PADEK.JAWAPOS.COM — Derbi Smansa tersaji dalam ajang Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Sumatera yang mempertemukan SMAN 1 Solok dan SMAN 1 Bukittinggi, Kamis (13/8/2026). SMAN 1 Solok berhasil mengamankan kemenangan dengan skor 31-15.
Meski meraih kemenangan, Asisten Pelatih SMAN 1 Solok Muhammad Faraz mengatakan timnya masih memiliki sejumlah catatan yang harus segera dievaluasi.
Sektor pertahanan dinilainya belum rapi, sementara permainan menyerang masih terlalu terburu-buru.
“Dari permainan tadi masih banyak yang kurang. Defense masih kurang rapi, offense juga masih terburu-buru dan masih kurang tenang. Masih ada tekanan sendiri pada anak-anak,” ujar Faraz.
SMAN 1 Solok Soroti Konsistensi Permainan
Selain pertahanan dan permainan menyerang, kesinambungan permainan juga menjadi perhatian tim pelatih.
Faraz menilai permainan anak asuhnya belum berjalan secara konsisten dan belum sepenuhnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
“Masih belum continuous permainannya, belum berjalan sesuai dengan apa yang mereka punya,” katanya.
Dari komposisi pemain, SMAN 1 Solok juga dihuni cukup banyak pemain baru. Faraz menyebut sekitar tujuh pemain merupakan pemain baru, sedangkan tiga pemain lainnya duduk di kelas XII.
Kondisi tersebut membuat tim harus membangun chemistry dan pola permainan. Proses itu menjadi salah satu tantangan SMAN 1 Solok pada kompetisi tahun ini.
Meski demikian, kemenangan 31-15 atas SMAN 1 Bukittinggi menjadi hasil positif bagi SMAN 1 Solok dalam perjalanan Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Sumatera.
Mayoritas Pemain SMAN 1 Bukittinggi Kelas X
Sementara itu, laga derbi tersebut menjadi pengalaman berharga bagi SMAN 1 Bukittinggi yang mayoritas pemainnya masih duduk di kelas X.
Pelatih SMAN 1 Bukittinggi Ade Febrinanda mengatakan sekitar 80 persen komposisi timnya merupakan pemain kelas X.
“Sekitar 80 persen timnya masih kelas 1. Jadi ini memang menjadi pengalaman pertama bagi mereka,” kata Ade.
Menurut Ade, dari sisi fundamental, para pemain telah memiliki kemampuan yang cukup. Namun, proses transisi dari jenjang SMP ke SMA membuat aspek mental masih menjadi pekerjaan rumah.
Mental Jadi Catatan SMAN 1 Bukittinggi
Ade mengatakan kondisi tersebut terlihat ketika timnya tertinggal pada awal pertandingan.
Memasuki kuarter kedua dan ketiga, SMAN 1 Bukittinggi mulai mampu mengejar ketertinggalan, tetapi konsistensi mental belum terjaga.
“Ketika dia menghasilkan poin, mentalnya naik. Ketika orang masukin poin, dia tidak menerima, jadi mentalnya langsung down,” ujarnya.
Menurutnya, para pemain membutuhkan tambahan jam terbang agar mental bertanding semakin matang.
“Ini persoalan mental, jadi mungkin jam terbangnya lagi ditambah banyak,” katanya.
Ade berharap para pemain dapat meningkatkan mental bertanding untuk musim berikutnya. Ia menilai fundamental tim sudah cukup sehingga peningkatan mental menjadi salah satu fokus utama.
“Untuk tahun depan mungkin meningkatkan mental anak-anak lagi. Dari fundamental sudah cukup semuanya, tapi mentalnya yang perlu ditingkatkan,” tuturnya. (yud)
Editor : Heri Sugiarto