PADEK.JAWAPOS.COM — Emansipasi perempuan menjadi pesan utama yang dibawa tim dance SMA Don Bosco Pendamping Putri dalam penampilannya di AQUA DBL Dance Competition 2026, Selasa (11/8/2026).
Melalui koreografi yang ditampilkan, tim mengangkat kehidupan remaja putri dalam menghadapi berbagai bentuk tekanan dan keterbatasan, sekaligus menyampaikan pesan tentang keberanian untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan potensi.
Pelatih tim dance SMA Don Bosco Pendamping Putri, Ayeq, mengatakan emansipasi dalam konsep yang mereka bawakan dimaknai sebagai proses pembebasan diri dari berbagai bentuk keterikatan, keterpaksaan, dan kekangan.
“Emansipasi itu adalah proses pembebasan diri dari segala keterikatan, keterpaksaan, dan kekangan,” kata Ayeq.
Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan remaja putri sehari-hari.
Menurut Ayeq, tekanan dapat datang dari berbagai lingkungan, termasuk keluarga dan sekolah.
“Remaja putri sering juga mendapatkan keterpaksaan dan tekanan, baik dari pihak eksternal seperti keluarga ataupun sekolah,” ujarnya.
Persoalan tersebut juga dikaitkan dengan dunia dance. Ayeq mengatakan masih terdapat pandangan yang menganggap dance sebagai aktivitas yang kurang penting. Kondisi itu, menurutnya, dapat membuat sebagian remaja kurang leluasa mengembangkan potensi dan mengejar prestasi di bidang tersebut.
“Terutama sekali di bidang dance. Kadang orang sering memandang sebelah mata dance itu seperti apa. Jadi mereka sedikit tidak bebas untuk mengekspresikan diri mereka,” jelasnya.
Angkat Emansipasi di Kehidupan Remaja
Persoalan tersebut kemudian dituangkan tim dance SMA Don Bosco Pendamping Putri melalui koreografi. Penampilan mereka menggambarkan perjuangan remaja putri menghadapi tekanan sekaligus upaya mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan potensi.
Ayeq menyebut perjuangan emansipasi perempuan telah berlangsung sejak masa lalu, salah satunya melalui sosok R.A. Kartini.
Namun, menurutnya, persoalan emansipasi masih memiliki tantangan pada masa sekarang.
“Walaupun Ibu Kartini sempat memperjuangkan emansipasi ini, namun tidak bisa kita pungkiri di saat sekarang ini tetap ada polemik dari problem emansipasi,” katanya.
Melalui cerita tersebut, tim ingin mengajak remaja putri memahami makna emansipasi dalam kehidupan mereka.
Emansipasi tidak hanya dipandang sebagai bagian dari sejarah perjuangan perempuan, tetapi juga keberanian untuk menentukan pilihan dan mengembangkan potensi.
“Kami ingin mengangkat cerita tersebut, bagaimana kehidupan mereka sehari-hari tentang emansipasi dan bagaimana mereka bisa memaknai emansipasi tersebut ke dalam karakter diri mereka,” ungkap Ayeq.
Menurut Ayeq, nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para remaja putri dalam menghadapi kehidupan di masa mendatang.
Mereka diharapkan dapat tumbuh menjadi perempuan yang percaya diri, kuat, dan tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan.
Ayeq berharap penampilan timnya dapat menyampaikan pesan bahwa perempuan memiliki ruang untuk berkembang dan berprestasi sesuai dengan kemampuan serta bidang yang diminati.
“Sehingga bisa menjadi bekal mereka nantinya ke depannya dan menjadi wanita yang tangguh, wanita yang kuat, sekuat Srikandi,” pungkasnya. (yud)
Editor : Heri Sugiarto