Andrea Pirlo Terhambat Jadi Pelatih Timnas Italia, Maldini dan Leonardo Bisa Mundur

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 08:36 WIB
Andrea Pirlo memberikan pernyataan melalui media sosialnya terkait polemik pencalonannya sebagai pelatih Timnas Italia di tengah kontroversi kerja sama dengan perusahaan Rusia.(Foto: Instagram @andreapirlo21)
Andrea Pirlo memberikan pernyataan melalui media sosialnya terkait polemik pencalonannya sebagai pelatih Timnas Italia di tengah kontroversi kerja sama dengan perusahaan Rusia.(Foto: Instagram @andreapirlo21)

PADEK.JAWAPOS.COM – Proses penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih kepala tim nasional Italia dilaporkan telah dihentikan setelah memicu polemik terkait kerja sama komersialnya dengan perusahaan taruhan olahraga asal Rusia.

Menurut laporan Reuters dan Sky Sport Italia, mantan gelandang timnas Italia itu sebelumnya menjadi kandidat terdepan untuk menggantikan Gennaro Gattuso setelah mantan pelatih Manchester City, Pep Guardiola, dilaporkan menolak tawaran menangani Gli Azzurri.

Namun, hubungan Pirlo sebagai duta global Fonbet, perusahaan taruhan olahraga asal Rusia, memicu penolakan dari sejumlah politisi Italia.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menolak memberikan komentar resmi. Meski demikian, sumber yang mengetahui proses tersebut menyebut hubungan Pirlo dengan Rusia masih dievaluasi dan persoalan itu belum dianggap selesai.

Sky Sport Italia kemudian melaporkan bahwa seluruh proses yang berkaitan dengan penunjukan Pirlo telah dihentikan. Pertemuan yang semula dijadwalkan berlangsung di Roma pada Senin (27/7/2026) untuk menyelesaikan pemutusan kontraknya dengan United FC sekaligus penandatanganan kontrak bersama FIGC juga dibatalkan.

Pirlo saat ini masih berstatus pelatih klub Liga Uni Emirat Arab, United FC.

Polemik bermula setelah Pirlo diketahui telah menandatangani kontrak sebagai duta Fonbet pada Oktober lalu.

Sorotan terhadap dirinya meningkat setelah tampil bersama mantan rekan setimnya di timnas Italia, Marco Materazzi, dalam acara promosi Fonbet di Stadion Luzhniki, Moskow. Kehadiran mereka menuai kritik karena berlangsung bertepatan dengan serangan udara yang terjadi di Ukraina.

Menanggapi polemik tersebut, Pirlo memberikan klarifikasi melalui akun media sosial pribadinya.

Ia mengaku sedih melihat perdebatan yang berkembang mengenai pencalonannya sebagai pelatih tim nasional Italia.

"Saya menyaksikan dengan sangat sedih perdebatan mengenai nama saya sebagai calon pelatih tim nasional," tulis Pirlo.

Mantan pemain AC Milan, Juventus, dan timnas Italia itu menegaskan bahwa sepanjang kariernya ia selalu bekerja dengan menghormati hukum di setiap negara tempatnya berkarier serta mematuhi seluruh kontrak yang telah ditandatangani.

Pirlo juga membantah anggapan bahwa kerja sama profesionalnya memiliki makna politik.

Menurutnya, hubungan tersebut semata-mata bersifat komersial dan olahraga.

"Kerja sama profesional yang menjadi objek polemik belakangan ini semata-mata bersifat komersial dan olahraga. Memberikan makna politik terhadap kerja sama itu sama saja dengan mengaitkan saya dengan keyakinan yang tidak pernah saya ungkapkan dan tidak pernah menjadi bagian dari diri saya," tegasnya.

Dalam pernyataan yang sama, Pirlo turut menyampaikan terima kasih kepada Paolo Maldini dan Leonardo atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

"Cinta saya kepada Italia tidak bergantung pada sebuah jabatan. Itu adalah cerita saya, identitas saya, dan akan terus menemani saya," tulis Pirlo.

Kontroversi tersebut menjadi tantangan awal bagi Presiden FIGC Giovanni Malagò, yang baru memimpin restrukturisasi sepak bola Italia setelah tim nasional gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Meski Pirlo mendapat dukungan dari Direktur Teknik FIGC Paolo Maldini, keberatan muncul dari sejumlah politisi Italia.

Wakil Presiden Parlemen Eropa Pina Picierno menilai sepak bola Italia membutuhkan perubahan besar setelah kembali gagal lolos ke Piala Dunia.

"Setelah kekalahan demi kekalahan dan kembali gagal lolos ke Piala Dunia, sepak bola Italia membutuhkan revolusi budaya, etika, dan manajerial. Memilih Andrea Pirlo justru bergerak ke arah yang berlawanan," tulis Picierno melalui media sosial.

Ketua Senat Italia Ignazio La Russa juga mengaku ragu terhadap kemungkinan penunjukan Pirlo.

La Russa mengatakan Pirlo merupakan pemain hebat, tetapi menganggap penunjukannya sebagai pelatih timnas merupakan keputusan yang penuh risiko.

Rapat Dewan Federal Jadi Penentu

Perhatian kini beralih ke rapat Dewan Federal FIGC yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (28/7/2026).

Semula, rapat tersebut diharapkan menjadi momentum penetapan pelatih baru tim nasional Italia. Namun, setelah proses penunjukan Pirlo dilaporkan dihentikan, arah pembahasan diperkirakan berubah.

Masih belum diketahui apakah Paolo Maldini dan Leonardo bersedia mengajukan kandidat lain sebagai pelatih.

Apabila keduanya tetap melanjutkan proses pencarian pelatih, kandidat tersebut diperkirakan bukan berasal dari nama-nama yang sebelumnya telah dikaitkan dengan timnas Italia, seperti Roberto Mancini maupun Antonio Conte.

Laporan tersebut menyebut bahwa setelah Pep Guardiola menolak tawaran melatih Italia, Maldini dan Leonardo menyusun proyek jangka panjang dengan pelatih yang dinilai dapat berkembang bersama tim nasional. Dalam konsep tersebut, Andrea Pirlo menjadi sosok yang dianggap paling sesuai.

Apabila FIGC akhirnya menunjuk pelatih yang tidak sejalan dengan proyek tersebut, Maldini dan Leonardo berpotensi mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari jabatan mereka.

Pasalnya, Maldini sebelumnya menegaskan bahwa otoritas penuh dalam memilih pelatih kepala merupakan syarat mutlak yang ia ajukan saat menerima jabatan sebagai Direktur Teknik FIGC.

Hingga berita ini ditulis, FIGC belum mengumumkan keputusan resmi mengenai calon pelatih baru tim nasional Italia maupun masa depan Paolo Maldini dan Leonardo. Seluruh perkembangan tersebut masih menunggu hasil rapat Dewan Federal. (*)

Editor : Heri Sugiarto
Andrea Pirlo kontroversi Rusia figc paolo maldini timnas italia