PADEK.JAWAPOS.COM — Persebaya memasuki musim baru dengan visi membangun klub yang lebih kuat melalui penguatan fondasi, pembinaan pemain muda, pengembangan tim kepelatihan dan sports science, serta sinergi bersama Bonek, partner, dan Pemerintah Kota Surabaya.
Hal tersebut disampaikan CEO Persebaya Azrul Ananda dalam Launching Synergy Persebaya di halaman Balai Kota Surabaya, Sabtu (29/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Persebaya tidak hanya memperkenalkan skuad yang akan berlaga di Super League 2026/2027. Azrul juga memaparkan strategi klub dalam membangun kekuatan jangka panjang.
Menurut Azrul, kekuatan klub profesional tidak cukup diukur melalui market value pemain. Ia mengibaratkan market value sebagai bagian permukaan dari sebuah gunung es, sementara nilai yang lebih besar berada di balik proses pembinaan dan pengembangan pemain.
“Bicara market value, Persebaya mungkin tak akan menjadi yang tertinggi. Sebab Persebaya selama ini fokus pada pembinaan pemain-pemain muda. Secara market value, angka mereka (pemain muda) tidak besar atau mungkin angkanya belum muncul. Tapi ada value yang besar di balik proses membawa mereka dari junior ke level yang lebih tinggi,” jelas Azrul.
Investasi Persebaya, lanjutnya, tidak hanya diarahkan untuk mendatangkan pemain.
Klub berinvestasi dalam pembinaan pemain muda, tim kepelatihan, infrastruktur sports science, sistem scouting, departemen analis, serta berbagai aspek yang mendukung performa tim.
Dalam urusan tim kepelatihan, Persebaya bahkan telah menjajaki komunikasi dengan Bernardo Tavares sejak tiga tahun sebelumnya. Namun, karena Tavares ketika itu masih terikat kontrak dengan klub lamanya, rencana tersebut baru dapat direalisasikan pada pertengahan musim lalu.
Persebaya dan Bonek Tekan Potensi Kerugian
Azrul juga menekankan pentingnya sinergi dengan Bonek sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Persebaya.
Klub ingin hubungan dengan suporter tidak hanya menghasilkan dukungan di stadion, tetapi juga melahirkan lebih banyak kegiatan positif sekaligus mengurangi berbagai tindakan yang berpotensi merugikan klub dan Kota Surabaya.
Dalam sembilan tahun terakhir, berbagai kejadian yang merugikan disebut telah menimbulkan dampak finansial sekitar Rp20 miliar. Nilai tersebut berasal dari denda, kehilangan pendapatan akibat pertandingan tanpa penonton atau laga usiran, hingga biaya perbaikan kerusakan stadion dan Persebaya Store.
“Bonek adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Persebaya. Karena itu, yang ingin kami bangun bukan sekadar hubungan antara klub dan suporter, tetapi bagaimana kita bersama-sama memperbanyak kebaikan dan menghilangkan hal-hal yang merugikan Persebaya dan Surabaya,” kata Azrul.
Ia mencontohkan pelanggaran penyalaan flare di pertandingan. Denda paling kecil dari pelanggaran tersebut disebut mencapai sekitar Rp50 juta.
Menurut Azrul, nominal tersebut sebenarnya dapat dialihkan untuk kegiatan yang lebih positif. Bahkan, Rp50 juta disebut setara dengan biaya operasional selama sekitar empat bulan bagi Bonek Panti, dengan kebutuhan operasional sekitar Rp13 juta per bulan.
Di sisi lain, pendapatan tiket juga bukan satu-satunya sumber pemasukan klub. Dalam sepak bola profesional Indonesia, pendapatan tiket disebut rata-rata hanya mampu menutupi sekitar 15 persen dari total biaya operasional tim dalam satu musim.
Partner Persebaya Tak Sekadar Logo
Persebaya juga terus memperkuat hubungan dengan sponsor dan partner. Menurut Azrul, keberlanjutan kerja sama dari musim ke musim menjadi salah satu indikator kepercayaan terhadap manajemen klub dalam mengelola kemitraan.
Ia menegaskan, kerja sama tersebut tidak berhenti pada pemasangan logo di jersey ataupun konten digital.
“Bagi kami, partner bukan sekadar logo yang ditempel di jersey atau muncul di konten digital. Kami ingin partner benar-benar menjadi bagian dari ekosistem Persebaya,” ujarnya.
Persebaya, kata Azrul, mendorong aktivasi yang dapat bersentuhan langsung dengan Bonek dan masyarakat Surabaya melalui berbagai kegiatan positif.
Dalam mengarungi Super League 2026/2027, Persebaya didukung sejumlah partner. Kapal Api menjadi main partner. Sementara official partner terdiri dari Indomie, Extra Joss, Antangin, MPM Honda, Citicon, Bale by BTN, Implora, dan AZA.
Selain itu, terdapat supporting partner, yakni Nusaboard, Hope Physioterapy, Mayapada Hospital, Nusanet, dan Nikon.
Persebaya Perluas Sinergi dengan Pemko Surabaya
Semangat membangun sinergi juga diperluas melalui hubungan Persebaya dengan Pemerintah Kota Surabaya dan jajaran Muspida.
Hubungan tersebut diarahkan tidak hanya pada pertandingan sepak bola, tetapi juga pemanfaatan sarana olahraga di Surabaya serta keterlibatan Persebaya sebagai amplifier berbagai kampanye program Pemerintah Kota Surabaya.
“Persebaya adalah bagian dari Surabaya. Karena itu, kami ingin hubungan dengan Pemerintah Kota Surabaya bukan hanya terjadi ketika Persebaya bertanding. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan bersama untuk kota ini,” kata Azrul.
Persebaya sebelumnya telah terlibat dalam sejumlah kampanye dan program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, termasuk pembayaran parkir digital, pengelolaan sampah, serta kampanye pencegahan bencana.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengapresiasi kolaborasi yang telah dilakukan Persebaya dan Bonek.
Menurutnya, berbagai hal positif mengenai Surabaya dapat disampaikan melalui Persebaya dan Bonek.
“Terima kasih untuk Mas Azrul (Azrul Ananda), semua manajemen Persebaya dan tentunya Bonek dan Bonita. Semoga langkah baik yang kita lakukan ini bisa mewujudkan apa yang kita harapkan bersama, yakni Persebaya juara,” ujar Eri.
Azrul menegaskan, tujuan akhir Persebaya tetap meraih gelar juara. Namun, target tersebut membutuhkan fondasi dan dukungan dari berbagai pihak.
“Tujuan akhirnya tentu kami ingin menjadi juara. Tetapi untuk menuju ke sana, kami membutuhkan tim yang kuat, sistem yang kuat, Bonek yang terus mendukung dengan cara yang positif, partner yang percaya kepada kami, serta sinergi yang baik dengan Pemerintah Kota Surabaya,” katanya.
“Sinergi inilah yang kami percaya akan membawa Persebaya menuju 100th Glory,” pungkas Azrul.(*)
Editor : Heri Sugiarto