Kekalahan tersebut membuat tim asuhan Alvaro Arbeloa harus menjalani playoff menghadapi Benfica atau Bodo/Glimt untuk memperebutkan tiket ke babak 16 besar.
Pertandingan di Estádio da Luz berlangsung dengan intensitas tinggi. Benfica menguasai jalannya laga dan memanfaatkan dukungan penuh dari para suporter.
Real Madrid mencoba mengejar ketertinggalan, namun kesulitan mempertahankan ritme permainan hingga menit akhir.
Arbeloa Akui Tim Jauh dari Standar
Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, dalam konferensi pers usai pertandingan menyebut timnya tampil di bawah standar yang dibutuhkan untuk bersaing pada level Liga Champions.
Menurutnya, Real Madrid tidak mampu memenuhi tuntutan permainan maupun atmosfer yang dihadapi di Lisbon.
Arbeloa menjelaskan bahwa ia tidak menyesali pesan-pesan yang disampaikan kepada para pemain sebelum laga. Ia menolak anggapan bahwa kekalahan terjadi karena kurangnya pergerakan pemain depan, dan menilai penyebab kekalahan lebih kompleks.
“Saya rasa kami tidak mampu tampil selama 90 menit pada level yang kami butuhkan. Sebelum datang ke sini kami sudah tahu bahwa kami masih harus banyak bekerja, banyak memperbaiki, dan kami sadar masih banyak yang harus kami lakukan. Untuk memenangkan pertandingan seperti ini, Anda harus melakukan banyak hal dengan baik, bukan hanya satu, dan Anda harus melakukannya selama 90 menit,” ujar Arbeloa.
Kebobolan dari Penjaga Gawang dan Risiko Permainan
Dalam salah satu momen krusial, Real Madrid kebobolan melalui situasi berisiko yang terjadi ketika kedua tim bermain agresif.
Arbeloa menjelaskan bahwa kondisi bermain dengan dua pemain lebih sedikit membuat timnya harus mengambil risiko serupa dengan Benfica. Salah satunya ketika gol diciptakan kiper Benfica Anatoliy Trubin ke gawang Los Blancos di menit akhir laga sehingga skor jadi 4-2.
“Ini bukan pertama kalinya saya kebobolan dari seorang penjaga gawang. Jelas, mereka harus mengambil risiko, kami bermain dengan dua pemain lebih sedikit dan kami juga butuh mencetak gol untuk berada di top 8. Mereka mengambil risiko, kami juga, dan pada akhirnya mereka yang menang,” ungkapnya.
Benfica Tampil Solid, Arbeloa Singgung Mourinho
Arbeloa menegaskan tidak terkejut dengan permainan Benfica yang dilatih Jose Mourinho. Ia sudah mengingatkan tim mengenai tingginya tuntutan pertandingan, kualitas lawan, serta atmosfer yang bakal dihadapi di stadion.
“Saya sangat mengenal level lawan, atmosfer yang akan dihadapi, dan pelatih yang ada di seberang. Saya sudah menyampaikannya kepada para pemain, tetapi jelas saya tidak berhasil menyampaikan apa yang saya inginkan agar mereka lakukan di lapangan,” katanya.
Arbeloa menambahkan bahwa seluruh tanggung jawab ada padanya ketika tim gagal mencapai target. Ia mengulangi pernyataan yang sama seperti usai kekalahan di Albacete, bahwa kegagalan disebabkan ketidaksesuaian dengan rencana pertandingan yang ditetapkan.
“Ketika segalanya tidak berjalan baik, ketika tim tampil jauh dari level yang kami tunjukkan, misalnya di Villarreal, tanggung jawabnya selalu dan sepenuhnya ada pada saya. Dan soal yang lainnya, itu tetap menjadi urusan antara Jose dan saya,” tegasnya.
Keputusan Teknis dan Persiapan Menghadapi Playoff
Arbeloa turut menjelaskan keputusan memainkan Cestero dan tidak menurunkan Ceballos. Ia menyebut keputusan itu murni teknis untuk menghindari risiko kartu merah karena beberapa pemain sudah mengantongi kartu.
Pelatih Real Madrid tersebut juga menyoroti kurangnya aspek-aspek penting dalam permainan tim. Selain intensitas, Madrid disebut tidak cukup kuat menghadapi Benfica yang tampil efektif dalam bertahan maupun menyerang.
Meski demikian, peluang Real Madrid belum tertutup. Tim masih memiliki dua laga tersisa untuk memastikan tempat di babak berikutnya melalui jalur playoff.
“Bukan berarti kami sudah tersingkir dari Liga Champions. Kami masih memiliki dua pertandingan di depan, dan kami akan menghadapinya dengan tujuan untuk lolos ke babak berikutnya,” tutup Arbeloa.(*)
Editor : Heri Sugiarto