahwa pelanggaran mungkin disengaja.
Beberapa hari kemudian, Chepgetich menulis kepada AIU bahwa ia ingat mengalami sakit dua hari sebelum uji positif, namun lupa menyebutkannya. Ia mengaku mengalami keringat berlebih, kelemahan, dan takikardia, dan meminta obat dari pembantunya yang mengalami gejala serupa. AIU menilai tindakan ini ceroboh dan disengaja.
Ketua AIU, David Howman, menegaskan bahwa kasus ini membuktikan bahwa tidak ada yang di atas aturan. "Tidak ada seorang pun yang kebal aturan. Meskipun mengecewakan bagi mereka yang menaruh kepercayaan pada atlet ini, beginilah seharusnya sistem ini bekerja," tegasnya seperti dilansir dari The Guardian.(*)
Editor : Heri Sugiarto