PADEK.JAWAPOS.COM – Timnas Brasil akan menghadapi ujian sejak fase grup Piala Dunia 2026 saat tergabung bersama Maroko, Skotlandia, dan Haiti. Selecao yang memburu gelar juara dunia keenam berharap mampu mengakhiri penantian selama 24 tahun sejak terakhir kali mengangkat trofi pada 2002.
Brasil menjadi negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia dengan lima gelar juara. Selecao juga menjadi satu-satunya tim yang selalu tampil di setiap edisi Piala Dunia sejak turnamen pertama digelar.
Turnamen kali ini menjadi tantangan baru bagi pelatih Carlo Ancelotti yang ditunjuk untuk membawa Brasil kembali ke puncak sepak bola dunia.
Dalam beberapa edisi terakhir, Brasil kerap gagal melangkah jauh setelah menghadapi lawan-lawan kuat dari Eropa pada fase gugur.
Dalam lima edisi Piala Dunia terakhir, Brasil hanya sekali mencapai semifinal, yakni pada 2014. Pada empat turnamen lainnya, langkah mereka terhenti sebelum menembus empat besar.
Persiapan Brasil menuju Piala Dunia 2026 juga diwarnai perhatian terhadap masuknya Neymar ke dalam skuad. Penyerang berusia 34 tahun itu akan tampil pada Piala Dunia keempat sepanjang kariernya meski tidak memperkuat tim nasional dalam tiga tahun terakhir.
Carlo Ancelotti Andalkan Kekuatan Pertahanan
Meski Neymar masuk dalam skuad, peran utamanya di lapangan diperkirakan tidak sebesar pada turnamen-turnamen sebelumnya.
Fokus utama Carlo Ancelotti adalah memaksimalkan potensi tim yang dinilai memiliki keseimbangan berbeda dibanding generasi Brasil terdahulu.
Brasil memiliki lini pertahanan yang kuat dengan kiper Alisson Becker serta dua bek tengah, Gabriel Magalhaes dan Marquinhos. Fondasi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Selecao menuju turnamen.
Di lini serang, Vinicius Junior diprediksi menjadi sosok penting. Ancelotti pernah bekerja sama dengan pemain tersebut di Real Madrid dan berhasil mengeluarkan performa terbaiknya.
Namun, perjalanan Brasil menuju Piala Dunia tidak sepenuhnya mulus. Dalam kualifikasi, mereka menelan enam kekalahan dari 18 pertandingan. Setelah Ancelotti mengambil alih tim, Brasil juga kalah dalam laga persahabatan melawan Jepang dan Prancis.
Maroko Siap Menguji Brasil
Laga melawan Maroko diperkirakan menjadi tantangan terbesar Brasil pada fase grup.
Maroko datang dengan status semifinalis Piala Dunia 2022 setelah mencatat sejarah sebagai tim Afrika pertama yang mencapai empat besar. Dalam perjalanan menuju semifinal, Atlas Lions menyingkirkan Spanyol dan Portugal.
Meski demikian, Maroko juga mengalami perubahan menjelang turnamen. Pelatih Walid Regragui yang membawa negaranya mencetak sejarah di Qatar meninggalkan jabatannya pada Maret dan digantikan Mohamed Ouahbi.
Skotlandia Kembali ke Panggung Dunia
Skotlandia akan tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 28 tahun.
Tim asuhan Steve Clarke berharap mampu mencatat sejarah baru dengan lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya. Skuad mereka diperkuat sejumlah pemain berpengalaman seperti Andy Robertson, John McGinn, dan Scott McTominay.
Skotlandia akan mengawali turnamen dengan menghadapi Haiti, sebuah laga yang dinilai penting untuk membuka peluang lolos dari fase grup.
Haiti Incar Poin Pertama
Haiti kembali tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974.
Negara Karibia yang menempati peringkat ke-83 dunia itu datang dengan target meraih poin pertama sepanjang sejarah partisipasi mereka di ajang Piala Dunia.
Meski menjadi tim yang paling tidak diunggulkan di grup, Haiti bertekad memberikan perlawanan kepada lawan-lawannya yang memiliki sumber daya dan pengalaman lebih besar.(*)
Fakta Grup C Piala Dunia 2026
• Brasil memburu gelar juara dunia pertama sejak 2002
• Brasil merupakan pemegang rekor lima gelar juara Piala Dunia
• Selecao menjadi satu-satunya tim yang selalu tampil di setiap edisi Piala Dunia
• Neymar masuk skuad meski tidak memperkuat tim nasional dalam tiga tahun terakhir
• Maroko merupakan semifinalis Piala Dunia 2022
• Skotlandia kembali ke Piala Dunia setelah absen selama 28 tahun
• Haiti tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974
• Grup C dihuni Brasil, Maroko, Skotlandia, dan Haiti.
Editor : Heri Sugiarto