PADEK.JAWAPOS.COM – Rencana Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menjual sebagian saham anak usaha komersial baru bernilai sekitar US$20 miliar memicu gelombang kritik dari sejumlah konfederasi dan federasi sepak bola dunia. Mereka menilai proposal tersebut disusun tanpa konsultasi yang memadai dengan para pemangku kepentingan sebelum diumumkan kepada publik.
Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia (CONCACAF) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyatakan baru mengetahui rencana tersebut melalui pemberitaan media dan siaran pers FIFA, bukan melalui pemberitahuan resmi dari organisasi.
FIFA sebelumnya mengumumkan pembentukan anak usaha baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola hak komersial berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Entitas tersebut akan menangani hak siar, sponsor, tiket, lisensi, serta operasional turnamen.
Dalam proposalnya, FIFA tetap menjadi pemegang kendali FFE, tetapi menawarkan hingga 20 persen saham minoritas kepada investor swasta dengan target menghimpun dana sekitar US$4,2 miliar.
FIFA menegaskan investor tidak akan memiliki peran operasional maupun kewenangan dalam tata kelola sepak bola, sementara FIFA tetap memegang otoritas penuh atas kompetisi, kalender pertandingan internasional, serta seluruh keputusan regulasi dan olahraga.
CONCACAF Soroti Tata Kelola
CONCACAF menyampaikan kekecewaan terhadap proses penyusunan proposal yang dinilai tidak memenuhi prinsip tata kelola organisasi.
Dalam pernyataan resminya, CONCACAF menegaskan hanya mengetahui rencana tersebut melalui laporan media dan siaran pers FIFA.
Menurut organisasi tersebut, keputusan yang berpotensi mengubah masa depan komersial sepak bola seharusnya terlebih dahulu dibahas bersama konfederasi dan asosiasi anggota sebelum diumumkan kepada publik.
CONCACAF juga mengingatkan bahwa FIFA, konfederasi regional, dan seluruh federasi anggota memiliki tanggung jawab sebagai penjaga kepentingan sepak bola dunia. Karena itu, setiap keputusan harus berlandaskan tata kelola yang baik, proses yang transparan, serta kepentingan jangka panjang olahraga tersebut.
AFC Minta Konsultasi Menyeluruh
AFC menyampaikan keberatan serupa. Meski mengakui pentingnya mencari pendekatan baru untuk memperkuat masa depan bisnis sepak bola global, AFC menilai proposal sebesar itu harus didahului konsultasi yang menyeluruh.
Menurut AFC, seluruh pemangku kepentingan perlu memperoleh informasi yang memadai dan waktu yang cukup untuk mengevaluasi implikasi tata kelola, hukum, komersial, serta strategi sebelum proposal diputuskan.
AFC saat ini memiliki 47 asosiasi anggota, sedangkan CONCACAF menaungi 41 anggota. Bersama 55 anggota UEFA, ketiga konfederasi tersebut mewakili 143 dari total 211 asosiasi anggota FIFA.
FIFA Sebut untuk Pengembangan Sepak Bola
Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan pembentukan FIFA Forward Enterprise bertujuan memperkuat pengembangan sepak bola secara berkelanjutan di seluruh dunia.
Melalui skema FIFA Fast Forward Programme (FFFP), setiap asosiasi anggota FIFA berpeluang memperoleh pendanaan modal satu kali hingga US$20 juta apabila proposal disetujui. FIFA juga menargetkan total pendanaan pengembangan sepak bola global dapat melampaui US$10 miliar.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menegaskan pembentukan FFE baru akan dilaksanakan apabila memperoleh dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota serta persetujuan pembaruan regulasi oleh Dewan FIFA.
"Bagian dari olahraga ini telah mengubah popularitas menjadi nilai komersial yang luar biasa. Tugas kami adalah memastikan seluruh aspek sepak bola tumbuh bersamanya," ujar Gianni Infantino.
Federasi Prancis dan Inggris Ikut Bereaksi
Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), Philippe Diallo, mengatakan organisasinya tidak menerima informasi sebelumnya mengenai proposal tersebut.
Menurut Diallo, masuknya investor swasta ke dalam entitas komersial FIFA memunculkan berbagai pertanyaan mengenai masa depan tata kelola sepak bola dunia.
Sementara itu, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) menyatakan belum memperoleh rincian substansial mengenai proposal tersebut. FA mengaku prihatin terhadap minimnya proses konsultasi dan transparansi serta menyatakan akan menyampaikan sikap resminya setelah menerima penjelasan lengkap dari FIFA.
UEFA Tolak Keras Proposal FIFA
UEFA menjadi pihak yang paling vokal menentang proposal tersebut.
Dalam pernyataan resminya, UEFA menyebut langkah FIFA telah "melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga pengelola sepak bola". UEFA menilai tata kelola dan "jiwa sepak bola" bukan merupakan aset yang dapat diperjualbelikan.
"Tak seorang pun dari kita adalah pemilik sepak bola. Ini bukan milik FIFA untuk dijual," demikian pernyataan UEFA.
UEFA juga dilaporkan akan menggelar pertemuan dengan 55 asosiasi anggotanya untuk membahas respons terhadap proposal FIFA. Berbagai opsi disebut akan menjadi bahan pembahasan, namun hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai langkah lanjutan yang akan diambil.
Uni Eropa Soroti Potensi Konflik Kepentingan
Komisaris Olahraga Uni Eropa Glenn Micallef turut menyampaikan kekhawatiran terhadap masuknya investor swasta ke dalam entitas komersial FIFA.
Menurutnya, apabila nilai investasi bergantung pada keputusan yang diambil FIFA, kondisi tersebut berpotensi memunculkan persoalan tata kelola dan konflik kepentingan yang perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan sepak bola dunia.
Menunggu Persetujuan Asosiasi Anggota
Proposal FIFA kini memasuki tahap konsultasi dengan seluruh asosiasi anggota.
Dalam surat kepada 211 asosiasi anggota, FIFA menetapkan tenggat hingga 19 September 2026 untuk memberikan persetujuan terhadap proposal tersebut. Apabila memperoleh dukungan mayoritas, program pendanaan baru melalui FIFA Forward Enterprise ditargetkan mulai berjalan pada 1 Januari 2027.
Perdebatan mengenai proposal ini diperkirakan masih akan berlanjut karena menyangkut model bisnis, tata kelola, serta masa depan pengelolaan komersial sepak bola internasional.(*)
Editor : Heri Sugiarto